MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

LETI

Nama Lain :
Propinsi : MALUKU
Kabupaten : KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA
Kecamatan : WETAR
Koordinat :

8° 11' 40,000" LS - 127° 40' 39,000" BT


Gambaran Umum

 

UMUM

LETAK GEOGRAFIS DAN KONDISI WILAYAH PULAU

Letak Geografis

Pulau Leti merupakan salah satu pulau yang secara administratif termasuk dalam Keca-matan Wetar. Secara geografis, pulau ini terletak antara 08o14’20’’ Lintang Selatan dan 127o30’50’’ Bujur Timur. Di Pulau ini terdapat titik dasar (TD) no. 110 dan titik referensi (TR) no 110.

Administratif

Luas total wilayah Kecamatan Wetar adalah 3.914,16 km2, yang meliputi luas daratan sebesar 93,502 km2 dan luas laut untuk wilayah kelola Kabupaten (0-4 mil) sebesar 385,56 km2 dan luas wilayah keloaala Provinsi (4-12 mil) sebesar 1.133,41 km2. Di kecamatan ini terdapat 7 desa dengan total jumlah penduduk sebanyak 10.548 jiwa yang terdiri dari laki-laki 3.262 jiwa dan perempuan sebanyak 7.286 Jiwa. 

Aksesibilitas

Untuk mencapainya kita dapat memilih beberapa rute:

Jalur Laut

Trayek Kapal Pelni :  Kapal Kelimutu (Surabaya - Ende - Waingapu - Larantuka - Kupang - Saumlaki - Dobo - Timika - Merauke),  Kapal Tatamailau (Surabaya - Kupang - Saumlaki - Tual - Ambon)

Trayek Kapal Perintis: KM Mentari (Ambon - Tual - Larat - Saumlaki - adaut - Dawera - Kroing - Marsela - Tepa - Lelang/Mahaleta - Lakor - Moa - Leti - Wonreli/Kisar - Ilwaki - Urisela - Kupang), KM Iramawa (Ambon - Tual - Larat - Saumlaki - Adaut - Dawelor/Dawera - Kroing - Masela - Tepa - Sermata - Lakor - Moa - Leti - wonreli/Kisar - Ilwaki - Kupang), KM Lestari (Tual - Dobo - Benjina - Kalar-kalar - Batu Goyang - Tual - Molu - Larat - Saumlaki - Kroing - Marsela - Tepa - Bebar/Wulur - Romang - Kisar - Arwala - Relokib - Eray/Esulit - Kisar/Patotere/Biringkasi)

Jalur Udara

Dari Ambon - Kisar dengan menggunakan pesawat reguler. Dari Kisar - Pulau Leti dengan kapal cepat dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. 


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Pulau memiliki penghuni yang berjumlah 7.945 jiwa (1.807 KK). Warga tersebar di tujuh desa dengan mata pencaharian di sektor kelautan dan pertanian. Di sini terdapat sarana dan prasarana, seperti 12 SD, 3 SMP, 1 SMA, serta 1 Pusat Kesehatan Masyarakat (Data Bakosurtanal, 2007)


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

 

Potensi Sumberdaya Pesisir dan Laut

Padang Lamun

Lamun sebagai salah satu Ekosistem pantai mempunyai peranan penting bagi kehidupan organisme di laut. Ada jenis-jenis ikan yang hidup menetap pada komunitas lamun dan ada juga yang hanya datang mencari makanan (Siganus dan Dugong dugon) atau sekedar mencari tempat perlindungan. Selain fungsi tersebut, lamun memiliki kemampuan perangkap (trapped) sedimen, menstabilkan substrat dasar dan menjernihkan perairan. Selain itu, sistem perakaran lamun juga mampu mengikat sedimen sehingga terhindar dari kemungkinan abrasi.

Karena fungsi-fungsi tersebut, maka manusia memanfaatkan padang lamun untuk mencari biota laut yang terdapat di dalamnya dengan cara-cara yang tidak tertanggung-jawab. Kerapatan lamun dapat berkurang akibat dirusak manusia yang ingin memanfaatkan biota laut yang berlindung di dalamnya. Untuk memulihkan padang lamun yang hilang, dapat dilakukan dengan jalan transplantasi dan melindungi

komunitas tersebut dari aktivitas manusia. Kondisi lamun yang baik akan diikuti dengan masuknya sejumlah biota laut yang biasa hidup berasosiasi dengan lamun tersebut. Kehadiran lamun dapat menyuburkan dan meningkatkan produktivitas perairan.

Dari stasiun pengamatan lamun di P. Leti dijumpai enam spesies lamun diantaranya Thalassia hemprichii: Halophyla ovata; Cymodocea rotundata; Halodule pinifolia; Halodule uninervis dan Syringodium isoetifolium. Luasan tutupan lahan lamun pada lokasi pengamatan sebesar 43.17 %. Kerapatan lamun ditemukan sebesar 2448 tegakan/m2, dimana kerapatan tertinggi ditemukan pada jenis Syringodium isoetifolium sebesar 59,64 tegakan/m2; dan terendah pada jenis Halophila ovata sebesar 12,36 tegakan/m2.

Nilai kerapatan jenis yang ada berbanding terbalik dengan tingkat persen tutupan untuk beberapa jenis lamun yang dijumpai. Frekwensi kehadiran tertinggi ditemukan pada jenis Cymodecea rotundata sedangkan terendah pada jenis Halodule pinifolia dan Halophila ovata.

