MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

GUHAKOLAK

Nama Lain : GUHAKOLAK
Propinsi : BANTEN
Kabupaten : KABUPATEN PANDEGLANG
Kecamatan :
Koordinat : 06o 50’ 22” LS dan 105o 14’ 20” BT

Gambaran Umum

Pulau Guhakolak merupakan salah satu Pulau Kecil Terluar yang baru saja ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penetapan Pulau-Pulau Kecil Terluar. Pulau ini berada di wilayah Porvinsi Banten, tepatnya di Samudera Hindia yang berbatasan dengan Australia. Pulau Guhakolak tidak jauh dari daratan Provinsi Banten. 

Pulau ini Berada di sebelah barat Taman Nasional Ujung Kulon dan berjarak +358,39 m dari daratan terdekat Banten, sedangkan jika dari pusat Taman Nasional Ujung Kulon berjarak +16,65 km. Pulau Guhakolak berjarak + 111,89 km dari ibukota Kabupaten Pandeglang, dan jika ditempuh dari Serang, Ibukota Provinsi Banten adalah sejauh +129,40 km. Jaraknya dengan ibukota Negara Republik Indonesia adalah sejauh +189,44 km. Pulau terluar yang satu ini memang tergolong tidak terpencil lokasinya.

Pulau Guhakolak secara administratif termasuk dalam Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Secara geografis Pulau Guhakolak terletak di koordinat 06o 50’ 22” LS dan 105o 14’ 20” BT, dengan penanda wilayah hukum di Titik Dasar TD. 148 dan titik referensi TR. 148, jarak TD. 148 ke TD. 151 = 50,33 nm. Jenis garis pulau ini adalah garis pangkal lurus kepulauan, yaitu yaitu garis lurus yang menghubungkan titik-titik terluar pada Garis Air Rendah pada titik terluar pulau terluar, dan karang kering terluar yang satu dengan titik terluar pada Garis Air Rendah pada titik terluar pulau terluar, karang kering yang lainnya yang berdampingan. Garis pangkal kepulauanini ditarik oleh Pemerintah dengan tujuan untuk menetapkan lebar laut territorial.


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Pulau ini tidaklah terlalu luas. Hanya memiliki daratan seluas 0,0143 km2 dan tutupan berupa hutan dan batu karang, serta pulau ini tidak berpenduduk.

Berdasarkan data dari website Kementerian Kelautan dan Perikanan1 dalam Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem, diketahui bahwa kondisi sumber daya perikanan di sekitar Pulau Guhakolak tergolong tidak terlalu baik (sedang).

Penggunaan tanah di pulau ini sampai saat ini adalah hutan dan batu karang sebagai penyusun utama daratan pulau. Belum terdapat pemanfaatan tanah di pulau ini, mengingat pulau ini tak berpenduduk.

Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah

Penggunaan tanah di pulau ini sampai saat ini adalah hutan dan batu karang sebagai penyusun utama daratan pulau. Belum terdapat pemanfaatan tanah di pulau ini.

Penguasaan dan Pemilikan Tanah

Tidak terdapat penguasaan tanah di pulau ini, keseluruhan daratan pulau ini adalah tanah negara. Maka secara keseluruhan di pulau ini, tidak terdapat pula pemilikan tanah dengan status terdaftar di Kantor Pertanahan setempat.


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

Kawasan mangrove paling luas ditemukan di Kab. Pandeglang, yaitu 1.833.623 Ha. Nilai kerapatan vegetasi mangrove di Kabupaten Pandeglang sebesar 630 ind/ha. Pada umumnya mangrove ini dijumpai berupa spot-spot dan jarang dijumpai dalam bentuk populasi yang luas. Adapun Jenis-jenis bakau atau mangrove yang ditemukan di Provinsi banten terdiri dari 9 (Sembilan) jenis mangrove dari 6 suku, yaitu Rhizophoraceae terdiri dari 3 jenis yaitu Bruguiera cylindrical, Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata, suku Avicenniaceae terdiri dari satu jenis yaitu Avicennia marina, suku Combretaceae terdiri dari satu jenis yaitu Lumnitzera racemosa, Suku Lythraceae yang terdiri dari dua jenis yaitu Pemphis acidula dan Rotala occultittora, Suku Aizoaceae terdiri dari satu jenis yaitu Sestrivium portulacastrum dan Suku Malvaceae terdiri dari satu jenis yaitu Thespesia populnea.

