MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

Pisang

Nama Lain :
Propinsi : LAMPUNG
Kabupaten : KABUPATEN LAMPUNG BARAT
Kecamatan :
Koordinat : 5° 7' 15.000

Gambaran Umum

GAMBARAN UMUM

Pulau Pisang merupakan pulau di wilayah Kabupaten Pesisir Barat, Propinsi Lampung. Pulau Pisang memiliki luas daratan 148,82 Ha. Secara Geografis pulau Pisang terletak pada koordinat 5° 7' 15.000" LS dan 103° 50' 45.138" BT. Bagian barat dan selatan pulau tersebut berbatasan langsung dengan Samudera Hinda, sedangkan bagian utara dan timur berbatasan dengan Pulau Sumatera. Pulau Pisang yang merupakan wilayah satu kecamatan memiliki 6 (enam) desa, yaitu Pekon Labuhan, Pekon Pasar, Sukadana, Suka marga, Pekon Lok, dan Bandar Dalam. Secara administrasi Pulau Pisang terletak pada kecamatan Pulau Pisang, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Status tanah yang berada di pulau pisang sebagian bersertifikat dan sisanya berstatus kepemilikan ulayat/adat.

SEJARAH PULAU PISANG

Pulau Pisang merupakan pulau yang berada di tengah-tengah Samudera Hindia dan masuk dalam Kecamatan Pulau Pisang Kabupaten Pesisir Barat. Untuk menuju pulau ini, diperlukan waktu sekitar satu jam dari penyebrangan Pelabuhan Koala dikota Krui Pesisir Barat. Jukung yang digunakan sebagai transportasi penyebranganpun hanya berlayar diwaktu tertentu saja. Namun, jika ingin cepat masyarakat biasanya menggunakan jalur penyeberangan dari desa Tembakak. Jarak dari desa Tembakak menuju Pulau Pisang hanya lima belas menit menggunakan jukung bermesin.

Pulau Pisang merupakan pulau yang memiliki sejarah peradaban yang kuat. Adat istiadat Marga Way Sindi Olok Pandan sangat kental terasa. Rumah-rumah tinggi berdinding kayu yang lazim disebut lamban balak menjadi pemandangan paling menarik ketika berada di Pulau Pisang. Meskipun keadaannya mulai rapuh karena banyak yang tidak bepenghuni sebab ditinggal sang pemilik ketika tahun 1980 akibat matinya cengkeh-cengkeh milik mereka, menjadi saksi bisu bagaimana masyarakat di Pulau ini menganut Marga Lampung yang kental.

Masyarakat Way Sindi yang tinggal di Olok Pandan berjarak sekitar enam kilometer dari Desa Tembakak atau tujuh kilometer dari kota Krui. Hj. Zafrullah Khan Gelar Suntan Simbangan Ratu mengisahkan asal kata Way Sindi berarti pinggir air. Bermula ketika abad ke-17 masyarakat Way Sindi semakin banyak dan menuntut perluasan daerah. Akhirnya Saibatin atau pemuka adat Way Sindi Pangeran Simbangan Ratu mengutus seorang warga asal Biha yang biasa disebut Bathor atau pesuruh untuk melihat keadaan Pulau yang ada diseberang Desa Way Sindi layak tidak jika di tempati oleh masyarakat Way Sindi.

Atas titah Saibatin tersebut berangkatlah Bathor menuju pulau dengan menggunakan batang pisang yang memang banyak terdapat di daerah itu. Setelah sampai dipulau dan bermalam beberapa hari kembalilah Bathor menuju Way Sindi untuk melapor kepada Saibatin Bahwa Pulau tersebut bisa ditempati masyarakat.

