MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

NUSAKAMBANGAN

Nama Lain :
Propinsi : JAWA TENGAH
Kabupaten : KABUPATEN CILACAP
Kecamatan : CILACAP SELATAN
Koordinat :

Gambaran Umum

Pulau Nusakambangan terletak di sebelah Selatan Pulau Jawa dan merupakan pulau kecil terluar yang berbatasan dengan Australia. Di sebelah Utara pulau ini terdapat selat yang terkenal dengan sebutan Segara Anakan. Selat ini memisahkan Pulau Nusakambangan dengan daratan Pulau Jawa, khususnya dengan Kota Cilacap. Kota Cilacap merupakan daerah terdekat dan berbatasan langsung dengan kawasan Pulau Nusakambangan. Sebelah Selatan Pulau Nusakambangan adalah Samudera Hindia yang terkenal dengan ombaknya yang besar. Luas Pulau Nusakambangan adalah sekitar 210 km2 atau 21.000 ha, memanjang dari Barat ke Timur. Pulau ini memiliki titik referensi (TR) 143.

Admisintrasi Wilayah dan Letak Geografis

Secara administratif Pulau Nusakambangan termasuk dalam wilayah Desa Tambakreja Kecamatan Cilacap Selatan Kotif Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan letak geografis kawasan Pulau Nusakambangan yaitu pada 70 30’ – 70 35’ LS dan 1080 53 – 1090 03’BT.

Aksesibilitas

Untuk mencapai Pulau Nusakambangan perjalanan dapat dilakukan melalui Pelabuhan Wijayapura di Kota Cilacap dengan menggunakan kapal penyeberangan ferry milik Departemen Kehakiman. Setelah mengarungi Selat Segara Anakan, kapal tersebut akan mendarat di Pelabuhan Sodong di Pulau Nusakambangan yang sekaligus berfungsi sebagai pintu gerbang utama pulau tersebut. Penyeberangan dengan kapal ini membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Dalam satu hari terdapat lima kali jadwal pemberangkatan, dengan pemberangkatan paling pagi pukul 06.00.  Di Pulau Nusakambangan hanya terdapat dua bus yang mengangkut para karyawan lembaga pemasyarakatan untuk pergi dan pulang kerja.


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Penduduk

Pulau Nusakambangan lebih dikenal sebagai lembaga pemasyarakatan (LP) berkeamanan tinggi di Indonesia.   Pulau ini tidak berpenghuni selain dari para narapidana dan petugas Lembaga Pemasayarakatan Nusakambangan.  Pengelolaan pulau ini sepenuhnya dilaksanakan oleh Departemen Kehakiman dan HAM.  Sedangkan Pemkab Cilacap hanya mengelola beberapa gua di Nusakambangan sebagai obyek wisata.

Ekonomi dan sosial

Berbagai obyek wisata di Pulau Nusakambangan seperti wisata religius maupun wisata ilmiah hutan tropis telah memberi sumbangan devisa bagi Pemkab Cilacap.  Pengelolaan pariwisata di pulau ini diserahkan kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap, walaupun status kepemilikan Pulau Nusakambangan masih diklaim sebagai milik Departemen Hukum dan HAM. 

Penjualan suvenir berupa batu-batu akik di tempat-tempat wisata di Pulau Nusakambangan dilakukan oleh para napi.  Beberapa pemandu wisata di pulau ini juga merupakan napi di Nusakambangan. 

Letaknya yang berdekatan dengan Kabupaten Cilacap, yaitu Kecamatan Cilacap Selatan menyebabkan banyak nelayan dari Cilacap Selatan melakukan kegiatan penangkapan ikan di sekitar perairan Pulau Nusakambangan.  Mata pencaharian sebagai  nelayan digeluti sebagian besar penduduk yang tinggal di pesisir pantai Selatan Kabupaten Cilacap. 

Terdapat Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) yang merupakan pelabuhan terbesar di pantai Selatan Pulau Jawa, dan 13 tempat Pelelangan Ikan di Cilacap, selain PPSC tersebut.  Pelabuhan Tanjung Intan merupakan pelabuhan ekspor-impor terutama komoditas pertanian. Beberapa perusahaan besar memiliki pelabuhan khusus tersendiri di pantai Selatan Cilacap, seperti Pelabuhan Minyak Pertamina UP IV, pelabuhan Semen milik Holcim yang melakukan penambangan kapur di Pulau Nusakambangan.