 

Potensi terumbu karang di pesisir selatan Kabupaten Pandeglang tersebar hampir di sepanjang pantai hingga berbatasan perairan Selat Sunda dan Samudra Indonesia serta beberapa pulau kecilnya. Pulau Ekosistem terumbu karang di Kawasan TNUK tersebar di beberapa lokasi di semenanjung Ujung Kulon yaitu Citerjun, Tanjung Layar, Rorah Kaung, Legon Waru, Jamang, Karorah Tengah, Sedangkan di pulau-pulau kecilnya ditemukan di Pulau Peucang (Cihandarusa, Cipaus Karang Copong) dan Pulau Panaitan. Tipe terumbu karangnya adalah tipe terumbu karang tepi (Fringing reef) yang membentuk Paparan terumbu karang yang landai dengan kedalaman rata-rata 5 sampai 30 m. Berdasarkan hasil pengamatan TNUK KKP3K (BTNUK, 2002) bahwa luas kawasan daerah yang berterumbu karang di Kawasan TNUK mencapai 331,50 Ha. Dimana daerah Legon Waru memiliki luasan yang paling besar. Kondisi terumbu karang di Kawasan TNUK sangat baik 13%, baik 27%, rusak sedang 15%, rusak sekali 45%, dengan luas penutupan terumbu karang rata-rata sekitar 34 %.

 

Wilayah Pulau Karangpabayang masuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP RI) 573. WPP 573 mencakup wilayah perairan Samudera Hindia sebelah selatan Jawa hingga sebelah selatan Nusa Tenggara, Laut Sawu dan Laut Timor Bagian Barat. Sedikit perairan di sisi Barat Pulau Guhakolak masuk kedalam WPP 572. WPP 572 mencakup wilayah Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan Selat Sunda. WPP 572 memiliki potensi sumberdaya ikan sebesar 1.240.975 ton pertahun sedangkan WPP 573 memiliki potensi sebesar 1.267.540 ton pertahun. Jumlah Tangkapan yang diperbolehkan (JTB) adalah sebesar 80% dari potensi lestari tersebut. Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50/KEPMEN-KP/2017 Tentang Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan Yang Diperbolehkan Dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di WPPNRI disebutkan bahwa di WPP 572, komoditas udang panaeid telah masuk dalam tingkat pemanfaatan over-exploited yang berarti bahwa upaya penangkapan harus dikurangi agar potensi komoditas tersebut tetap lestari. Untuk WPP 573 kelompok ikan yang memiliki status over-exploited antara lain ikan pelagis kecil, ikan pelagis besar, ikan karang, udang panaeid dan cumi-cumi. Di WPP 573 tingkat pemanfaatan komoditas lobster dan rajungan berada di level Fullyexploited, yang berarti upaya penangkapan dipertahankan dengan monitor ketat. Pengembangan penangkapan ikan di wilayah perairan Pulau Deli, Karangpabayang dan Guhakolak sebaiknya difokuskan pada kelompok ikan dengan status pemanfaatan moderate yaitu antara lain ikan demersal, kepiting, ikan karang, rajungan dan cumi-cumi.

 


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya


Lingkungan


Sarana dan Prasarana


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan

Letaknya yang tidak jauh dari daratan Provinsi Banten dan taman Nasional Ujung Kulon, membuat pulau ini memiliki potensi sebagai wisata, selain fungsinya di bidang pertahanan dan keamanan.


Kendala Pengembangan


Referensi

 



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com