Kemudian anak kedua Pangeran Sangun Ratu atas titah sang ayah Mail Gelar Raja Pesirah gelar Pangeran Sangun Ratu mengajak seluruh Masyarakat Way Sindi untuk berlayar menuju pulau dan mencari penghidupan dipulau tersebut. Pada saat itu masyarakat hanya menempati gubuk besar yang lazim disebut Sapu Balak. Masyarakat mulai bercocok tanam cengkeh dan kopra sedangkan makan hanya dapat memakan buah pisang hutan yang memang banyak tumbuh dipulau tersebut. Mulailah warga menyebut daerah tersebut dengan sebutan Pulau Pisang.

Pada abad ke-18 masyarakat membentuk sebuah Pekon pertama yaitu pekon Lok, kemudian menyusul kelima pekon lainnya yaitu Labuhan, Bandar Dalam, Sukadana, Sukamarga dan Pekon Pasar. Pada 17 September 1922 akhirnya pemuka adat memutuskan bahwa Marga Way Sindi merupakan Marga resmi masyarakat kelima Pekon Pulau Pisang dengan sebutan Way Sindi Olok Pandan kecuali Pekon Pasar yang memang bukan berasal dari keturunan Way Sindi.

Pada Tahun 1933, berlangsunglah pertemuan besar pemuka adat Way Sindi Olok Pandan yang menetapkan Muhammad Fadel Gelar Raja Kapitan menjadi Saibatin pertama marga Way Sindi Olok Pandan di Pulau Pisang.

Saat itu masyarakat Way Sindi Olok Pandan hidup makmur, cengkeh dan hasil kopra yang melimpah membuat masyarakat pulau pisang pada tahun 1968 menjadi daerah dengan pendapatan perkapita paling tinggi di Lampung. Namun sayang, ketika sedang jaya-jayanya, seluruh tanaman cengkeh tiba-tiba mati kerena daun-daunnya terkena penyakit. Saat itu perekonomian sulit sekali, akhirnya banyak warga yang memutuskan untuk merantau (berbagai sumber).

AKSESIBILITAS

Aksesibilitas Pulau Pisang dari Bandar Lampung sangat mudah, tetapi harus memperhatikan cuaca saat menggunakan moda transportasi laut (perahu). Dari Bandar Lampung menuju pelabuhan Kuala (Kecamatan Krui) dapat menggunakan transportasi darat dengan jarak tempuh ±280 km dan membutuhkan waktu ±8 Jam. Dari pelabuhan Kuala menuju Pulau Pisang menggunakan moda transportasi laut dengan jarak tempuh ±12 km dengan waktu ±1 jam.


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

KEPENDUDUKAN

Pulau pisang termasuk pulau merupakan pulau kecil berpenduduk, jumlah penduduknya 2346 jiwa/497 KK, tetapi setiap harinya pulau ini terlihat sepi. Sebagian besar masyarakat Pulau Pisang beraktifitas di luar pulau, banyak diantaranya merantau keluar pulau. Penyebaran penduduk dapat dilihat pada tabel

Jumlah Penduduk Pulau Pisang

No

Pekon

Jumlah Penduduk

Jumlah KK

L

P

1

Pasar

412

258

139

2

Labuhan

250

265

118

3

Sukadana

209

208

89

4

Suka Marga

167

133

38

5

Pekonlok

101

109

53

6

Bandar Dalam

123

111

60

 

Jumlah

1262

1084

497

 
 
KELEMBAGAAN

Penduduk Pulau Pisang telah membentuk koperasi yang bernama Batu Inton  untuk mendukung kegiatan perikanan, tetapi koperasi tersebut sudah tidak aktif. Sedikitnya masyarakat yang tinggal di pulau tersebut membuat perputaran ekonomi menjadi minim. Untuk mengelola kegiatan masyarakat nelayan,maka di bentuk kelompok nelayan, saat ini tedapat 2 (dua) kelompok nelayan  yang terdiri dari 10 orang.

