MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

Cemara Kecil

Nama Lain :
Propinsi : JAWA TENGAH
Kabupaten : KABUPATEN JEPARA
Kecamatan :
Koordinat : 110°22’43” - 110°22’45” BT dan 5°49’49” - 5°49’54” LS

Gambaran Umum

Gambaran Umum

Pulau Cemara Kecil merupakan salah satu pulau yang menjadi daya tarik wisata di Taman Nasional Karimunjawa. Pulau Cemara Kecil memiliki laus wilayah sebesar 1,5 Ha atau 0,015 Km2. Daya tarik Pulau Cemar Kecil ada pada keadaan pantainya yang berpasir putih. Banyak wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang datang untuk melakukan kegiatan snorkling maupun hanya menikmati indahnya panorama Pulau Cemara Kecil. Keadaan Pulau Cemara Kecil sendiri terdiri dari daerah tanah berpasir seluas 0,0015 Km2, Mangrove 0,0042 Km2, Pepohonan 0,0019 Km2, Tanah lapang dan Semak 0,0073 Km2.

Sejarah Nama Pulau

Perkiraan sejarah nama Pulau Cemara Kecil disebabkan karena sebagian besar vegetasi yang menutupi pulau tersebut adalah pohon cemara. Hal ini didukung dengan data hasil survey lapangan dan analisa spasial dengan menggunakan citra satelit kondisi di pulau tersebut didominasi oleh pohon cemara. Sama halnya dengan Pulau Cemara Kecil sejarah nama Pulau Cemara Besar diperkirakan sama hanya saja dibedakan oleh luas pulau.

Letak Geografis, Administratif dan Batas Wilayah

Pulau Cemara Kecil terletak pada 110°22’43” - 110°22’45” BT dan 5°49’49” - 5°49’54” LS. Pulau Cemara Kecil memiliki luas wilayah hanya 1,5 Ha dan tidak berpenduduk. Pulau Cemara Kecil hanya dijadikan salah satu lokasi tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menikmati keindahan pantai dan biota lautnya. Batas wiayah Pulau Cemara Kecil diantaranya adalah :

Sebelah Timur         : Laut Jawa

Sebelah Selatan       : Laut Jawa

Sebelah Barat          : Laut Jawa

Sebelah Utara         : Laut Jawa

Aksesibibitas / Kemudahan Transportasi

Sebagai lokasi tujuan wisata dengan panorama darat dan pantainya yang indah, Pulau Cemara Kecil sangat ditunjang dengan adanya perahu wisata yang berasal dari Pulau Karimunjawa sebagai alat transportasi wisata untuk para pengunjung. Perahu wisata ini hanya memerlukan waktu selama 30 menit untuk mencapai Pulau Cemara Kecil karena hanya berjarak 2 mil laut dari Pulau Karimunjawa.

Wisatawan sudah sangat mengenal Pulau Cemara Kecil, hal ini ditunjukkan pada saat tim melakukan survey lapangan banyak wisatawan lokal maupun asing yang sedang berwisata di Pulau Cemara Kecil ini.

Status Kawasan

Kawasan Pulau Cemara Kecil merupakan sebuah pulau yang dikelilingi oleh laut yang berada di Laut Jawa dan berada di Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Luas pulau Cemara Kecil sendiri sebesar 1,5 Ha. Pulau Cemara Kecil masih dalam kawasan Taman Nasional Karimunjawa yang termasuk zona pemanfatan pariwisata, zona perlindungan bahari, dan zona rehabilitasi

Status Kepemilikan Pulau

Status kepemilikan pulau Cemara Kecil dimiliki oleh negara yang dikelola oleh pemerintah daerah. Pulau Cemara Kecil termasuk dalam wilayah Balai Taman Nasional Karimunjawa. Dimana Pulau tersebut digunakan untuk pariwisata dan perlindungan bahari.

Klimatologi

Kondisi iklim di Pulau Cemara Kecil tidak berbeda dengan wilayah Kepulauan Karimunjawa Lainnya yakni beriklim tropis dipengaruhi oleh angin laut yang bertiup sepanjang hari dengan suhu rata-rata 26° – 30°C, dimana suhu minimum 22°C dan suhu maksimal 34°C. Kelembaban nisbi antara 70 s.d 85% dan tekanan udara berkisar pada 1.012 mb (anonim, 1989). Memiliki 2 musim yang berbeda dalam setiap tahunnya. Musim Penghujan berlangsung pada bulan November – Maret dan musim kemarau terjasi pada bulan Juni – Agustus. Namun kondisi iklim saat ini dengan adanya isu perubahan iklim global telah merubah paradigma iklim tersebut. Fluktuasi kondisi iklim ini bukan hanya terjadi di Indonesia melainkan hampir diseluruh dunia.

Oseanografi

Bathimetri

Data batimetri merupakan data hasil survey pemeruman dengan menggunakan Garmin Fishfinder pada bulan Juli 2013 serta data Digital Elevasi Model citra Aster sebagai acuan.

