MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

Lepar

Nama Lain :
Propinsi : KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Kabupaten : KABUPATEN BANGKA SELATAN
Kecamatan :
Koordinat : 2° 57' 21.000

Gambaran Umum

Pulau Lepar secara administratif berada di wilayah Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan pada posisi geografis 106°48’ 36” BT dan 02°57’ 00” LS. Pulau Lepar berbatasan langsung dengan lautan di wilayah kabupaten/kota lainnya di Provinsi Bangka Belitung, yaitu:

Pulau Lepar memiliki luas sekitar 169.313 km2 yang terdiri dari 4 (empat) desa, yaitu: Desa Tanjung Labu, Tanjung Sangkar, Kumbung dan Desa Penutuk.  Ibukota Kecamatan Lepar Pongok juga berada di Pulau Lepar, yaitu di Tanjung Labu. Secara geografis keempat desa yang ada di Pulau Lepar merupakan desa pantai.

Topografi
Kondisi Topografi Pulau Lepar bervariasi yang terdiri dari dataran rendah sampai dengan daerah perbukitan. Dilihat dari kondisi topografi Pulau Lepar ini, sebagian besar  pulau Lepar mempunyai kemiringan lereng 0 – 8%, sedangkan kemiringan lereng di bagian pantai tenggara mempunyai kemiringan antara 8 – 15%.

Geologi
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Belitung Sumatera yang diterbitkanoleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi tahun 1995, keadaan batuan pembentuk struktur geologi di wilayah Kabupaten Bangka Selatan tersusun oleh beberapa satuan batuan, yang dikelompokkan atas ciri litologi dan dominasi dari setiap satuan batuan. Adapun satuan batu tersebut antara lain Endapan Aluvial, Formasi Tajam dan Formasi Kelapakampit. Batuan endapan aluvial tersebut berupa kerikil-kerakal, pasir, lanau, lempung dan pecahan koral.  Daratan Pulau Lepar tertutup oleh berbagai jenis batuan, yaitu batuan sedimen, batuan gunung dan batuan intruksi yang membentuk daerah perbukitan yang bergelombang dan dataran alluvial.

Hidrologi
Dilihat dari kondisi topografi Pulau Lepar, Sungai-sungai di Pulau Lepar pada umumnya berhulu di daerah perbukitan yang berada di bagian tengah Pulau Lepar dan bermuara di laut.  Sungai-sungai yang terdapat di Pulau Lepar tergolong sungai-sungai yang kecil. Sungai tersebut adalah Sungai Pangku, Sungai Elang/Sungai Buntut, dan Sungai Bayan.

Iklim
Iklim di wilayah Pulau Lepar adalah tergolong dalam iklim tropis dan basah dengan bulan-bulan basah selama 7-9 bulan berturut-turut per tahun dan bulan kering selama 3 bulan berturut-turut atau kurang.  Pola iklim Pulau Lepar tergolong Moonson, yang secara umum ditandai dengan perputaran dua musim secara bergantian antara musim hujan dan musim kemarau. Berdasarkan data klimatologi yang tercatat di Stasiun Meteorologi Pangkal Pinang (2006), wilayah studi memiliki curah hujan rata-rata 163,2 mm/tahun dengan curah hujan maksimum 394,7 mm/tahun terjadi pada Bulan April. Jumlah hari hujan adalah 13 hari dan hari hujan maksimum terjadi pada Bulan April yaitu 24 hari.  Kecepatan angin rata-rata 4 knot dengan kecepatan angin rata-rata maksimum 7 knot terjadi pada Bulan Agustus.  Suhu udara rata-rata di wilayah tersebut adalah 27,1°C, sedangkan suhu udara minimum adalah 23,7°C dan suhu udara maksimum 31,18°C.

Arus
Arus yang terjadi di perairan pulau Lepar merupakan arus yang dibangkitkan oleh arus pasang surut terutama arus pasang surut harian. Pada bulan Februari arah angin di perairan ini bergerak dari arah barat sehingga mengakibatkan arus permukaan air laut umumnya bergerak dari arah barat daya – barat laut berkisar antara 6 - 12 cm/detik. Sebaliknya pada bulan Agustus angin betiup dari Timur ke Barat Daya dengan kecepatan 12 – 25 cm/detik.