 


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

TERUMBU KARANG

Secara umum Pulau Pisang merupakan pulau yang dipengaruhi oleh Samudra Hindia. Ombak dan gelombang yang menghantam pesisir pulau sangat kuat, hanya pada bagian utara pulau yang cukup aman pada saat pengamatan. Sehingga pengambilan data dilakukan pada titik bagian barat laut dan timur laut Pulau Pisang. Sisi pulau yang lain tidak memungkinkan dilakukan pengambilan data karena terpaan ombak dan gelombang yang sangat kuat. Pada bagian selatan pulau, pesisirnya tersusun dari pantai berbatu dan sedikit pantai berpasir.

Jarak pandang di dalam perairan cukup baik sekitar 8 – 9 meter. Arus permukaan dan kolom perairan cukup kuat dan alunan gelombang menghempas tidak beraturan saat pengambilan data dilakukan. Kedalaman terumbu karang yang diamati adalah 6 meter. Substrat dasar yang mendominasi merupakan karang, pasir, dan karang mati. Terumbu karang yang ditemukan menyebar dari kedalaman 3 meter hingga 8 meter. Kontur dasar perairan cukup curam akibat karakter ombak dan gelombang yang kuat.

Persentase penutupan karang keras hidup tidak begitu tinggi pada lokasi pengamatan bagian barat laut Pulau Pisang yaitu sebesar 34,46% yang termasuk dalam kategori sedang. Penutupan karang mati ditemukan paling tinggi diantara penutupan substrat dasar lainnya sebesar 47,9%. Sedangkan penutupan abiotik sebesar 12,5% dan penutupan biotik sebesar 5,14%.

IKAN KARANG

Hasil pengamatan ikan karang di perairan wilayah barat laut Pulau Pisang diperoleh 24 spesies termasuk kedalam 9 famili dengan jumlah total 118 ekor. Data kelimpahan ikan terumbu di wilayah ini disajikan pada Tabel 3. Pada stasiun satu yang berada di wilayah barat laut Pulau Pisang memiliki nilai 2.42712442 dan stasiun dua memiliki berada timur laut Pulau Pisang memilki nilai 2.534159. Indeks Keanekaragaman pada kedua stasiun memiliki nilai yang hampir sama, yaitu hanya berbeda 0.11. Hal ini menunjukan bahwa kedua stasiun di wilayah barat laut dan timur laut memiliki tingkat keanekaragaman yang sama, yaitu sedang.

Indeks keseragaman (E) pada kedua stasiun juga tidak terlalu jauh berbeda.Pada stasiun kedua yang terletak di wilayah timur laut Pulau Pisang lebih besar daripada bagian barat laut, yaitu0.5527102.Kedua stasiun pengambilan data baik di wilayah timur laut maupun barat laut tingkat keseragamanya termasuk kedalam kategori labil.

Indeks dominansi (C) dikedua stasiun tergolong rendah. Hal ini berdasarkan nilai indeks dominansi yang hampir sama. Nilai indeks dominansi di stasiun satu sebesar 0.142631 dan di stasiun satu sebesar 0.105165.

VEGETASI PANTAI

Sebagai daerah pesisir, Krui memiliki potensi pariwisata terutama wisata pantai, salah satunya adalah Pulau Pisang. Pulau yang dihuni hampir 2000 jiwa ini sangat teduh karena terdapat banyak vegetasi pantai dan tumbuhan darat yang tumbuh di sekeliling pulau. Adapun vegetasi pantai yang ditemukan di Pulau Pisang adalah pandan (Pandanus tectorius), kelapa (Cocos nucifera) dan kangkung laut (Ipomea pes-caprae).

Vegetasi pantai merupakan kelompok tumbuhan yang menempati daerah intertidal mulai dari daerah pasang surut hingga daerah di bagian dalam pulau atau daratan dimana masih terdapat pengaruh laut. Vegetasi pantai memiliki peran yang sangat penting sebagai pencegah abrasi. Tumbuhan pantai umumnya memiliki akar yang panjang dan kuat sehingga mampu menahan substrat dari hempasan gelombang (Desai, 2000). Demikian pula saat timbulnya tsunami, vegetasi pantai memiliki kemampuan untuk meredam energi gelombang yang sangat besar.