Batimetri pada daerah survey memiliki kedalaman paling besar sampai     40 m dengan jarak dari pantai sekitar 1 kilometer dari pantai. Dalam Gambar   terlihat bahwa batimetri pada perairan Pulau Cemara Kecil memiliki kondisi yang cukup curam, Dimana pada jarak rata-rata 500 meter dari pantai terdapat perubahan kedalaman yang besar dalam jarak yang relative kecil.

Batimetri suatu perairan sangat mempengaruhi kondisi perairan tersebut, beberapa parameter fisika dan parameter kimia berhubungan langsung dengan batimetri. Contohnya seperti suhu, salinitas dan densitas.

Batimetri suatu perairan juga mempengaruhi kondisi hidrodinamika perairan tersebut, Perubahan batimetri dan keberadaan penghalang mengakibatkan deformasi gelombang yang merambat dari laut dalam menuju pantai. Akibatnya, gelombang pecah di daerah pantai saat mencapai batas kelancipan maksimum antara gelombang dan dasar perairan, sehingga terbentuk arus (longshore current dan rip current/cross-shore velocity) yang menyebabkan transpor sedimen pantai.

Arus

Verifikasi Dilakukan dengan metode MRE (Mean Relative Error). Pada perhitungan metode MRE didapat nilai kesalahan rata rata sebesar 31%, dengan nilai MRE pada musim barat dan musim timur, pemodelan ini dapat diterima. Menurut sugiyono (2011), verifikasi model yang masih dapat diterima jika masih berada di dalam batas 40 %.

Pemodelan  pola arus di perairan Pulau Cemara Kecil diberikan skenario yang dibuat mendekati kondisi di lapangan saat pengukuran, dengan masukan nilai nilai yang dibutuhkan untuk memodelkan menggunakan mike 21 menggunakan data lapangan, seperti kondisi batimetri, arah angin dominan, pasang surut dan nilai gesekan dasar, dengan tujuan dapat menggambarkan pola arus daerah tersebut mendekati kondisi di lapangan.

Berdasarkan data hasil model arus di perairan Pulau Cemara Kecil, pada saat musim barat kecepatan arus berkisar 0,4 – 0,6 m/s dengan kecepatan maksimal terjadi pada kondisi menuju pasang saat pasang purnama (Spring). Frekuensi arah arus dominan menuju barat, akan tetapi pada beberapa waktu ( tidak dominan) terjadi arah arus yang berasal dari arah yang lain , hal ini karena faktor pembangkit arus tidak hanya angin. Sedangkan saat musim timur, kecepatan arus berkisar 0.2 – 0.4 m/s. Kecepatan maksimum terjadi saat menuju pasang dengan kecepatan berkisat 0.9 m/s.

Kondisi kedalaman perairan saat pasang di waktu Spring merupakan yang tertinggi selama waktu pemodelan, sedangkan kondisi kedalaman minimal terjadi pada saat surut di waktu neap. Kondisi perairan pada saat menuju pasang memiliki kecepatan lebih besar,  jika dibandingkan pada saat surut, dan kecepatan arus pasut maksimum terjadi pada saat kondisi perairan menuju pasang pada saat spring. Hal ini karena pada saat menuju pasang, terjadi perpindahan massa air yang besar, Kecepatan arus minimum terjadi pada kondisi perairan saat slack water. Gross (1990) dalam Prasetyo (2009) menambahkan bahwa arah arus saat air meninggi biasanya bertolak belakang dengan arah arus saat air merendah. Kecepatan arus pasut minimum terjadi saat slack water. Pada saat-saat tersebut terjadi perubahan arah arus pasut. Kecepatan arus pasut maksimum terjadi pada saat-saat antara air tinggi dimana arah arus pasut menuju pantai (Flood water) dan air rendah ketika arah arus pasut meninggalkan pantai (Ebb water). Dengan demikian periode kecepatan arus pasut akan mengikuti periode pasut yang membangkitkannya.

Hidrologi

Hidrologi atau kondisi air tanah pada Pulau Cemara kecil didominasi oleh intrusi air laut. Pada saat survey pengambilan data, dilakukan pengujian dengan melakukan test pengujian air tanah dengan melakukan penggalian lubang. Pada saat penggalian lubang sedalam 1 meter telah terjadi intrusi air laut dengan keluarnya air laut pada lubang tersebut.

Berdasarkan survey lapangan di Pulau Cemara Kecil, Hidrogeologi pada Pulau Cemara Kecil tidak tersedia sumber air bersih pada air tanah, sehingga berdasarkan data tersebut Pulau Cemara kecil harus mendatangkan air bersih dari Pulau Karimunjawa yang letaknya berdekatan bila Pulau Cemara Kecil ingin dikembangkan sebagai lokasi wisata untuk menunjang potensi wisata yang ada.

Kondisi Fisik

Topografi

Pulau Cemara Kecil adalah pulau kecil tak berpenghuni, karena luasnya yang tidak begitu luas dan dapat dikatakan sangat sempit. Luas Pulau Cemara Kecil ini hanya 1,5 Ha dan sangat landai kontur pulaunya. Berdasarkan hasil analisis citra dan survey lapangan, bentuk topografi pulau sangat landai.