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

Flora

Flora di kawasan Pulau Nusakambangan mencakup hutan mangrove (mangrove forest) di Segara Anakan dan hutan tropika (tropical rain florest) di daratan Pulau Nusakambangan. Hutan hujan tropis di Pulau Nusakambangan merupakan hutan alam tropika basah daratan rendah, yang pada kondisi sekarang dapat dikatakan tinggi sebagai relict (sisa akhir) dari yang pernah ada karena di Pulau Jawa, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, tipe hutan seperti ini sudah hampir tidak dijumpai lagi. Dengan demikian hutan-hutan di kawasan Nusakambangan layak jika disebut sebagai “The Last Real Rain forest of Java”.

Tebaran flora di hutan ini sudah hampir tidak merata di kawasan Pulau Nusakambangan. Pada saat ini, keadaan flora di hutan-hutan tersebut, terutama di bagian Barat mulai mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan suatu usaha pelestarian alam yang memadai di kawasan hutan ini.

Berbagai jenis flora yang banyak dijumpai di Pulau Nusakambangan antara lain adalah : bayur (Pterosperum javanicum Jungh), bambu (Bambusa spp), benda (Artocarpus elastica Reinw), beringin (Ficus Benjamin L), cacaratan (Neonauclecalycins Merr), jengkol (Zygia jiriga Jack kostern), kedawung (Parkia roxburghli g.Don), kelapa (Cocos nucifera L), kelumpang (Sterculla foetida L), kenanga (Canangan odorata Hook flct), kedondong (Spondia pennata Kurz), kemiri (Aleurites moluccana Wild), kalimanga (Kleinhovia hospita L), kramina (Dysoxyium masrocarpum BI), kendal (Cardia dichotama Forst), laban (Vitex pubesceas Vahl), matoro lokal (Leucaenae glaucal), lankep (Arenga abstuxfolia Mart), mundu (Garcinia balica Miq), nangka (Articarpus heterophyllus Lam), nyamplung (Colophyllum inophyllum L), pelalar/kruing pantai (Dipterocarpus terali BI), randu alas (Gossampinus malabararica Alst), rengas (Gluta renghas L), rotan (Calamus sp), segon (Albizia chinensis Merr), sinduk (Pentace polyantha Sm), talok (Microcos tomentosa Sm), wayu (Knena laurina Warb), walikukun (Schoutenia kunsleri King), dan wungu/bungur (Lagestroemia speciosa Pers).

Para ahli botani menyebutkan bahwa jenis Diptercartpus literalis (pelalar/kruing pantai) yang dijumpai di kawasan Pulau Nusakambangan merupakan jenis tanaman endemik yang  harus dilindungi, karena hanya tumbuh di daerah ini dan tidak dijumpai di negara manapun di dunia.

Fauna

Beberapa satwa yang terdapat di Pulau Nusakambangan adalah satwa-satwa yang memiliki habitat hutan hujan tropis. Akan tetapi beberapa satwa lain merupakan binatang langka yang sekarang amat jarang dijumpai di Pulau Jawa seperti macan tutul, harimau kumbang, landak dan burung elang.

Beberapa jenis mamalia yang mendiami  Pulau Nusakambangan adalah kera (Macaca spp), lutung (Prebystis cristanus), harimau tutul (Panthera pardus), harimau kumbang (Panthera pardus), kalong (Pteropus spp), babi hutan (Sus spp), kijang (Munticus muncak), kancil (Herpetes javanicus), musang (Tragalnus spp), lingsang (Paradoxurus ermaproditus), tupai (Lariscus spp), landak (Hystrix grachyura), dan kelelawar (Hypposlderos commertonl).

Disamping jenis mamalia, beberapa jenis reptil dan amphibia juga ada di pulau ini, yaitu : buaya (Crocodytus acutus), biawak (Varanus salvator), bengkarung (Mabunya spp), ular cobra (Bangarus spp), ular hijau (Drophis spp), ular pohon (Raana spp), katak air (Rana spp), penyu (Chelonia mydas), dan ular sanca (Phyton spp).