Pasang Surut
Pola pasang surut untuk perairan pulau Lepar adalah pola pasang surut harian dengan kisaran 2,4 – 3,6 meter. Jenis pasang surut adalah diurnal dimana dalam satu hari terjadi satu kali pasang dan satu kali surut.

Kualitas Air
Kualitas air berperan penting bagi seluruh organisme perairan untuk menunjang proses kehidupannya. Kualitas perairan bisa dilihat dari nilai parameter fisik dan kimiawi perairan. Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan di Perairan Pulau Lepar menunjukkan sebaran suhu permukaan perairan berkisar antara 28,800 - 29,300 C. Salinitas perairan berkisar antara 30,00-31,00 0/00, kondisi salinitas di atas mengindikasikan bahwa perairan ini lebih bersifat perairan pantai (coastal water) daripada bersifat oseanik (oceanic water). Untuk parameter suhu dan salinitas masih bersifat alami, sehingga masih mendukung untuk kehidupan biota laut. Nilai parameter TSS berkisar antara 9-18 mg/l masih dibawah baku mutu untuk kehidupan biota laut.  

Nilai pH yang berkisar antara 8,05 – 8,21 tergolong netral ke arah basa. Nilai tersebut berada pada nilai pH perairan laut Indonesia pada umumnya yang bervariasi pada kisaran 6,0 – 8,5. Nilai oksigen terlarut (DO) yang berkisar antara 6,98–8,63 mg/l tergolong sedang dan baik untuk kehidupan biota laut. Nilai tersebut menggambarkan sedikitnya bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi (penguraian) yang memerlukan oksigen. Nilai pH dan oksigen terlarut (DO) yang baik untuk biota laut masing-masing berturut-turut 7,0 - 8,5 mg/l dan lebih besar dari 5 mg/l.

Parameter BOD5 rata-rata bernilai <2.00 mg/l; COD berkisar antara 22,105-31,579mg/l; parameter Nitrat rata-rata bernilai <0,001 mg/l; parameter Nitrit rata-rata bernilai <0,005 mg/l; untuk parameter Fosfat berkisar antara <0,005-0,015 mg/l  dan parameter Amoniak berkisar antara <0,064-0,109 mg/l. Kisaran parameter Fosfat dan Amonial masih di bawah baku mutu yang ditetapkan untuk kehidupan biota laut. Secara umum perairannya termasuk bersih (tidak tercemar).

 

 


 

 


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Jumlah Penduduk
Penduduk yang tinggal di Pulau Lepar berjumlah 6.603 jiwa yang terdiri dari laki-laki sejumlah 3.426 jiwa dan perempuan sejumlah 3.177 jiwa dengan sex ratio 108. Desa Tanjung Sangkar merupakan desa yang paling banyak penduduknya (2.139 jiwa) dan Desa Kumbung merupakan desa yang paling sedikit jumlah penduduknya (511 jiwa).  Kepadatan penduduk di Pulau Lepar adalah 26 jiwa/km2.  Penduduk yang tinggal di Pulau Lepar berasal dari Suku Melayu, Bugis, Jawa dan sebagainya.

Tingkat Pendidikan
Pulau Lepar telah memiliki sarana pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA).  Desa Tanjung Labu merupakan desa yang memiliki sarana pendidikan paling banyak, sedangkan Desa Kumbung merupakan desa yang tidak memiliki sarana pendidikan baik dari tingkat TK maupun SLTA.

Mata Pencaharian
Mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Lepar Pongok adalah petani, nelayan, pertambangan, industri, pedagang, PNS, konstruksi, buruh bangunan dan lain sebagainya.  Sebagian besar masyarakat yang tinggal di Pulau Lepar adalah nelayan sekaligus petani atau penambang. Masyarakat melaut apabila kondisi laut memungkinkan dan sedang musim ikan (Bulan November sampai Bulan Mei).  Pada bulan-bulan tidak ada ikan, yaitu pada Bulan Juni sampai Oktober mereka tidak melaut, namun menggarap ladang pertanian dan sebagian menambang timah. Komoditi laut yang potensial di pulau ini adalah ikan.  Komoditi pertanian yang utama adalah lada putih dan kelapa sawit. Pulau ini juga memiliki komoditi tambang berupa timah panas.