Bentuk Lahan / Geomorfologi

Dalam pembahasan mengenai geomorfologi dapat dilakukan berdasarkan pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif secara perhitungan morfometri dan morfografi.

Berdasarkan data visual lapangan ,data citra quick bird dan data peta topografi, secara morfometri dan morfografi secara umum menurut klasifikasi Van Zuidam  (1983) dibedakan menjadi 2 satuan yaitu; 1) satuan bergelombang 2) satuan datar.

Sedangkan pendekatan secara kualitatif dapat ditentukan dengan aspek – aspek morfologi yaitu dengan melihat suatu bentuk topografi, morfografi dan aspek deskriptif dari suatu bentuk lahan. Maka berdasarkan pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif, daerah pemetaan dapat dibagi menjadi 1 satuan, yaitu :

Satuan Datar Pantai

Satuan Datar Pantai mempunyai bentuk lahan pantai yang landai dan pembentukannya dikontrol oleh pasang surut air laut. Pulau ini terbentuk karena karang yang berkembang dan membentuk pulau atau disebut juga Atol, sehingga litologi pembentuk pulau ini tidak diketahui secara pasti.

Pulau Cemara Kecil merupakan pulau yang mempunyai luas sangat kecil dan keberadaanya tergantung dari ketinggian muka air laut. Bila terjadi penambahan ketinggian muka air laut setinggi 1 meter, maka pulau tersebut akan tenggelam. Bila terjadi penurunan muka air laut sebesar 1 meter, maka pulau tersebut akan bertambah luas.

Asal-usul (Genesis) Pulau

Formasigeologi di Kepulauan Karimunjawa sebagian besar terdiri dari batu pasir kuarsa dan mikaan, konglomerat kuarsa, batu lanau kuarsa, serpih kuarsa, breksi gunung api, tuf, lava, kerikil pasir, lempung, Lumpur pecahan koral dan batu apung. (Peta Geologi/Tanah Propinsi Jawa Tengah, Seksi Publikasi Direktorat Geologi, 1976, dalam Data Base Taman Nasional Karimunjawa, 2009).

Pembentukan Kepulauan Karimunjawa diawali oleh ditemukannya batu pasir kuarsa dipermukaan tepatnya di Pulau Karimunjawa yang berumur Pratersier yang merupakan umur batuan yang sangat tua di Pulau Jawa. Tersingkapnya batuan tersebut di permukaan dikarenakan terdapat gaya tektonik yang mengakibatkan terdorongnya batuan yang berumur sangat tua keluar kepermukaan.  Jika dilihat secara fisiografi dari Pulau Karimunjawa, Pulau Cemara Kecil termasuk Busur Dalam Karimunjawa yang berarah Barat Daya – Timur Laut. Posisi geografis di Pulau Cemara Kecil terletak dekat dengan Pulau Karimunjawa. Litologi pembentuk dari Pulau Cemara Kecil adalah akumulasi dari karang yang berkembang (Atol). Diperkirakan litologi yang berada dibawah karang tersebut adalah batu pasir kuarsa yang tersingkap di Pulau Karimunjawa.

Tutupan Lahan (Landcover)

Lahan yang berada di Pulau Cemara Kecil kebanyakan berupa semak, mangrove dan pantai pasir. Penggunaan lahan yang ada biasanya digunakan untuk tempat wisata oleh para wisatawan yang datang ke pulau tersebut. Wisatawan yang datang hanya sekedar berkunjung menikmati panorama pantai.

Morfologi Pantai

JIka dilihat dari topografinya, dapat disimpulkan bahwa bentuk morfologi pantai di Pulau Cemara Kecil berupa pantai landai dan berpasir. Pantai di Pulau Cemara Kecil ini meskipun memiliki kontur topografi yang rendah namun kondisi pulau terlindungi oleh lapisan terumbu karang yang tebal mengelilingi pulau sehingga obak besar mampu diredam sebelum menghantam pulau.

Geologi

Pembahasan geologi meliputi Geomorfologi, Litologi dan Hidrogeologi didasarkan pada data survey di lapangan dan data geologi regional. Secara berdasarkan geologi regional daerah Karimun Jawa, daerah pemetaan geologi  termasuk kedalam zona tinggian Karimun Jawa (Karimun High) yang merupakan pembatas cekungan Pati pada bagian Barat.

Litologi Pulau Cemara kecil tidak diketahui litologi secara pastinya dikarenakan Pulau Cemara Kecil terbentuk dari karang yang berkembang membentuk pulau. Berdasarkan geologi regional Pulau Cemara Kecil masih termasuk dalam litologi Batupasir kuarsa yang berumur Pra Tersier tepatnya cretaceous 144-99 juta tahun yang lalu USGS (United States Geological Survey )  yang dapat ditemukan di Pulau Karimunjawa, yang terendapkan secara selaras oleh litologi diatasnya yang berupa aluvium yang berasal dari karang dan sedimen dari laut yang berupa pasir. Sampel batuan dibawah ini menggambarkan batupasir yang terletak dibawah Pulau Cemara Kecil, yang diambil dari Pulau Karimunjawa.

