MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

MARSELA

Nama Lain : MASELA
Propinsi : MALUKU
Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA
Kecamatan : BABAR TIMUR
Koordinat :

8° 8' 39,000" LS - 129° 52' 10,000" BT


Gambaran Umum

 

Pulau Masela merupakan salah satu pulau terluar di Kepulauan Babar. Di pulau ini terdapat titik dasar no. TD.108 dan titik referensi no. TR.108. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Babar Timur, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Secara geografis, pulau ini terletak pada koordinat 08o 13’ 29’’ LS dan 129o 49’ 32’’ BT. 

Untuk mencapainya, kita terlebih dahulu menumpang pesawat perintis dari Ambon menuju Saumlaki. Tiba di Saumlaki perjalan berlanjut dengan menggunakan kapal laut selama tiga jam.

 


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Penduduk berjumlah 2.879 jiwa dengan taraf hidup yang masih rendah. Mereka memiliki mata pencaharian utama di bidang perikanan juga sektor pertanian dan perdagangan.


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

 

Potensi Sumberdaya Teresterial

Penggunaan lahan daratan pesisir sampai batas 1 km dari pantai di P. Masela meliputi hutan primer, hutan sekunder, semak belukar dan alang-alang, ladang/tegalan, kebun campuran, dan pemukiman. Penggunaan lahan di kawasan ini didominansi oleh hutan belukar, hutan primer dan sekunder, sisanya merupakan kebun campuran, ladang, tegalan, perkampungan dan tanah kosong. Semak belukar, ladang/tegalan, dan kebun campuran terdistribusi sepanjang pesisir utara pulau Babar. Hutan sekunder dan hutan primer terdistribusi setempat setempat di pesisir timur laut Babar, pulau Wetan dan Dawelor. Pemukiman terkonsentrasi di pesisir timur pulau Babar, pulau Wetan dan Dawelor.

Penggunaan lahan perairan pesisir di P. Masela sampai pada batas zone kelola kabupaten (4 mil laut) meliputi pantai bergisik, pantai berbatu, rataan pasut berpasir, terumbu karang, saaru dan perairan penangkapan dan budidaya laut. Pantai bergisik yang tersusun oleh material pasir – kerikil dan kerakal merupakan lahan kosong yang ditumbuhi vegetasi semak. Pantai berbatu mencakup pantai tebing terjal, platform pantai, dan bongkahan batu karang terdistribusi secara luas di pesisir, juga merupakan lahan kosong yang tidak dimanfaatkan. Panjang garis pantai wilayah Kec. Babar Timur berdasarkan hasil perhitungan ditemukan panjang total garis pantai sejauh 126.01 km. 

Pada rataan pasut berpasir terdistribusi vegetasi lamun, alge dan berbagai biota yang berasosiasi dengannya, dengan penutupan lamun dan alge yang bervariasi. Di luar zone pasang surut, yang merupakan perairan oseanis dimanfaatkan untuk pe-nangkapan ikan dan budidaya perairan. Jenis penangkapan ikan meliputi penangkap-an ikan pelagis, demersal dan karang, sedangkan jenis kegiatan budidaya mencakup budidaya ikan, rumput laut dan teripang tetapi belum dikembangkan.

Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut

Hutan Mangrove

Pulau Masela dari imformasi masyarakat bahwa daerah ini pernah terjadi gempa, terletak pada posisi 129o 51,303 dan -7o 53,663 kondisi substrat adalah Pasir bercampur patahan karang, komunitas mangrove cukup baik dan merupakan daerah sasi ontuk sumberdaya teripang nanas, ditengah kominitas mangrove ini juga dijumpai komunitas lamun. Persen penutupan lahan Anakan (17,11 %), Sapihan (34,21 %) Pohon (48,68 %), Jenis mangrove yang dijumpai adalah Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Xylocarpus molucensis, Avicennia marina, Lumnitzera risomosa, Phempis acidula.

Padang Lamun

Komunitas lamun di perairan P. Masela dijumpai sebanyak 5 jenis yakni, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halophila ovata, Halop Halodule uninervis hila uninervis dan Siringodium isoetifolium, yang mana Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata adalah dua jenis yang dominan dengan tingkat kerapatan jenis yang sangat tinggi dibandingkan dengan tiga jenis lainnya.Karakteristik pulau-pulau dengan pantai yang dominansi karang dan berbatu di P. Masela merupakan salah satu faktor bagi distribusi ekosistem lamun.