Jenis burung atau aves yang terdapat di Pulau Nusakambangan adalah : kuntul (Bubucus ibis), blekok (Ardeola Ardeola rallaoides), bangau putih (Egretta garzetta), bangau tongtong (Leptotillis lavanicus Host), burung raja udang (Hylcyon cloris), burung cucuk urang (Hylcyon cyanoventris Vicili), elang elanus (Cacrulus), alap-alap (Accipiter spp), tengkek (Pelaugopsis sp), betet (Peltacula alexandri), katik (Treron griseicapilla), emprit (Lonchura spp), burung sesap madu (Anthereptes malacensir), prenjak (Prinia mouruata), kutilang (Pycnonotus spp), trotokan (Pycnonotus spp), sikatan (Rhipichira spp), camar (Sterna albifron), tekukur (Streptopella spp), perkutut (Geopillia spp), ayam hutan merah (Gallus sp), gemak (Arborophilia spp), ayam-ayaman (Ixobrichus cinnamomous), gagak (Corus sp), bubut (Centropus bunlensisi), rangkok (Buceros rhinocerus Vicilli), merak (Paromucicus), milwis (Dendrocygna avanicus), srigunting (Dcirurus macrocertus Klass), kepodang (Oridus Chinensis), walet/lawet (Callocalla spp).

Perikanan

Sekitar pulau ini ditemukan beberapa spesies ikan karang yang berasosiasi terhadap ekosistem terumbu karang seperti ikan hias, ikan demersal dan ikan pelagis serta udang lobster.

Pulau ini dijadikan sebagai tempat penangkapan ikan dan udang bagi nelayan Cilacap. Hasil tangkapan yang dominan terdiri dari ikan pelagis dan demersal. Jenis ikan pelagis ekonomis penting yang tertangkap di perairan ini antara lain : tembang, kembung, cakalang, tenggiri, dan tongkol. Jenis ikan demersal yang dominan adalah jenis kerapu, kakap, baronang, bawal, ekor kuning, kurisi dan berbagai jenis udang lobster serta jenis ikan lainnya.

Selain berbagai jenis ikan (ikan hias maupun ikan karang), perairan pulau ini juga sangat kaya akan terumbu karang. Terumbu karang yang dominan adalah Acropoda sp, Echinopora sp, Turbinaria sp, Porites sp, Montipora sp, Pavona sp, Goniopora sp dan Millepora sp.

 

Pariwisata

Potensi wisata yang ada di Pulau Nusakambangan antara lain:

Kawasan wisata Segara Anakan, dengan potensi wisata sebagai berikut:  Desa Nelayan (yang meliputi desa Pegagan, desa Bugel dan desa Muara Dua), Suaka Hutan Mangrove, Panorama Pantai Segara Anakan, Panorama Selat Indralaya, dimana terdapat panorama pertemuan antara air laut dan air tawar, panorama pantai indah serta atraksi ikan pesut.

Kawasan Nusakambangan dengan pantai pasir putih dan pasir abu-abu serta berbagai flora dan fauna seperti hutan mangrove,    hutan hujan tropis dan berbagai jenis mamalia, reptilia dan bangsa burung.

Pantai permisan yang memiliki ombak besar, karang terjal dan panorama laut yang indah.

Pantai Cimiring. Obyek wisata dengan benteng kuno peninggalan Portugis dimana didalamnya terdapat meriam kuno yang masih utuh dan terdapat Mercusuar Cimiring yang dibangun tahun 1855-1857.

Obyek wisata bekas lembaga pemasyarakatan , yang terdiri dari Lapas Karang tengah, Layas Gliger, Layas Limusbuntu, Layas Nirbaya dan Layas Karanganyar.

Gua Ratu, yang memiliki kedalaman lebih dari 4 km, Gua Putri, Gua Pasir dan Gua Masigit Selo yang biasa digunakan untuk kepentingan ibadah.

Pantai Karang Bandung (Pulau Majethi) yang dipercayai sebagai tempat tumbuhnya bunga wijayakusuma, Benteng Pendem, Benteng Klingker,  Monumen Altileri, Cagar Alam/ Hutan Lindung, Pantai Ranca Babakan dengan penyeberangan melalui Pelabuhan penyeberangan ASDP Lomanis Cilacap.