Jenis Batuan                        : BS Klastik

Nama Batuan           : Batupasir Kuarsa (Russell B. Travis, 1955)

Deskripsi Megaskopis

Batuan berwarna coklat, struktur Penjajaran mineral, tekstur klastik (terdapat matriks dan fragmen), ukuran butir dari matriks sedang, sedangkan fragmen kasar, sortasi buruk, kemas tertutup, bentuk butirnya menyudut (angular) sampai membulat tanggung (subrounded). Komposisi semen adalah 100% silikaan.

Deskripsi Komposisi

Proses Pembentukan (Petrogenesa) :

Berdasarkan warna batuan yang coklat, struktur penjajaran mineral kuarsa, dan tekstur klastik, maka batuan terbentuk dari hancuran material-material yang sudah ada sebelumnya kemudian tertransport dan terdeposisi dengan jarak yang dekat dan energi pengendapan yang besar. Proses penjajaran mineral kuarsa (Foliasi) terbentuk karena proses tekanan yang sangat tinggi, sehingga pada pulau Karimunjawa terdapat pegunungan yang merupakan hasil dari tekanan yang tinggi sehingga batupasir tersebut terlipatkan sesuai dengan arah gaya yang bekerja.


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

Ekosistem dan Sumberdaya Hayati Pesisir

Kondisi Ekosistem Terumbu Karang

  1. LIT (Line Intercept Transect)

Monitoring terumbu karang di perairan Pulau Cemara Kecil dilaksanakan pada 2 stasiun yaitu pada sebelah barat dengan posisi E : 05° 49' 39.6" S: 110° 22' 47.5"  dan disebelah timur pada posisi E: 05° 49' 34.6" S: 110° 22' 54.4".

Kondisi terumbu karang di perairan Pulau Cemara Kecil menunjukan penutupan karang hidup di sisi timur lebih baik dibandingkan dengan sisi barat. Berdasarkan grafik diketahui bahwa, tutupan karang hidup (HCL) disisi timur Pulau Cemara Kecil mempunyai penutupan karang yang tinggi dengan persentase tutupan mencapai 85.4 %. Pada sisi barat Pulau Cemara Kecil mempunyai penutupan karang yang tinggi presentasenya yaitu 73.4 %. Sementara itu, baik sisi barat maupun sisi timur masih dalam keadaan konisi penutupan karang baik karena presentasenya diatas 50%.

Sedangkan untuk tututpan karang mati (HCD) sisi timur Pulau Cemara Kecil mempunyai penutupan karang mati yang rendah dengan persentase tutupan mencapai 10.6%. Pada sisi sebelah barat Pulau Cemara Kecil mempunyai penutupan karang mati yang lebih tinggi dengan nilai presentase tutupan  mencapai 21.6 %.

Penutupan karang keras (hard coral) merupakan persentase penutupan dari hewan-hewan karang, baik scleractinian coral yang menghasilkan kalsium karbonat (CaCO3) maupun yang non-scleractinian. Secara umum hasil yang didapat menunjukkan bahwa kondisi tutupan terumbu karang di sebelah timur Pulau Cemara Kecil beraneka ragam. Ditemukan 11 genus dalam transek, antara lain Acropora, Astreopora, Favia, Fungia, Leptoseris, Montipora, Paceseris, Pavona, Pectinia, Physogira, Porites. Penutupan karang pada sisi timur Pulau Cemara Kecil menunjukkan perbandingan antara satu genus karang dengan yang lain sehingga dapat diketahui besarnya persen penutupan karang tiap genus karang. Persentase penutupan karang hidup yang tertinggi terdapat pada sisi barat Pulau Cemara Kecil, terdapat pada genus acropora yang mencapai 31.2 %. Penutupan tertinggi berikutnya terdapat genus Porites dengan penutupan sebesar 28.3 %. Untuk penutupan karang terendah, genus  favia  dengan nilai tutupan sebesar 0.2 %.

Untuk Penutupan substrat non coral, pasir (Sd) mempunyai nilai persentase yang  cukup tinggi, yaitu sebesar 8.6 %. Batu (Rc) mempunyai nilai persentase 2.0 %. Hal ini menunjukkan bahwa kesuburan terumbu karang masih cukup tinggi, sedangkan untuk disisi barat Pulau Cemara Kecil, didapatkan 11 genus karang meliputi Acropora, Astreopora, Favia, Galaxea, Leptoseris, Lobophylia, Montipora, Pavona, Pectinia, Porites, Stillipora. Penutupan tertinggi terdapat pada genus Acropora, dengan persentase tutupan yang mencapai 44.6 %. Tertinggi berikutnya terdapat genus Lobophylia  dengan penutupan sebesar 12.8 %. Untuk penutupan karang terendah, genus Favia dengan nilai tutupan sebesar 0.2%. Untuk penutupan non Coral, grafik tertinggi disebelah timur ditempati RB (Pecahan Karang mati) yang mencapai 14.2 %, ini menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem terumbu karang yang diakibatkan aktivitas dari nelayan dan pariwisata mempengaruhi kesehatan karang, serta gelombang besar pada saat musim barat. Sehingga banyak ditemukan pecahan karang di perairan di sisi barat.

b. Manta Tow

Secara umum kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Cemara Kecil, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara tumbuh di sepanjang pantai dan mengelilingi pulau. Untuk tutupan karang keras hidup di kategorikan rendah sampai tinggi dengan bentuk pertumbuhan karang berupa branching, tabulate, massive, foliose, sub-masive, encrusting, dan mushroome/solitere.