Total Kerapatan lamun di P. Masela sebesar 230,33 tegakan/m2 dengan kerapatan terting ditemukan pada jenis lamun Thalassia hemprichii sebesar 114,6 tegakan/m2, selanjutnya jenis, Cymodocea rotundata sebesar 84,33 tegakan/m2, Halodule uninervis sebesar 17,67 tegakan/m2 Halophila ovata sebesar 8,00 tegakan/m2, dan terkecil ditemukan pada jenis Siringodium isoetifolium sebesar 5,67 tegakan/m2. Nilai kerapatan ini hampir berbanding lurus dengan nilai persen tutupan dari masing masing jenis, kecuali pada jenis Halodule uninervis yang mana memiliki persen tutupan yang lebih kecil dari Halophila ovata karena ukuran daun yang relatif lebih kecil seperti jarum (Tabel 2).

Ekosistem lamun juga mempunyai peranan penting bagi kehidupan beberapa biota laut. Ada jenis-jenis ikan yang hidup menetap pada komunitas lamun dan ada juga yang hanya datang mencari makanan (Siganus dan Dugong dugon) atau sekedar mencari tempat perlindungan Selain fungsi tersebut, lamun memiliki kemampuan perangkap (trapped) sedimen, menstabilkan substrat dasar dan menjernihkan perairan. Selain itu, sistem perakaran lamun juga mampu mengikat sedimen sehingga terhindar dari kemungkinan abrasi.. Selain fungsi tersebut, lamun memiliki kemampuan perangkap (trapped) sedimen, menstabilkan sub-strat dasar dan menjernihkan perair-an. Selain itu, sistem perakaran lamun juga mampu mengikat sedi-men sehingga terhindar dari ke-mungkinan abrasi. Karena fungs-fungsi tersebut, maka manusia meman-faatkan padang lamun untuk mencari biota laut yang terdapat di dalamnya dengan cara-cara yang tidak tertanggung-jawab.

Kerapatan lamun dapat berkurang akibat dirusak manusia yang ingin memanfaatkan biota laut yang berlindung di dalamnya. Untuk memulihkan padang lamun yang hilang, dapat dilakukan dengan jalan transplantasi dan melindungi komunitas tersebut dari aktivitas manusia. Kondisi lamun yang baik akan diikuti dengan masuknya sejumlah biota laut yang biasa hidup berasosiasi dengan lamun tersebut. Kehadiran lamun dapat menyuburkan dan meningkatkan produktivitas perairan.

Terumbu Karang

Luas terumbu karang Pulau Masela berdasarkan hasil analisis data citra satelit mencapai 0,68 km2. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir pulau ini sebanyak 67 spesies, seluruhnya termasuk dalam 34 genera dan 12 famili. Komposisi taksa karang tersebut memberikan suatu indikasi bahwa areal terumbu lokasi ini memiliki kekayaan spesies karang relatif rendah.

Dari 29 kategori bentuk pertumbuhan bentik, di perairan pulau ini dijumpai sebanyak 18 kategori bentuk tumbuh yang terdiri dari 15 bentuk tumbuh komponen biotik dan 3 kategori komponen abiotik (patahan karang mati, batuan/karang papan dan pasir). Kategori bentuk tumbuh komponen biotik terdiri dari bentuk tumbuh karang keras (Hard Corals) sebanyak 10 kategori (4 kategori bentuk tumbuh karang Acropora dan 6 kategori bentuk tumbuh karang Non Acropora), karang mati (Dead Corals) 1 bentuk tumbuh, Algae dan fauna bentik lainnya (Other Faunas) masing-masing 2 bentuk tumbuh.

Komponen biotik yang menutupi dasar perairan di kecamatan ini relatif tinggi dengan persen penutupan substrat sebesar 77,06%, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Walaupun komponen biotik memiliki persen penutupan yang tinggi, tetapi kondisi terumbu karangnya berada pada kondisi kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 46,74%. Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik ini dipengaruhi oleh persen tutupan Algae terutama oleh alga halus (turf algae) sebesar 26,02% dan batuan/karang papan sebesar 12,54%. Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu berasal dari karang Non Acropora (36,52%).