Agama
Sebagian besar masyarakat Pulau Lepar memeluk Agama Islam.  Agama lain yang dipeluk oleh masyarakat Pulau Lepar adalah Kristen Protestan dan pemeluk kepercayaan. Untuk dapat menjalankan aktivitas keagamaan, pada masing-masing desa sudah dilengkapi dengan masjid, surau dan vihara.

Kondisi Sosial dan Budaya Masyarakat

(a)  Adat Istiadat

Adat istiadat yang ada dalam masyarakat di Pulau Lepar adalah nelayan tidak melaut pada Hari Jum’at dan adanya tradisi Buang Jong (sesaji berupa makanan yang dihanyutkan ke laut) yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Kumbung dan biasanya dilakukan pada akhir musim kering (tahun ini direncanakan pada akhir Bulan Juni).  Selain itu, ada juga tradisi Nganggung, yaitu makan bersama dengan menggunakan tempayan yang dibawa ke masjid, terutama pada acara Hari Besar Islam dan apabila ada tamu yang dianggap penting.

(b)  Pranata Sosial dan Pelapisan Sosial

Pranata sosial atau lembaga masyarakat pada dasarnya merupakan kumpulan norma-norma sosial sebagai upaya manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya dan menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.  Beberapa lembaga sosial yang berkembang di Pulau Lepar, yaitu berupa lembaga keluarga, terutama menyangkut pola hubungan dalam keluarga inti (batih), lembaga ekonomi (sistem upah, jual beli, sewa, gadai, koperasi dan lain-lain), lembaga pemerintahan desa, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan dan lembaga sosial lainnya.

Lembaga-lembaga sosial seperti Badan Perwakilan Desa, HNSI, lembaga pendidikan, penyuluhan pertanian dan lain-lain berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.  Perkembangan lembaga sosial ini umumnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat, serta persepsi dan sikap masyarakat terhadap lembaga tersebut.  Lembaga pemerintahan desa cukup berperan dalam menampung dan mewujudkan aspirasi masyarakat.  Selain itu, keberadaan lembaga pemerintahan desa ini sangat diakui kedudukannya oleh masyarakat.  Bahkan umumnya kepala desa merupakan salah satu tokoh informal setempat yang cukup berpengaruh terhadap warganya. Lembaga keagamaan (terutama Agama Islam) berkembang cukup pesat karena sebagian besar penduduk Pulau Lepar beragama Islam.  Kegiatan yasinan, arisan, pengajian dan rukun kematian cukup aktif dilaksanakan.  Lembaga keagamaan ini juga didukung dengan berbagai fasilitas seperti masjid dan langgar (tempat ibadah umat Islam).

Pelapisan sosial umumnya tidak begitu jelas, walaupun sebenarnya ada, seperti aparat desa dengan warga masyarakat, tokoh informal dengan masyarakat, pemilik kapal (juragan) dengan buruh penangkap ikan dan sebagainya.  Dasar pelapisan sosial ini dapat terjadi karena faktor pendidikan, ekonomi, pekerjaan maupun kekuasaan.  Kepala desa, ketua RT serta tokoh agama atau ulama dan guru mengaji merupakan tokoh informal yang dihormati dan sering dimintakan pendapatnya dalam pemecahan masalah sehari-hari.   

 