Perairan di Pulau Cemara Kecil masih baik, ini terbukti dengan kejernihan dan kecerahan air mencapai 6 – 12 m, serta perairannya tenang. Karakteristik lereng terumbu dalam kategori landai hingga agak curam, dengan sudut kemiringan terumbu beriksar 10-30°. Terumbu karang yang menpunyai fungsi alami untuk melindungi ekosistem pantai dari pengaruh abrasi ombak.

Secara umum kondisi tutupan substrat dasar di perairan Pulau Cemara Kecil didominasi oleh tutupan karang keras serta pasir. Karang keras hidup, dapat dijumpai di sepanjang perairan yang mengelilingi Pulau Cemara Kecil. Terumbu karang hidup dengan berbagai macam bentuk pertumbuhan (life form). 

Dari 12 titik pengamatan dengan menggunakan metode mantatow didapatkan rata-rata tutupan karang hidup memiliki persentase tertinggi mencapai 30.8%, tutupan karang mati memiliki persentase mencapai 13.3% dan karang lunak (SC) sebesar 0.4%. Untuk persentase tutupan pecahan karang (RB) sebesar 20.0% dan pasir (Sd) mancapai 19.2%. Hasil ini menunjukkan, kondisi terumbu karang dengan penekanan pada persentase tutupan karang batu menunjukkan kondisi yang dikatakan rusak. Tingkat kerusakan ekosistem terumbu karang rata-rata sedang sampai tinggi yang di akibatkan oleh energi gelombang yang keras dan eksploitasi yang tinggi oleh masyarakat, Pariwisata, pembuangan, jangkar, secara alami disebabkan oleh gelombang, dan penyakit karang (Coral Bleaching), sehingga hanya jenis karang tertentu saja yang dapat bertahan (misalnya jenis Porites yang masif).

Di perairan pulau Nyamuk, banyak di jumpai karang-karang kecil yang tubuh secara menyebar, hal ini menandakan adanya rekrutment baru terumbu karang setelah rusak. Selama towing, ada pula di jumpai biota indikator untuk kerusakan dan kesehatan terumbu karang. Biota indikator yang di temukan berupa bulu babi (diodema) yang menjadi indicator kerusakan karang.

c. Ikan Karang

Pengambilan data dilakukan dengan melakukan penyelam mulai mengambil data 10 menit setelah transek digelar agar ikan yang semula terganggu oleh kehadiran penyelam kembali lagi ke habitat mereka. Data yang diambil berupa jumlah jenis dan kelimpahan dalam satuan individu  dan pendataan ikan secara umum dilakukan pada siang hari (diurnal) dengan jarak pandang tiap lokasinya yang dapat terjangkau dalam pendataan.

a. Sisi Timur

Monitoring ikan karang di perairan Pulau Cemara Kecil di laksanakan pada perairan sisi timur dengan posisi koordinat E: 05° 49' 34.6" S: 110° 22' 54.4". Dari hasil pengamatan ikan karang di perairan sisi Timur Pulau Cemara Kecil didapatkan komposisi jenis ikan karang yang terdiri dari 10 famili, 18 genus dan 24 spesies. Persentase komposisi jenis ikan karang tertinggi didominasi oleh jenis spesies Chrysiptera Springeri dengan 24,72%, kemudian Amblyglyphidodon leucogaster 21,35% dan Apogon compressus 15,36%, dapat diketahui bahwa stasiun pengamatan perairan sisi timur Pulau Cemara Kecil memiliki jumlah ikan karang sebanyak 534 individu. Terdiri dari famili Pomacentridae sebanyak 8 jenis spesies, Labridae 5 jenis spesies, Serranidae, Lutjanidae dan Scaridae dengan masing-masing 2 jenis spesies, serta famili Chaetodontidae, Apogonidae, Caesionidae dan Siganidae dengan masing-masing 1 jenis spesies. Kelimpahan ikan karang tertinggi didominasi oleh Chrysiptera Springeri dengan 132 individu, Amblyglyphidodon leucogaster dengan 114 individu, dan Apogon compressus dengan 82 individu.

b. Sisi Barat

Monitoring ikan karang di perairan PulauCemara Kecil di laksanakan pada perairan sisi barat dengan posisi koordinat 05° 49' 39.6" S: 110° 22' 47.5". Dari hasil pengamatan ikan karang di perairan sisi barat Pulau Cemara Kecil didapatkan komposisi jenis ikan karang yang terdiri dari 3 famili, 12 genus dan 16 spesies. Persentase komposisi jenis ikan karang tertinggi didominasi oleh jenis spesies Pomacentrus Moluccensis dengan 27,59 %, dan Abudefduf sexfasciatus 17,82%, dapat diketahui bahwa stasiun pengamatan perairan sisi barat Pulau Cemara Kecil memiliki jumlah ikan karang sebanyak 174 individu. Terdiri dari famili Pomacentridae sebanyak 9 jenis spesies, Labridae 6 jenis spesies, dan Chaetodontidae dengan 1 jenis spesies. Kelimpahan ikan karang tertinggi didominasi oleh Pomacentrus moluccensis dengan 48 individu dan Abudefduf sexfasciatus dengan 41 individu.