Alga

P. Masela memiliki keragaman jenis makro algae sebanyak 7 spesies yang dapat dimasukan ke dalam 4 genus, 4 famili, 3 ordo, dan 3 devisi. Pengelompokannya dalam 3 devisi uta-ma yaitu alga hijau (Chlorophyta) terdiri dari 3 spesies, alga coklat (Phaeophyta) yang ter-diri dari 1 spesies dan alga merah (Rhodo-phyta) yang terdiri dari 3 spesies. Dari jenis-jenis yang tersebut, terdapat beberapa spesies yang memiliki nilai ekonomis yang berasal dari genus Caulerpa, Hypnea dan Gracilaria.

Makro Benthos

Spesies makrofauna bentos yang dijumpai di perairan pasang surut P. Masela sebanyak 19 spesies, dimana 6 spesies diantaranya memiliki nilai ekonomis penting. Spesies-spesies ekonomis tersebut yaitu Anadara granosa, Barbatia antiquate, Gafrarium tumidum, Isognomon isognomon, Telenota ananas, dan Holothuria atra.

Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias)

Perairan Pulau Masela memiliki 196 spesies ikan karang yang tergolong dalam 97 genera dan 32 famili. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya, maka ke-196 spesies ikan karang tersebut dapat dikelompokkan menjadi ikan konsumsi sebanyak 93 spesies dan ikan hias sebanyak 103 spesies. Empat famili ikan yang memiliki jumlah spesies tertinggi masing-masing sebagai berikut: Pomacentridae (35 spesies), Labridae (31 spesies), Chaetodontidae dan Acanthuridae masing-masing sebanyak 15 spesies. Sedangkan genera-genera yang memiliki jumlah spesies tertinggi adalah: Chaetodon (12 spesies), Acanthurus (8 spesies), Pomacentrus dan Scarus masing-masing sebanyak 7 spesies.

Potensi ikan karang di perairan P. Masela diperoleh besar sumber 34 individu yang terdiri dari ikan konsumsi 25 individu dengan biomassa sebesar 0,01 ton dan ikan hias 10 individu. Berdasarkan SK Mentan No. 995 tahun 1999, maka potensi lestari dari ikan karang di perairan ini adalah 17 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak  12 individu dan ikan hias 5 individu. Berdasarkan SK tersebut juga maka potensi ikan karang yang boleh dimanfaatkan di perairan ini adalah 14 individu yang terdiri dari ikan konsumsi sebanyak 10 individu dan ikan hias 4 individu.

Perikanan Tangkap

Di P. Masela, setidaknya ada 6 jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan oleh nelayan di perairan sekitarnya. Mereka menggunakan jaring insang hanyut (drift gill net) untuk menangkap ikan pelagis kecil seperti ikan terbang (Chypsilurus sp), selar (Selar sp; Selaroides sp), tongkol (Auxis thazard) dan beberapa jenis lainnya. Beberapa jenis ikan pelagis kecil ini, juga tertangkap oleh nelayan dengan menggunakan pukat pantai (beach seine), jaring insang lingkar (surrounding gill net), dan pancing tangan (hand line).

Operasi penangkapan ikan dengan pukat pantai (beach seine) dapat menangkap berbagai jenis ikan demersal/karang dan ikan pelagis kecil. Jaring insang lingkar (surrounding gill net) dioperasikan untuk menangkap ikan-ikan yang sering bergerombol seperti ikan kembung (Rastrelliger sp) dan lemuru/”make” (Sardinella sp) jika diapungkan di permukaan laut dan ikan lalosi (Caesio sp) jika ditenggelamkan di dasar laut. Penggunaan pancing tonda (troll line) diperuntukan untuk menangkap ikan-ikan pelagis besar, terutama cakalang (Katsuwonus pelamis), madidihang (Thunnus albacares), tongkol (Euthynnus affinis), dan tuna (Thunnus sp).


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya


Lingkungan

 

FISIOGRAFI

Pulau Masela memiliki topografi perbukitan, dengan ketinggian puncaknya mencapai 450-800 m dari permukaan laut. Pulau ini umumnya berlereng landai, setempat agak terjal. Pola aliran sungai memancar dan hanya berair pada waktu musim hujan.

Bentuk lahan makro di wilayah ini dibagi atas tiga kelas yaitu dataran, dan berbukit dengan lereng datar (0-3%), dan landai/berombak (3-8%) bergelombang (8-15%), dan agak curam (15-30%). Satuan bentuk lahan asal di kawasan kecamatan ini meliputi bentuk lahan asal karst dan denudasional. Bentuk lahan asal karst terdistribusi pada seluruh pulau sedangkan bentuk lahan asal denudasional terdistri-busi pada daerah tengah pulau Babar.