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

KONDISI EKOSISTEM PESISIR

Terumbu Karang
Secara umum ekosistem terumbu karang di Pulau Lepar memiliki  2 karakteristik yang berbeda antara bagian Barat Pulau Lepar dengan bagian Timur Pulau Lepar.  Bagian Barat Pulau Lepar merupakan daerah yang terlindung, substrat didominasi pasir berlumpur,  dengan karakteristik perairan relatif keruh; sementara bagian Timur Pulau lepar memiliki keterbukaan dengan arah datangnya angin, substrat didominasi pasir, serta  karakteristik perairan lebih jernih dibandingkan daerah barat Pulau Lepar.  Stasiun pengamatan (sampling) CR 2, CR 3, dan CR 4 berada di bagian Timur Pulau Lepar; sementara CR 1 dan CR 5 berada di bagian Barat Pulau Lepar Ekosistem terumbu karang di Pulau Lepar memiliki penutupan karang hidup berkisar antara 27,50% sampai 71,00%. Hal ini berarti ekosistem terumbu karang di Pulau Lepar termasuk kategori sedang hingga baik. Penutupan karang hidup paling tinggi ditemukan di stasiun CR 3, sedangkan stasiun dengan penutupan karang hidup paling rendah adalah CR 1. Stasiun dengan ekosistem terumbu karang yang termasuk kategori sedang adalah stasiun CR 1, CR 4 dan CR 5; sedangkan stasiun yang termasuk kategori baik adalah stasiun CR 2 dan CR 3.
Penutupan karang hidup lebih didominasi oleh bentuk pertumbuhan karang masif (CM), terutama dari genera Porites yang relatif lebih tahan terhadap sedimen. Dominasi selanjutnya adalah karang berbentuk foliose (CF) dan encrusting (CE).  Bentuk pertumbuhan karang hidup dengan penutupan paling rendah di stasiun CR 1 adalah Acropora digitata (ACD).  Karang mati dan pecahan karang yang merupakan indikasi terjadi kerusakan karang cukup tinggi, DCA mencapai 25,67% dan R 8,00%.  Komponen penyusun substrat dasar lainnya yang tercatat di stasiun CR 1 adalah Makro alga, Zoanthid, Spons, dan pasir.

Padang Lamun
Berdasarkan hasil survei, penutupan lamun di Pulau Lepar berkisar antara 26,3% hingga 90,8%.  Dari 4 lokasi pengambilan data, stasiun L4 memiliki penutupan paling tinggi dibandingkan stasiun lainnya. Sementara stasiun dengan penutupan lamun paling rendah ditemukan di stasiu L1. Secara keseluruhan di Pulau Lepar tercatat sebanyak 5 jenis lamun, yaitu Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii.

Stasiun L1 ekosistem padang lamun memiliki tipe mixed species atau spesies campuran antara Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii, dengan formasi tegak lurus garis pantai tidak terlalu jelas terlihat. Berbeda dengan stasiun L1, di stasiun L2 formasi terlihat jelas dari pantai hingga ke arah laut.  Formasi di daerah pantai didominasi jenis Cymodocea rotundata, sementara formasi ke arah laut merupakan spesies campuran dari jenis Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Jenis lamun paling banyak ditemukan di stasiun L3.  Dari 6 jenis lamun yang ditemukan di Pulau Lepar secara keseluruhan, 4 diantaranya ditemukan di stasiun L3.  Formasi di bagian pantai didominasi jenis Cymodocea rotundata, lebih ke arah laut formasi merupakan campuran dari Cymodocea rotundata dan Syringodium Isoetifolium. Di bagian depan berbatasan dengan ekosistem terumbu karang, formasi merupakan campuran dari jenis Thalasia hemprichii dan Enhalus acoroides. Berbeda dengan stasiun lainnya, di stasiun L4 lamun sangat tebal, dengan lebar lebih dari 1 km.  Bagian depan merupakan formasi monospesifik dari jenis Enhalus acoroides, sementara di bagian darat merupakan campuran antara Enhalus acoroides dan Thalssia hemprichii.

Hutan Mangrove
Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap mangrove di Pulau Lepar, ketebalan area mangrove ke arah darat pada keempat lokasi pencuplikan data berkisar antara 50 m hingga 2,5 km. Identifikasi lapangan ditemukan sebanyak 5 famili dan 9 jenis mangrove di keseluruhan stasiun pengamatan. Total kerapatan mangrove menggambarkan status kondisi mangrove pada suatu kawasan. Berdasarkan hasil survei, kerapatan mangrove di kawasan Pulau Lepar berkisar antara 884 tegakan/Ha hingga 2122 tegakan/Ha. Menurut kriteria Menteri Negara Lingkungan Hidup, hutan mangrove di kawasan Pulau Lepar termasuk dalam kategori sangat padat hingga kategori jarang.  Kerapatan paling tinggi terdapat di stasiun M2 sedangkan kerapatan paling rendah terdapat di stasiun M3.