LAMUN

Lamun (seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (angiospermae) yang memiliki rhizome, daun dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut (Bengen, 2000). Terdapat  3 jenis lamun yang ditemukan di ekosistem padang lamun Pulau Pisang yaitu Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, dan Cymodecea rotundata.

Thalassia hemprichii memiliki daun yang bercabang dua (distichous), rimpangnya berbuku-buku, ujung daun membukit dan kasar. Jenis ini adalah lamun yang paling banyak dijumpai, biasa tumbuh dengan jenis lain dan dapat tumbuh hingga kedalaman 25 meter, sering dijumpai pada substrat berpasir. Lamun jenis ini di Filipina dimanfaatkan sebagai sayuran pelengkap salad, sementara itu masyarakat lokal pesisir Indonesia pada umumnya memanfaatkan lamun sebagai bahan anyaman topi, keranjang, tas, dan kerajinan lainnya. Skala industri di Indonesia juga memanfaatkan lamun sebagai bahan baku kertas dengan kualitas yang sangat baik.

Halophila ovalis merupakan jenis lamun yang memiliki bentuk daun oval dengan tulang daun yang agak rapat, Ukuran daunnya yang sangat kecil membuat persen penutupannya pun rendah dikarenakan umumnya jenis ini tidak mudah ditemukan. Selain rentang distribusinya yang terbatas di zona intertidal, biasanya jenis dari marga Halophila juga tertutup oleh sedimen sehingga sulit teramati (Estradivari et al., 2009).

Cymodocea rotundata memiliki daun yang memanjang dengan ujung daun halus licin (tidak bergerigi) dan di bagian tengahnya berlekuk (emarginate). Jenis ini banyak terdapat di daerah intertidal di dekat hutan mangrove. Padang lamun di Pulau Pisang hanya terdapat di bagian timur saja. Secara umum, padang lamun di Pulau Pisang didominasi oleh Cymodocea rotundata. Berdasarkan pengamatan kerapatan (jumlah individu/m2) jenis lamun paling tinggi nilai kerapatannya adalah Cymodoceae rotundata sebesar 49 individu/m2,sedangkan kerapatan paling rendah adalah jenis Halophila ovalis dengan nikai kerapatan 7 individu/m2. Persen penutupan lamun tertinggi adalah jenis Cymodoceae rotundata dengan penutupan jenis sebesar 12,33%. Tingginya persen penutupan lamun jenis ini sesuai dengan nilai kerapatannya. Begitupun dengan persen penutupan lamun terendah adalah jenis Halophila ovalis. Nilai persen penutupan jenis lamun ini berbanding lurus dengan nilai kerapatan individu dari lamun tersebut. Lamun dapat memiliki penutupan yang tinggi bila kerapatannya tinggi, namun sebaliknya bila kerapatannya rendah maka penutupannya pun akan rendah. Padang lamun merupakan tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar dan memijah bagi beberapa jenis biota laut. Pada kedalaman kurang dari 30 cm di sebelah timur Pulau Pisang ditemukan biota asosiasi yang terdapat di ekosistem padang lamun. Biota asosiasi tersebut adalah beberapa jenis gastropoda, ekinodermata dan berbagai jenis ikan.

 

 


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya

Perikanan Tangkap

Pulau Pisang memiliki potensi perikanan tangkap yang baik. Hasil tangkapan yang beragam dapat terlihat saat kita berada di pulau Pisang, hasil tangkapan tersebut seperti ikan tongkol, ikan kembung, ikan tuna, ikan kerapu, dan ikan marlin. Akan tetapi harga jual yang ada masih rendah, hal ini membuat nelayan sering mengalami kerugian. Aktifitas penangkapan hanya dapat dilakukan pada saat kondisi alam baik, dikarenakan kapal yang digunakan berjenis perahu motor tempel dan kapasitas hanya 15 GT serta letak pulau yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Alat tangkap yang digunakan bersifat tradisional, seperti alat pancing dan tombak.