Batuan tersingkap di daerah ini tersusun dalam lima formasi batuan yakni formasi Gamping Koral, Aluvium, Konglomerat, Batupasir Kuarsa, dan Brancuh. Batuan yang tersingkap pada alur-alur sungai yang mengalir ke arah selatan, yaitu sungai Lawang dan di hulu sungai Meterietan berupa serpih yang diperkirakan berumur Yura (Pra Tersier). Pada bagian tengah pulau dijumpai batuan “melange” yang diduga berumur Miosen Akhir hingga Pliosen; terdiri dari bongkahan batuan yang beranekaragam seperti batuan malihan, batu gamping, serpih, dimana batuan-batuan tersebut berasal dari batuan yang lebih tua. Batuan “melange” ini juga tersingkap pada aliran sungai Waikukna dan sungai yang terdapat di utara sungai Popora. Kemudian bagian barat, timur dan sedikit di bagian selatan dijumpai batuan pasir kuarsa yang berumur pilosen.

Mengacu pada Peta Pulau–Pulau Seramata dan Pulau–Pulau Tanimbar No.48 Skala 1: 500.000 yang dikeluarkan oleh DISHIDROS tahun 2003, Batimetri perairan P. Masela memiliki kedalaman perairan yang bervariasi antara 7 – 500 meter. Kelandaian perairan yang dihitung terhadap kontur kedalaman referensi 200 meter menunjukkan bahwa kelandaian perairan berkisar antara 3 – 40 %, dapat dikategorikan sebagai perairan dengan kemiringan landai sampai curam. Bagian pantai Utara dan Selatan memiliki kelandaian sedang dengan tingkat kemiringan 20%. Pantai timur Pulau Masela memiliki tipe perairan yang landai sampai sedang, dengan tingkat kemiringan berkisar antara 8 - 20%. Kelandaian minimum dijumpai pada pantai timur sedangkan kelandaian maksimum terkonsentrasi pada pantai utara pulau. Kelandaian perairan Pulau Dawera dan Daweloor dikategorikan sebagai pantai landai dan curam dengan kemiringan di pantai selatan sebesar 8 % sementara di pantai utara kemi-ringan dapat mencapai 40%.

IKLIM

Iklim dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu mengalami perubahan, yang tergantung pada musim.

Curah hujan secara umum antara 1000 – 2000 mm pertahun dengan suhu rata-rata untuk tahun 2006 adalah 27.6 ºC dengan suhu minimum absolute rata-rata 21,8ºC dan suhu maksimum absolute rata-rata 33.0ºC. Sedang rata-rata kelembapan udara relative 80.2%; penyinaran matahari rata-rata 71,0%; dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar.

Berdasarkan klasifikasi agroklimate menurut OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana P. Masela termasuk dalam kategori Zone D3 yakni: bulan basah 3 – 4 bulan dan kering 4 – 6 bulan.

OCEANOGRAFI

Pasang Surut dan Arus

Pasang surut di perairan P. Masela memiliki tipe yang sama dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide). Ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua.

Tunggang air (tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2 – 2,5 meter. Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul kepermukaan seperti di Pulau Masela, Kroing, Dawera dan Daweloor. Kejadian “Meti Kei” selama bulan Oktober memberikan dampak kekeringan yang luar biasa di daerah tersebut sehingga dapat berakibat fatal bagi organisme termasuk terumbu karang.

Arus atau perpindahan massa air di perairan kecamatan ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di perairan ini dapat mencapai 1 m.s-1 dominan bergerak dari arah timur menuju perairan bagian barat. Intensitas arus yang maksimum terjadi pada perairan antara Babar Timur dengan Pulau Daweloor-Dawera.

Arus pasut memiliki kecepatan bervariasi antara 0,23 -0,31 m.s-1 dengan kecepatan rerata 0,27 m.s-1. Kecepatan Arus minimum terjadi di perairan sekitar Teluk Kroing sementara maksimum dijumpai pada perairan pantai Utara Pulau Masela.

Gelombang

Energi angin sebagai pembangkit gelombang utama di laut pada musim timur di estimasi mampu menghasilkan tinggi gelombang signifikan maksimum setinggi 4 meter dengan periode 7,8 detik di perairan P. Masela.