Sumberdaya Non Hayati

Bahan galian tambang

Terdapat bukit-bukit batu kapur di Pulau Nusakambangan.  Penambangan kapur di pulau ini dikelola oleh PT. Holcim-Cilacap. Kegiatan penambangan tersebut mengepras perbukitan dengan cara meledakkan bukit tersebut. Namun kegiatan penambangan batu kapur ini mendapat protes dari para mahasiswa, lembaga masyarakat dan nelayan yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat dan Mahasiswa Peduli Alam Nusakambangan (Gemmpa Nusa), mereka menuntut supaya penambangan batu kapur dihentikan.  Hal ini dikarenakan jika kegiatan penambangan batu kapur terus berlangsung bukit-bukit kapur yang menjulang ke langit akan semakin rata. Kawasan Cilacap tidak memiliki lagi pelindung dari kemungkinan terjadinya tsunami, padahal bukit tersebut cukup ampuh untuk menahan tiupan angin maupun tsunami dari arah Selatan.


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya

Terdapat kelompok Nelayan yang bermukim pada "kampung laut" dengan jumlah penduduk 600 kepala keluarga.

Wilayah Karst telah mendorong PT Holcim Indonesia untuk melakukan penambangan. Namun, kegiatan ini telah dihentikan karena mendapat protes dari mahasiswa, lembaga permasyarakatan dan nelayan yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat dan mahasiswa Peduli Alam Nusakambangan (Gemmpa Nusa). 

Kewenangan pengelolaan pulau lainnya masih berada di tangan Kementerian Hukum dan HAM sehingga keterbatasan akses dalam pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan, perikanan, pertanian dan kehutanan. Sebagai akibatnya , potensi sumberdaya yang semestinya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat belum dapat digali secara optimal.


Lingkungan

 

Topografi

Pantai sebelah Selatan pulau ini relatif terjal dengan bukit berbatu, karena posisinya yang langsung berhadapan dengan laut lepas. Perairan sebelah Utara adalah Selat Segara Anakan yang merupakan daerah yang landai dan dangkal.  Sebelah utara pulau ini sebagian berupa batuan breksi vulkanis tertutup oleh batuan gamping yang juga merupakan pegunungan gamping dengan topografi berbukit-bukit.

Secara umum Pulau Nusakambangan terdiri dari dua macam batuan, yaitu batuan breksi vulkanis di lapisan bagian bawah dan batuan gamping bagian atasnya. Karena perkembangan erosi sebagian besar batuan berwarna putih, seperti di Permisan dan Pasir Putih.

 

Oseanografi

Perairan sebelah Utara Pulau Nusakambangan merupakan daerah yang landai dan dangkal serta tertutup oleh formasi terumbu karang dengan ombak yang relatif tenang dengan kedalaman 10 – 30 meter. Pulau ini memiliki pasang surut dengan tipe campuran yang didominasi tipe ganda (semi diurnal). Salinitas perairan di sekitar pulau tersebut berkisar sekitar 32o/oo, sedangkan kecerahan perairan sekitar kurang lebih 25 meter.

Klimatologi

Iklim di wilayah pulau ini tergolong tropis kering dan termasuk iklim kering tipe D/E berdasarkan zona agroklimat. Musim kemarau berlangsung selama + 3 bulan (Juni – Agustus) dengan curah hujan kurang dari 200 mm/bulan dan musim penghujan selama  5 bulan (November – Maret) dengan curah hujan lebih dari 200 mm/bulan.  Kecerahan pada musim hujan sekitar 30 – 60% setiap hari sedangkan pada musim kemarau tingkat kecerahan berkisar antara 70 – 80% dengan tingkat kelembaban nisbi sekitar 70 – 85%. Suhu udara terdingin di Pulau Nusakambangan adalah 220 C dan terpanas sekitar 330 C sedangkan suhu rata-rata adalah sekitar 280 C. Bulan-bulan terdingin terjadi pada saat pergantian musim kemarau ke musim penghujan, yaitu sekitar bulan Agustus hingga Oktober. Bulan-bulan terpanas terjadi pada musim kemarau sekitar Juni hingga Juli.


Sarana dan Prasarana

 

Sarana dan prasarana yang mendukung dinamika kehidupan di Pulau Nusakambangan adalah Pelabuhan laut Sondong, yang bisa dijangkau dari pelabuhan Wijayapura Cilacap dengan waktu tempuh 15 menit dengan menggunakan kapal penyeberangan milik Departemen Kehakiman serta bandara udara perintis.