Pertanian dan Perkebunan

Perkebunan di Pulau Pisang di dominasi oleh tanaman cengkeh. Tanaman cengkeh di pulau ini memiliki kualitas yang baik dan tidak berhama dengan jangka waktu panen setiap 1 (satu) tahun. Harga jual tanaman ini berkisar antara Rp. 110.000,00/Kg – Rp 250.000,00/Kg yang dibeli oleh pengumpul di pulau tersebut.

Tidak hanya tanaman cengkeh saja yang ada di Pulau Pisang, tetapi ada beberapa jenis tanaman lain yang tumbuh di pulau ini, seperti kelapa, kakao (cokelat), singkong, tales, ubi, pisang dan papaya. Hasil dari perkebunan biasanya dikonsumsi pribadi dan dijual ke daratan Sumatera di kecamatan Krui. Masyarakat yang bekerja di perkebunan berjumlah ±80 orang (termasuk nelayan yang tidak bisa melaut).

Peternakan

Hewan ternak yang hidup di Pulau Pisang jumlahnya cukup banyak, tetapi tidak terkelola oleh masyarakat dengan baik. Hal ini disebabkan karena masyarakat masih kurang memahami tentang peternakan. Disamping hewan ternak, dipulau pisang juga terdapat hewan yang dipelihara, seperti kucing dan monyet.

Industri

Pada saat ini di Pulau Pisang terdapat 1 (satu) tempat usaha pengasapan ikan dengan kapasitas industri rumahan dan  buka 1 (satu) kali dalam seminggu, pada hari kamis saja. Hal ini disebabkan keinginan masyarakat untuk mengembangkan usaha tersebut sangat kurang. Sebelumnya jumlah usaha ini mencapai 3-4 usaha, tetapi banyak diantaranya yang tidak melanjutkan lagi, karena penerusnya yang sudah tidak ada dan pembeli yang tidak banyak. Selain itu para ibu-ibu di Pulau Pisang juga membuat kerajinan tangan berupa kain tapis. Setelah selesai dibuat, kain tersebut didistribusikan ke berbagai tempat, seperti kecamatan Krui, Kota Bandar Lampung dll.

Pariwisata

Pulau Pisang merupakan salah satu tujuan wisata andalan yang ada di Provinsi Lampung.  Berdasarkan hasil penelitian Nugraha tahun 2011 (diterbitkan Journal Of Marine Research - UNDIP pada tahun 2013), Kabupaten Lampung Barat memiliki tingkat kesesuaian perairan yang sangat besar untuk pariwisata bahari dalam hal ini Selancar Air dan Olahraga Air,banana boat dan jet ski . Untuk Selancar Air mempunyai kriteria yang sangat sesuai, sedangkan untuk kegiatan Olahraga mempunyai kriteria sesuai tetapi dilakukan dalam kondisi tertentu.

Menurut penduduk setempat, pada setiap hari wisatawan mancanegara. berkunjung ke Pulau Pisang dengan tujuan berbeda-beda (Gambar ). Mereka datang pada pagi hari dan pulang pada sore hari, dikarenakan hanya terdapat 1 (satu) sarana penginapan dan sarana-sarana penunjang kegiatan wisata juga masih kurang, seperti toko kebutuhan sehari-hari, rumah makan, dan listrik yang tidak tersedia 24 jam.