Berdasarkan letak posisi Pulau Babar terhadap arah datangnya angin maka perairan sepanjang pantai timur Pulau Masela dan Babar Timur mengalami tekanan gelombang yang intensif, terindikasi lewat tingkat abrasi yang kuat terjadi sepanjang pesisir pantai timur kedua pulau tersebut.

Kualitas Air

Suhu permukan laut Pulau Masela seperti wilayah lainnya di Kecamatan Babar Timur relatif rendah berkisar antara 26,40 – 26,70 °C dengan nilai rerata 26,55 °C. Suhu perairan rendah dijumpai pada perairan sekitar Pulau Masela sedangkan suhu maksimum dijumpai pada perairan pantai Kroing. Rendahnya suhu permukaan perairan di kecamatan ini masih berhubungan dengan proses taikan yang terjadi di Laut Banda dan Arafura pada bulan Juli – Agustus dan melemah pada bulan Oktober.

Kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi berkisar antara 34,5 – 35 ppt dengan nilai rerata 34,75 ppt. Salinitas minimum ditemukan pada perairan pantai Pulau Kroing sementara nilai maksimum ditemukan pada perairan Pulau Masela. Rendahnya kadar salinitas di perairan Teluk Kroing disebabkan oleh pengenceran air air tawar oleh sungai yang bermuara pada perairan tersebut.

Tingkat kecerahan perairan di P. Masela dikategorikan atas tingkat kecerahan tinggi. Kecerahan perairan bervariasi antara 16 - 17 meter dengan nilai rerata 16,5 meter. Kecerahan minimum dijumpai pada perairan Teluk Kroing sedangkan kecerahan maksimum ditemukan pada perairan Pulau Masela.

Kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan berkisar antara 0,31 – 0,54 mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,54 mg/l. Nilai minimum TSS dijumpai pada perairan Teluk kemudian meningkat maksimum di perairan pantai Pulau Masela. Nilai-nilai TSS yang diperoleh ini masih dapat digolongkan rendah sehingga memungkinkan bagi penetrasi cahaya matahari jauh ke dalam kolom perairan sehingga proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung dengan baik.

Tingkat kesadahan air laut atau pH untuk perairan laut Kec. Babar Timur relatif tinggi berkisar antara 8,93 – 8,99 dengan nilai rerata 8,93. Nilai pH minimum dijumpai pada perairan pantai Pulau Masela sementara nilai pH maksimum ditemukan pada perairan Teluk Kroing. Kondisi nilai pH demikian menunjukkan bahwa perairan ini bersifat basa dan cenderung di dominasi oleh massa air oseanik. Nilai pH pada bulan ini masih berada diatas kisaran nilai pH perairan umumnya.

Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan kecamatan berkisar antara 13,70 – 14,56 mg/l dengan nilai rerata 14,13 mg/l. Konsentrasi DO minimum dijumpai pada perairan pantai Teluk Kroing sementara konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan Pulau Masela. Nilai-nilai kadar DO ini masih berada pada kisaran nilai yang dibolehkan maupun diinginkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya biota laut menurut KepMen KLH No.02/1988.

Unsur hara berupa fosfat, nitrat dan nitrit di perairan pulau ini juga bervariasi. Konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan berkisar antara 0,08 – 0,31 mg/l dengan nilai rerata 0,08 mg/l. Kadar minimum fosfat dijumpai pada perairan pesisir Pulau Masela sedangkan kadar maksimum fosfat terkonsentrasi di perairan Teluk Kroing. Konsentrasi nitrit di perairan cendrung tinggi baik di perairan Pulau Masela maupun Teluk kroing dengan nilai sebesar 0,009 mg/l. Sama halnya dengan nitrit, konsentrasi nitrat di permukaan perairan cenderung tinggi dengan nilai berkisar antara 1,4 – 1,5 mg/l dengan nilai rerata 1,45 mg/l. Distribusi konsentrasi nitrat dengan kadar minimum dijumpai pada perairan Pulau Masela sedangkan konsentrasi nilai maksimum dijumpai pada perairan Teluk Kroing. Tingginya konsentrasi unsur hara fosfat, nitrit dan nitrat di perairan ini diduga berhubungan dengan sumbangan kedua unsur tersebut melalui seresah yang berasal dari ekosistem bakau yang ditemukan tumbuh disekitar perairan teluk.


Sarana dan Prasarana


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan


Kendala Pengembangan


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com