Berdasarkan nilai-nilai indeks komunitas, ikan karang yang berada di stasiun pengamatan perairan sisi timur dan barat Pulau Cemara Kecil menunjukkan nilai indeks keanekagaman (H’) yang berbeda, yaitu 3,17 dan 2,77. Ini menunjukkan bahwa pada perairan sisi timur memiliki keanekaragaman yang tinggi, sedangkan di perairan sisi barat memiliki keanekaragaman yang sedang. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Krebs (1985) bahwa indeks keanekaragaman dikategorikan sedang apabila 1

Indeks dominasi (C) di kedua stasiun pengamatan menunjukkan bahwa perairan Pulau Cemara Kecil mempunyai nilai yang rendah dan hampir sama yaitu 0,16 dan 0,15 yang menandakan komunitas ikan karang dalam keadaan stabil. Dikatakan oleh Odum (1971) bahwa bila nilai C mendekati 0 (nol), di dalam komunitas tidak ada spesies yang dominan, komunitas dalam keadaan stabil, dan bila nilai C mendekati 1 (satu), ada dominasi dari spesies tertentu, komunitas berada dalam keadaan labil dan terjadi tekanan pada ekosistem.

Indeks keseragaman (E) yang ada di perairan sisi Timur dan barat Pulau Cemara Kecil memiliki nilai 0,66 dan 0,79 yang menuunjukkan kesamaan antar spesies. Seperti yang telah disampaikan oleh Ludwig dan Reynold (1988) bahwa  bila E mendekati 0 (nol) , spesies penyusun tidak banyak ragamnya, ada dominansi dari spesies tertentu dan menunjukan adanya tekanan terhadap ekosistem. Bila E mendekati 1 (satu), jumlah individu yang dimiliki anter spesies tidak jauh berbeda., tidak ada dominansi dan tidak ada tekanan terhadap ekosistem.

d. Padang Lamun

Pengambilan data di lokasi lamun terletak di LS: 05° 49' 51" s/d 05° 50' 52" dan BT: 110° 22' 46" s/d 110° 22' 47". Padang lamun tumbuh di sepanjang pantai pada kedalaman ±100cm. Sebaran padang lamun terletak pada garis pantai sejauh 10 m dengan substrat dasar berupa pasir dan shell (pecahan karang dan cangkang).

Rata – rata penutupan padang lamun adalah 6% sampai 61,67%, dengan tinggi kanopi berkisar 5 – 12 cm. Di perairan Palau Cemara Kecil, ditemukan 2 jenis vegetasi lamun yaitu Thalassia hemprichii dan Halophila ovalis. Tetapi yang paling dominan di sebelah utara yaitu jenis Thalassia hemprichii.

Keanekaragaman biota yang dijumpai di Pulau Cemara Kecil diantaranya adalah teripang jenis Holothuria edulis, sand dollar, ikan gobi, juvenil ikan, alga, ikan pari dan kima. Ikan pari yang dijumpai merukan jenis ikan pari cincin biru. Selain itu, alga jenis Sargassum paling mendominasi diantara yang lain.

Potensi Pulau Cemara Kecil ditinjau dari kondisi padang lamunnya yaitu melimpahnya teripang yang dijumpai di perairan ini. Holothuria edulis sangat sering ditemukan di Pulau Cemara kecil, kebanyakan biota ini berukuran kecil hingga sedang. Hasil pendataan menunjukkan bahwa teripang ini dijumpai sebanyak 9 individu. Selain itu, lamun jenis Thalassia hemprichii merupakan lamun yang tahan terhadap gangguan kondisi perairan yang fluktuatif. Thalassia hemprichii mempunyai strategi adaptasi metabolik untuk menghadapi perairan yang kurang oksigen menggunakan mikrozoma (akar aerobik) sehingga mampu berkoloni di laut dangkal dan mengusir sebagian kelompok tumbuhan lain untuk bertahan hidup. Namun demikian, kegiatan pariwisata di sekitar Pulau Cemara Kecil adalah ancaman utama yang mengganggu kehidupan padang lamun sehingga perlu adanya batasan kegiatan pariwisata di pulau tersebut agar ekosistem lamun dan organisme asosiasinya dapat dipertahankan.

e. Mangrove

Pulau yang tersusun dari beberapa vegetasi pesisir ini banyak ditumbuhi oleh cemara laut, sehingga sesuai dengan namanya karena didominasi oleh mangrove asosiasi yaitu cemara laut (Casuarina sp.). Jenis mangrove asosiasi yang hidup pada  substrat dasar berupa pasir dan sering ditanam sebagai salah satu alternative jenis tumbuhan pesisir dalam program rehabilitasi mangrove.