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan

 

Potensi pengembangan

Di pulau ini ada hutan alam tropis Nusakambangan. Sebagian masih dipertahankan sebagai kawasan Cagar Alam Hutan Tutupan. Cagar alam ini berfungsi sebagai tempat untuk melestarikan plasma nutfah, mempertahankan jenis-jenis endemik, serta merupakan habitat satwa liar seperti macan kumbang, elang jawa, lutung, trenggiling dan beberapa jenis burung yang tidak lagi dijumpai di daratan kota Cilacap dan sekitarnya. Banyak lahan di daerah itu yang sudah dibudidayakan untuk pertanian. Misal ada kebun kelapa, tambak udang dan perkebunan karet.

Salah satu ancaman yang serius adalah pengeboman ikan oleh nelayan sekitar dan penggunaan bahan kimia (potasium sianida) dalam melakukan penangkapan ikan dan udang lobster di daerah terumbu karang, meskipun sekarang frekuensinya sudah semakin menurun. Adapun permasalahan yang terjadi pada bagian selatan pulau ini adalah abrasi pantai karena berhubungan langsung dengan laut lepas. Permasalahan lain yang sering timbul adalah pencurian kayu dan penebangan liar oleh masyarakat luar pulau yang mengganggu kelestarian hutan.  Perlu dilakukan pengelolaan secara terpadu dan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan ilegal di pulau ini agar kelestarian alamnya terpelihara.

Pantai Rancababakan merupakan wilayah yang sangat cocok untuk budidaya rumput laut dan budidaya ikan laut lainnya, sedangkan Pantai Teluk Solok Nipah sangat cocok untuk kegiatan penyelaman karena perairannya yang jernih dan banyak terumbu karang. Pantai Teluk Kemudu sangat cocok untuk melakukan olahraga selancar air karena gelombangnya relatif besar. Pelestarian penyu dapat dilakukan di pulau ini, yang merupakan salah satu upaya untuk melestarikan sumberdaya perikanan ini dari kepunahan, dimana daerah berpasir putih Nusakambangan dipandang sebagai lokasi yang sangat tepat.

Pulau ini juga memiliki beberapa pantai berpasir putih yang sangat indah, di antaranya, Pantai Permisan, Muara Empat, Pasir Putih, Indraloka, Pantai Karangbandung dan Pantai Cimiring.  Selain itu terdapat sekitar 25 gua alam, di antaranya, Goa Ratu, Goa Putri, Goa Pasir, Goa Lawang, Goa Batu Lawang, Goa Bantarpanjang, Goa Salak, Goa Ketapang, serta goa yang menjadi habitat kelelawar yang dikenal dengan Goa Lawa. Tempat-tempat tersebut merupakan obyek wisata yang sangat berpotensi untuk dikembangkan.  Juga masih banyak tempat dan obyek wisata lainnya di pulau ini yang sangat berpotensi bila dipelihara dan dikembangkan, terutama setelah pasca tsunami beberapa tempat perlu diperbaiki dan dibangun lagi fasilitas yang hancur. Peluang investasi di Pulau Nusakambangan ini adalah sarana transportasi darat dan laut, akomodasi berupa lapangan golf dan fasilitas wisata air.

Pantai Selatan Pulau Nusakambangan merupakan daerah terumbu karang merupakan habitat ikan hias dan udang lobster. Dari segi usaha penangkapan ikan, alat tangkap yang cocok dikembangkan di sekitar pulau ini antara lain adalah purse seine, pancing atau rawai, gillnet, serta alat tangkap bubu sehingga sumberdaya ikan yang tersedia di sekitar pulau dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin demi kesejahteraan masyarakat di sekitar pulau tersebut. 


Kendala Pengembangan

 

Kewenangan pengelolaan Pulau Nusakambangan masih berada di tangan  Departemen Hukum dan HAM sehingga terjadi keterbatasan akses dalam pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan, peternakan, pertanian serta kehutanan yang ada di pulau ini. Sebagai akibatnya, potensi sumberdaya yang semestinya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat belum dapat digali secara optimal.

Pulau Nusakambangan merupakan pulau yang hanya dihuni oleh orang-orang tertentu dan tidak terlalu luas. Pulau ini untuk masa yang akan datang harus dikelola secara bersama-sama, bukan hanya milik salah satu departemen, sehingga sumberdaya alam yang ada di pulau ini dapat dikelola dengan baik dan berkesinambungan. 


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com