KONDISI EKOSISTEM DARATAN

Flora
Flora daratan yang terdapat di Pulau Lepar berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan masyarakat setempat terdiri atas tanaman perkebunan (karet, lada, kelapa sawit), tanaman palawija (tanaman jagung, ketela pohon, ubi jalar, kacang tanah), tanaman sayuran (kacang panjang, sawi, cabe, tomat, terong, kangkung), tanaman buah-buahan (alpukat, rambutan, pisang, nanas, kelapa, jambu mete) dan hutan sekunder.   

Fauna
Fauna/satwa daratan yang terdapat di Pulau Lepar berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan masyarakat setempat terdiri atas rusa, kancil, monyet, ular, tupai tiga warna, biawak, burung kutilang, burung pipit, burung gereja, burung betet, dan burung beo.


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya

Lahan yang terdapat di Pulau Lepar berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan masyarakat setempat digunakan untuk pemukiman, pertambangan, tanaman perkebunan (karet seluas 20 hektar, lada seluas 43 hektar, kelapa sawit), tanaman palawija (tanaman jagung seluas 13 hektar, ketela pohon seluas 7 hektar, ubi jalar seluas 23 hektar, kacang tanah seluas 2 hektar), tanaman sayuran (kacang panjang seluas 9 hektar, sawi seluas 1 hektar, cabe seluas 20 hektar, tomat seluas 2 hektar, terong seluas 6 hektar, kangkung seluas 4 hektar), tanaman buah-buahan (alpukat seluas 2 hektar, rambutan seluas 23 hektar, jambu-jambuan seluas 15 hektar, buah lainnya seluas 27 hektar) dan hutan sekunder.


Lingkungan


Sarana dan Prasarana

Jaringan Transportasi

Sarana transportasi utama antar desa yang digunakan oleh penduduk Pulau Lepar adalah sepeda motor, sedangkan untuk pergi ke ibukota kabupaten (Toboali) menggunakan kapal/speed boat.  Akses untuk mencapai desa-desa dari ibukota kecamatan (Tanjung Labu) dan ibukota kabupaten (Toboali) selengkapnya disajikan pada Tabel dibawah:

Tabel: Jarak Desa ke Ibukota Kecamatan dan Ibukota Kabupaten

No.

Nama Desa

Jarak ke Ibukota Kecamatan (Km)

Jarak ke Ibukota Kabupaten (Km)

1.

Tanjung Labu

0

62

2.

Tanjung Sangkar

21

48

3.

Kumbung

22

48

4.

Penutuk

22

41

Sumber : Data Primer PT. Tigacakara Gemakarya / Survei Lapangan (2008)

Jalan yang ada di Pulau Lepar sebagian besar sudah beraspal, terutama jalan utama kecamatan dan sebagian lagi terbuat dari beton yang merupakan hasil pembangunan dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Pedesaan.  Kantor-kantor pemerintahan baik di tingkat desa sampai Kecamatan sudah ada, namun kantor tersebut sebagian tidak dibuka atau tidak digunakan, seperti kantor desa di empat desa dan kantor Polsek Lepar Pongok.  Kantor pemerintahan yang masih digunakan adalah Kantor Kecamatan Lepar Pongok  dan Koramil Lepar Pongok.

Pelabuhan umum utama di Pulau Lepar adalah di Penutuk.  Pelabuhan ini sudah permanen dan terbuat dari beton dengan panjang jetty sekitar 200 meter. Pelabuhan ini merupakan tempat masuknya barang dan kebutuhan lainnya bagi masyarakat yang tinggal di Pulau Lepar dan merupakan akses terdekat menuju Pulau Bangka, yaitu ke Pelabuan Sadai, Toboali.  Sedangkan di tiga desa lainnya juga ada pelabuhan, namun belum permanen dan terbuat dari papan kayu dengan panjang jetty sekitar 50 meter.  Pelabuhan ini sebagian besar digunakan oleh nelayan.  Angkutan laut yang ada berupa speed boat dan perahu yang tersedia setiap hari.