Vegetasi penyusun pulau Cemara Kecil tidak ditemukan adanya mangrove mayor (kelompok yang terpisah dengan tumbuhan darat dan biasanya membentuk tegakan murni), yang ada hanya mangrove minor (komponen tambahan/ tumbuhan pantai dan biasanya tidak membentuk tegakan murni) dan mangrove asosiasi (kelompok yang tidak tumbuh pada komunitas mangrove sejati dan hidup bersama tumbuhan darat).

Hasil dari survey lapangan menunjukkan sebagai berikut:

Mangrove mayor:

tidak ditemukan

Mangrove minor:

Pemphis acidula (Sentigi), Xylocarpus granatum (Nyirih),  dan Xylocarpus.

Mangrove asosiasi :

Tumbuhan asosiasi adalah spesies yang berasosiasi dengan hutan pantai atau komunitas pantai dan disebarkan oleh arus laut. Tumbuhan ini tahan terhadap salinitas, seperti Terminalia, Hibiscus, Thespesia, Calophyllum, Ficus, Casuarina, beberapa polong, serta semak Aslepiadaceae dan Apocynaceae. Ke arah tepi laut tumbuh Ipomoea pescaprae, Scaevola taccada (bakung-bakung), dan Sesuvium portucalastrum  mengikat pasir pantai. Spesies seperti Porteresia (Oryza) coarctata toleran terhadap berbagai tingkat salinitas. Ke arah darat terdapat kelapa (Cocos nucifera), Hibiscus tiliaceus, Imperata cylindrica dan lain-lain. Tidak berbeda hal dengan daerah lainnya, di Pulau Cemara Kecil, juga terdapat kerusakan mangrove. Kerusakan mangrove ini terjadi karena faktor alam dan karena ulah manusia. Kerusakan karena pengaruh faktor alam terjadi karena abrasi laut. Dan kerusakan yang disebabkan oleh ulah manusia ini, terliat adanya pembuangan sampah sembarangan. 


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya


Lingkungan

Kualitas Air

Dalam survey ini, di gunakan beberapa parameter dalam  penentuan kualitas perairan di Pulau Cemara Kecil. Diantaranya Derajat Keasaman (pH), Salinitas, Kecerahan dan Temperature. Sampel air di ambil pada enam titik, dimana terdapat pada gambar 4.80.

a. Suhu

Suhu atau temperatur dapat didefinisikan secara mikroskopik berkaitan dengan gerakan molekul sedemikian rupa sehingga makin tinggi suhunya makin besar kecepatan molekulnya. Prawirowardoyo (1996) menjelaskan secara makroskopik bahwa temperatur suatu benda dapat didefinisikan sebagai tingkat atau derajat kepanasan benda tersebut.

Temperatur suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran serta kedalaman badan air. Menurut Effendi (2003), perubahan temperatur berpengaruh terhadap perubahan proses fisika, kimia, dan biologi badan air. Temperatur juga sangat penting dalam mengkondisikan suatu ekosistem air. Temperatur merupakan faktor lingkungan paling penting. Terlebih lagi, banyak karakter fisika, seperti viskositas, densitas, dan kelarutan oksigen dalam air secara langsung berhubungan dengan temperatur.

Sunu (2001) menjelaskan, bahwa kenaikan temperatur air akan berakibat pada:

Hutagalung (1991) menyatakan, bahwa temperatur yang tinggi akan berpengaruh terhadap peningkatan kandungan logam berat. Naiknya temperatur pada perairan akan mempercepat reaksi dalam pembentukan ion-ion logam berat.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, dimana parameter parameter fisika dan kimia banyak yang berhubungan langsung dengan suhu, maka suhu dijadikan salah satu parameter untuk menentukan kualitas air perairan dalam survey ini.

b. Salinitas

Salinitas adalah jumlah garam (gram) terlarut per kilogram air laut. Menurut Pickard et al. (2004), material terlarut dalam air laut mempengaruhi densitasnya, sehingga sangat penting mengukur salinitas. Pembentuk utama garam laut adalah Cl dan Na, yang diikuti dengan komponen-komponen lainnya. Satuan salinitas adalah ‰ (parts per thousand) yang digantikan dengan “practical salinity unit” atau psu. Jumlah garam di laut dunia tidak berubah kecuali pada skala waktu geologi yang panjang. Bagaimanapun salinitas tidak berubah dengan adanya input air tawar dari hujan dan run off, dan hilangnya air tawar melalui penguapan.