Perairan pulau Pisang juga merupakan salah satu jalur perlintasan lumba-lumba di Samudera , hampir setiap hari lumba-lumba dapat dilihat pada pagi hari. Oleh sebab itu  banyak wisatawan domestik maupun mancanegara datang untuk melihat hewan mamalia tersebut dari jarak yang dekat

Pantai Pulau Pisang yang indah dengan hamparan pasir putih dan vegetasi pantai yang alami membuat banyak wisatawan domestik dan mancanegara tertarik untuk datang. Di pantai ini wisatawan dapat melakukan kegiatan menyusur pantai dan berjemur. Kegiatan menyusur pantai biasanya dilakukan untuk melihat ombak dan pasir putih serta menikmati flora maupun fauna yang ada di sekitar pantai. Sedangkan kegiatan berjemur dilakukan bertujuan agar kulit mendapatkan asupan vitamin D dari sinar matahari serta mengubah warna kulit menjadi kecoklatan dengan cara menjemur tubuh di pantai.

Menurut Charisma, dkk (2013), bahwa kondisi fisik perairan Pulau Pisang berpotensi sebagai kawasan wisata pantai, dengan beberapa kegiatan yaitu susur pantai, berjemur (Sun Bathing), dan memancing (Fishing). Berdasarkan nilai IKW untuk kegiatan susur pantai masuk dalam kategori kelas S1 (sangat sesuai) dengan nilai IKW sebesar 93%, sedangkan untuk kegiatan berjemur (Sun Bathing) masuk ke dalam kategori kelas S1 (sangat sesuai) dengan nilai  IKW sebesar 94% dan kegiatan memancing (Fishing) masuk dalam kategori S2(cukup sesuai) dengan nilai IKW sebesar 70%.

 


Lingkungan

KONDISI PERAIRAN

Kualitas perairan Pulau Pisang saat pengambilan data langsung dilapangan memperlihatkan nilai suhu perairan yang normal pada bagian barat laut sebesar 310C dan bagian timur laut sebesar 29,30C. Cuaca yang cukup panas pada saat pengambilan data menjadi indikasi bahwa curah hujan yang cukup sedikit dalam beberapa waktu sebelumnya, sehingga nilai salinitas yang terukur pada bagian barat laut sebesar 35 ppt dan bagian timur laut sebesar 36 ppt.

Nilai DO yang terukur pada bagian barat laut dan timur laut berada pada nilai di atas 8. Nilai yang tergolong cukup tinggi ini dapat disebabkan oleh kondisi fisik ombak dan gelombang yang kuat pada perairan Pulau Pisang. Proses pengadukan lapisan atas permukaan air laut dapat memerangkap oksigen yang bebas di udara dan masuk ke dalam perairan. Ombak dan gelombang di perairan ini dipengaruhi oleh samudera dan angin yang kencang. Peningkatan kadar oksigen (DO) dalam perairan juga dapat meningkatkan proses respirasi dari oraganisme-organisme yang ada di dalam perairan. Akibat aktivitas organisme tersebut kadar karbon dalam perairan dapat meningkat dan kenaikan tingkat asam-basa (pH) di bagian timur laut serta barat laut menunjukkan nilai pH di atas 9.

Pulau Pisang merupakan pulau yang berpenghuni yang memiliki aktivitas antropogenik yang cukup mempengaruhi kondisi perairan. Kondisi kualitas air yang baik sangat dibutuhkan untuk mendukung lestarinya sumberdaya di Pulau Pisang. Kandungan nitrat di perairan dikategorikan tinggi yakni diatas ambang batas yakni 0,038 - 0,015 mg/L (Kepmen-LH 51 Tahun 2004). Kandungan fosfat di Pulau Pisang masih dalam kisarang ambang baku mutu yakni 0,011 mg/L - 0,021 mg/L. Adanya peningkatan kandungan nitrat merupakan hal yang wajar dimana aktivitas metabolisme biota dalam perairan ataupun muatan dari daratan akibat aktivitas manusia. Sedangkan kandungan amoniak di Pulau Pisang tergolong rendah, yakni 0,094 - 0,091 mg/L dimana kondisi ini menggambarkan perairan masih baik dan tidak tercemar. Tingginya konsentrasi amonia mengindikasikan adanya pencemaran bahan organik yang berasal dari limbah domestik, aktivitas budidaya ikan di wilayah pesisir, serta dekomposisi bahan organik secara anaerob. Konsentrasi amonia yang tinggi dapat menyebabkan ikan mengalami gangguan proses pengikatan oksigen. Kasus yang sering dijumpai adalah kematian massal ikan setelah terjadi upwelling. Amonia yang terakumulasi di dasar perairan akan terangkat ke kolom air dan toksik bagi ikan.