Jaringan Listrik

Sumber penerangan dan listrik bagi masyarakat adalah PLTD dan Diesel (Genset).  Dalam kondisi normal, listrik yang bersumber dari PLTD bisa digunakan oleh masyarakat dari jam 18.00 sampai jam 24.00.  Namun, beberapa bulan terakhir PLTD tidak dapat digunakan karena sulitnya pasokan BBM.  Untuk memenuhi kebutuhan listrik dan penerangan, masyarakat menggunakan Genset di rumah masing-masing.  Jumlah rumahtangga pengguna listrik selengkapnya disajikan pada Tabel di bawah.

 

Tabel: Jumlah Rumahtangga Pengguna Listrik di Pulau Lepar Tahun 2006

No

Nama Desa

Jenis Prasarana Listrik

(Rumahtangga)

Jumlah

 (Rumah tangga)

PLN

Diesel

Sendiri

Diesel

Orang Lain

Minyak

Tanah

1.

Tanjung Labu

280

212

-

3

495

2.

Tanjung Sangkar

-

452

-

5

457

3.

Kumbung

-

93

-

31

124

4.

Penutuk

-

562

-

2

564

 

Jumlah

280

1.319

-

41

1.640

Sumber: Diolah dari BPS Kabupaten Bangka Selatan (2007)

Jaringan Telekomunikasi

Sarana penyampaian informasi yang dimiliki oleh masyarakat di wilayah Pulau Lepar  berupa wartel yang terdapat di Desa Tanjung Sangkar serta TV dan tape/radio yang terdapat di masing-masing desa.  Jumlah dan jenis prasarana informasi di Pulau Lepar selengkapnya disajikan pada Tabel berikut:

 

Tabel: Jumlah dan Jenis Prasarana Informasi di Pulau Lepar Tahun 2006

 No

Nama Desa

Jenis Prasarana Informasi (Unit)

Jumlah (Unit)

Wartel

Parabola

Televisi

Radio

Tape

1.

Tanjung Labu

-

82

82

170

177

511

2.

Tanjung Sangkar

1

90

90

385

115

681

3.

Kumbung

-

16

16

32

31

95

4.

Penutuk

-

58

58

302

156

574

 

Jumlah

1

246

246

889

479

1.861

Sumber: Diolah dari BPS Kabupaten Bangka Selatan (2007)

Air Bersih dan Sanitasi Lingkungan

Sumber air bersih masyarakat sebagian besar adalah sumur, baik itu sumur gali maupun sumur bor. Hanya beberapa rumah tangga yang menggunakan air sungai/danau dan air hujan.  Jumlah rumahtangga pengguna air bersih selengkapnya disajikan pada Tabel berikut

Tabel: Jumlah Rumahtangga Pengguna Air Bersih Tahun 2006

No.

Nama Desa

Jenis Prasarana Air Bersih (Rumahtangga)

Jumlah (Rumahtangga)

Sumur

Sungai/

Danau

Air Hujan

1.

Tanjung Labu

478

15

-

493

2.

Tanjung Sangkar

452

-

-

452

3.

Kumbung

121

-

-

121

4.

Penutuk

520

41

-

561

 

Jumlah

1.571

56

-

1.627

Sumber: Diolah dari BPS Kabupaten Bangka Selatan (2007)

Kondisi sanitasi lingkungan di Pulau Lepar dapat dikatakan cukup baik. Hal tersebut dapat dilihat antara lain dari kondisi masyarakat yang sebagian besar sudah memiliki MCK sendiri.


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bangka Selatan dan pengamatan di lapangan, pemanfaatan ruang Pulau Lepar diperuntukkan bagi pemukiman, kehutanan, perkebunan (karet, lada, kelapa sawit) dan pertambangan (bijih timah).


Kendala Pengembangan

Karang banyak diambil dan digunakan oleh masyarakat sebagai bahan bangunan.  Hal ini apabila dibiarkan akan menimbulkan permasalahan lebih lanjut bagi kelestarian terumbu karang yang akan berakibat semakin berkurangnya populasi ikan yang hidup di karang tersebut.


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com