Mance (1987) menyatakan, bahwa kandungan logam berat di laut dapat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya salinitas di perairan tersebut. Peningkatan salinitas berhubungan dengan peningkatan ion Klorida. Peningkatan ion ini menyebabkan ion logam bebas membentuk kompleks Klorida sehingga konsentrasi logam bebas menurun. Berpengaruhnya salinitas pada banyak parameter lainya membuat pertimbangan sebagai dijadikanya parameter ini menjadi salah satu parameter penting dalam pemantauan kualitas air pada survey ini.

c. pH

          Menurut Wardhana (2001), air dapat bersifat asam atau basa, tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi ion Hidrogen di dalam air. Derajat keasaman atau pH merupakan gambaran jumlah atau lebih tepatnya aktifitas ion Hidrogen dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa asam atau basa suatu perairan. Nilai pH = 7 dikatakan netral, >7 adalah basa, dan <7 adalah asam. Menurut Widigdo (2001) nilai pH bagi suatu perairan payau adalah antara 7-9, sementara pH air laut adalah antara 8,0-8,5.

Menurut Muslim (2009), nilai pH di perairan laut banyak dipengaruhi dan mempengaruhi beberapa parameter lain seperti kekuatan redoks, DO dan temperatur. Kelarutan logam dalam air dikontrol oleh pH air. Ditambahkan oleh Muslim (2009) dan Palar (1994) bahwa, kenaikan pH akan menurunkan kelarutan logam dalam air, karena kenaikan pH akan mengubah logam dari bentuk karbonat menjadi bentuk hidroksi yang membentuk ikatan dengan partikel pada badan air, sehingga akan mengendap dalam bentuk lumpur. Bryan (1978) menyatakan, bahwa pH yang tinggi dapat mengurangi toksisitas dari logam berat, karena logam berat dalam air dengan pH yang tinggi akan membentuk senyawa kompleks yang mengendap dalam perairan, oleh karena itu, pada survey ini derajat keasaman (pH) dijadikan sebagai salah satu parameter dalam penetuan kualitas perairan.

d. Ammonia

Ammonia pada perairan dapat berasal dari :

Berikut beberapa sifat dari ammonia :

Toxisitas amoniak akan naik 10 kali lipat dengan kenaikan 1 unit pH dan dua kali lipat setiap kenaikan 100C. Ammonia bersifat iritan (menyebabkan iritasi/luka). Akibatnya :

e. BOD (Biological Oxygen Demand)

BOD adalah parameter umum yang sering dipakai untuk menunjukkan tingkat pencemaran organik dari sumber pencemar seperti industri, domestik, pertanian dan perikanan. Beban BOD yang berlebihan mengganggu kualitas air karena menyebabkan konsentrasi DO rendah sehingga perairan tidak layak untuk kehidupan flora dan fauna (Boano et al., 2006).

BOD adalah jumlah zat terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah bahan – bahan buangan didalam air (Nurdijanto, 2000 : 15). Nilai BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang sebenarnya tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan. Penggunaan oksigen yang rendah menunjukkan kemungkinan air jernih, mikroorganisme tidak tertarik menggunakan bahan organik makin rendah BOD maka kualitas air minum tersebut semakin baik. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka BOD dijadikan salah satu parameter untuk menentukan kualitas air perairan dalam survey ini.

f. COD (Chemical Oxygen Demand)

COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair dengan memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber oksigen. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis dan dapat menyebabkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka COD dijadikan salah satu parameter untuk menentukan kualitas air perairan dalam survey ini.

g. DO (Dissolved Oxygen)

Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka DO dijadikan salah satu parameter untuk menentukan kualitas air perairan dalam survey ini.

 


Sarana dan Prasarana


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan

Potensi Pengembangan Pulau

Pengembangan Pulau Cemara Kecil jika dilihat dari sumberdaya alam yang ada lebih menitik beratkan pada pengembangan pariwisata. Dimana dalam zonasi yang dibuat oleh Balai Tanaman Nasional Karimunjawa, Pulau Cemara Kecil termasuk dalam zona pariwisata. Selain itu, panorama alam yang disajikan sangat indah dan dapat menarik banyak wisatawan. Hingga saat ini, Pulau Cemara Kecil menjadi destinasi/tujuan wisata baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing.


Kendala Pengembangan

Kendala Pengembangan Pulau

Pulau Cemara Kecil memiliki potensi yang sangat besar untuk sebuah kawasan wisata namun jika akan dilakukan pengembangan, hal ini tentu perlu dilakukan pengkajian sebagai upaya menjaga kelestarian sumberdaya yang ada. Kendala pengembangan pulau ini antara lain adalah kondisi terumbu karang yang ada hampir di sekeliling pulau yang menyulitkan perahu untuk memasuki atau mendarat di pulau. Belum adanya dermaga tambat juga menjadi sorotan yang merupakan ancaman untuk ekosistem yang ada karena dari hasil survey lapangan masih banyak pemilik perahu yang menambatkan perahunya di pepohonan. Dikhawatirkan jika pohon tersebut merupakan jenis pohon endmik yang ada di Pulau Cemara Kecil itu akan sangat disayangkan apabila menyebabkan pohon tersebut mati. Kendala lainnya seperti sarana air bersih, juga belum tersedia. Sebagaimana telah diulas pada subbab sebelumnya yang menyebutkan bahwa Pulau Cemara Kecil tidak terdapat sumber air tawar karena telah terjadi interusi air laut.


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com