 


Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana di P. Pisang

  1. Sarana Kesehatan

Sarana Kesehatan yang tersedia di Pulau Pisang adalah Puskesmas dengan tenaga kesehatan hanya 3 (tiga) orang, yang terdiri dari 1 (satu) dokter PTT dan 2 (dua) mantri. Selain itu, pulau Pisang mendapatkan bantuan dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 berupa speedboat yang berfungsi sebagai Puskesmas keliling. Tetapi pada saat tim survei ke lokasi, speedboat tersebut tidak berfungsi, hal ini disebabkan besarnya biaya operasional setiap menjalankan fungsinya.

  1. Sarana Ibadah

Sarana Peribadatan di Pulau Pisang terdapat 4 (empat) masjid, keempat masjid tersebut berada di Pekon Labuhan, Pekon Sukadan, Pekon Pasar dan  Pekon Pekonlok.

 

  1. Sarana Air Bersih dan Sanitasi

Sarana air bersih di Pulau Pisang dapat diambil dari air sumur, tetapi air tawar dari sumur mengandung kapur, karena terlihat sedikit keruh. Jika air akan digunakan, air dari sumur tersebut di diamkan dulu selama 1 (satu) malam, agar kandungan kapur mengendap.

  1. Sarana Transportasi

Sarana transportasi yang digunakan untuk menghubungkan antar desa, biasanya masyarakat pulau Pisang menggunakan sepeda motor, tetapi bisa juga dengan berjalan kaki. Menurut informasi dari masyarakat, untuk mengelilingi pulau tersebut hanya memerlukan waktu ± 1 jam.

Bantuan dari Pemerintah Pusat maupun Daerah sudah banyak dilakukan terutama pada aspek jalan antar desa maupun jalan lingkar pulau. Sumber dana bantuan tersebut berbeda, berikut sumber-sumber dana bantuan :

  1. Sarana Pendidikan

Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting dalam pengembangan masyarakat pulau Pisang, oleh sebab itu perlu adaya sarana yang memadai. Pulau Pisang memilki 1 (satu) bangunan PAUD, 1 (satu) bangunan SD dan 1 (satu) bangunan SMP. Bila masyarakat pulau Pisang akan melanjutkan kejenjangan yang lebih tinggi, maka masyarakat harus pindah ke daratan Sumatera atau ketempat yang sudah terdapat sarana pendidikan lebih tinggi dari jenjang pendidik SMP.

  1. Sarana Penerangan

Seluruh rumah di pulau Pisang telah menggunakan listrik sebagai sarana penerangan. Sumber energi listrik tersebut berasal dari Generator Set (Genset) (Gambar. ) yang dikelola oleh masing-masing kepala keluarga. Kapasitas 1 (satu) genset dapat dimanfaatkan 2 (dua) sampai 3 (tiga) rumah.

Pada tahun 2012 Pulau Pisang telah mendapatkan bantuan PLTS dari Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil – KKP (Gambar), tetapi pada tahun 2013 PLTS tersebut tidak dapat digunakan. Penyebab PLTS tidak dapat berfungsi kembali karena salah satu tiang listrik PLTS tersebut tersambar petir dan membuat gardu listrik rusak.

 


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan


Kendala Pengembangan


Referensi

http://www.pagaralamwisata.com/2014/01/paket-liburan-pulau-pisang.html

http://travel.detik.com/read/2012/12/06/234249/2111704/1025/pulau-pisang-surga-bawah-laut-di-lampung

 



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com