Terumbu Karang

Pada Pulau Leti pengambilan data ekosistem terumbu karang dilakukan pada satu titik pengamatan yakni di Pantai Serwaru. Karang batu yang tumbuh dan tersebar pada areal terumbu perairan pesisir Pulau P. Leti, khususnya di Serwaru sebanyak 66 spesies, seluruhnya termasuk dalam 41 genera dan 15 famili. Famili karang batu dengan kekayaan spesies tertinggi adalah Acroporidae dan Faviidae. Kamposisi taksa karang tersebut memberikan suatu indikasi bahwa areal terumbu P. Leti ini memiliki kekayaan spesies karang relatif rendah dibanding areal-areal terumbu karang Pulau lainnya.

Data yang didapat memperlihatkan bahwa komponen biotik yang menutupi dasar perairan di Pulau ini memiliki persen penutupan yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan komponen abiotik. Walaupun demikian kondisi terumbu karangnya berada pada kategori kurang baik (Fair) dengan persen penutupan sebesar 42,98%.

Kondisi terumbu karang dengan kategori kurang baik ini dipengaruhi oleh persen tutupan kompoen biotik lainnya yakni Algae dengan persen penutupan sebesar 22,10% (terutama berasal dari alge halus/turf algae) dan komponen abiotik (20,80%) yang sebagian besar berasal dari persen penutupan pasir. Sumbangan terbesar untuk penutupan karang batu pada titik pengamatan ini berasal dari karang Non Acropora.

Alga

Hasil inventarisasi jenis makro algae pada perairan Pulau Leti dijumpai sebanyak 8 spesies, yang dapat diklasifikasikan ke dalam 6 genus, 5 famili, 4 ordo dan 3 devisi. Pengelompokannya dalam 3 devisi utama yaitu alga hijau (Chloro-phyta) terdiri dari 4 spesies, alga coklat (Phaeo-phyta) terdiri dari 2 spesies dan alga merah (Rhodophyta) yang terdiri dari 2 spesies. Dari jenis-jenis yang ditemukan tersebut, ada jenis- yang memiliki nilai ekonomis penting diantaranya adalah yang berasal dari genus Gracilaria dan Caulerpa

Fauna Benthos

Pengumpulan data organisme bentos di Pulau Leti dilakukan di desa Serwaru. Organisme makrofauna bentos yang berhasil dikumpulkan pada Pulau Pulau Leti desa Serwaru ini sebanyak 15 spesies, dimana dari kelompok ekinodermata hanya 1 spesies yaitu Holothuria atra. Dari ke-15 spesies tersebut dijumpai 4 spesies yang memiliki nilai ekonomis penting, yaitu Barbatia amygdalumtustus, Haliotis varia, Holothuria atra dan Turbo bruneus.

Ikan (Ikan Demersal, Ikan Karang dan Ikan Hias)

Pengambilan data ikan karang pada perairan pantai di P. Leti dilakukan pada satu titik pengamatan yakni di Desa Serwaru. Pada titik pengamatan ini dijumpai sebanyak 124 spesies ikan yang tergolong ke dalam 67 genera dan 26 famili. Jumlah spesies ikan hias (74 spesies) lebih tinggi dari jumlah spesies ikan konsumsi (50 spesies).

Data yang diperoleh menyebutkan bahwa kepadatan ikan karang di perairan ini sebesar 5,27 individu/m2. Sedangkan bila dilihat berdasarkan kriteria pemanfaatannya maka kepadatan ikan konsumsi (3,36 individu/m2) lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan hias (1,91 individu/m2).

Perikanan Tangkap

Dari lokasi pengamatan yang dilakukan,  dijumpai berbagai jenis alat tangkap seperti jaring insang hanyut, jaring insang dasar, bagan sero, pancing tonda, hand line, multiple hand line dan panah. Jenis-jenis ikan hasil tangkapan yang ditemukan adalah cakalang, tuna, tatihu, piskada, tengiri, lalosi, gutana, ikan merah, samandar, momar, bubara, kerong-kerong serta bulana.


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya


Lingkungan

 

Secara topografi, wilayah Pulau Leti dibagi atas 2 kelas, yaitu: (1) daerah Rendah (R) dengan ketinggian 0 – 100 m; dan (2) daerah Tengah (M) dengan ketinggian 100 – 500 m, dengan lima kelas kemiringan lereng yaitu datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), dan bergelombang (8-15%). Sedang bentuk lahan makro dibagi atas tiga kelas yaitu dataran, berbukit dan bergunung dengan lereng datar (0-3%), landai/berombak (3-8%), bergelombang (8-15%), dan agak curam (15-30%). Bentuk lahan utama di kawasan ini merupakan bentuk lahan asal karst yang tersebar meluas sepanjang pesisir dan bentuk lahan asal denudasional pada kawasan perbukitan.

Batuan tersingkap di daerah P. Leti tersusun dalam empat formasi batuan utama yakni formasi Gamping Koral, Malihan, Serpih dan Brancuh. Gamping koral tersebar luas sepanjang pesisir pulau Leti. Batuan Malihan tersebar luas di bagian tengah pulau memamnjang arah timur barat. Serpih menyebar timur barat di bagian tengah pulau yang berdampingan dengan batuan Malihan. Formasi Brancuh menyebar setempat di bagian utara pulau dan berada antara formasi Gamping koral dan Malihan.

Tenaga geomorfik yang berperan terhadap perubahan geomorfologi sepanjang pesisir Pulau ini adalah tenaga marin yakni gelombang, pasang surut dan arus. Proses geomorfologi di kawasan ini meliputi proses destruksional (pelapukan sepanjang garis pantai dan erosi pantai), dan proses kontruksional (pergerakan dan deposisi sedimen). Satuan bentuk lahan hasil proses marin meliputi pantai bergisik, pantai bertebing terjal (cliff), platform pantai, rataan pasut berbatu, rataan terumbu karang, tubir dan saaru. Agihan pantai berpasir dapat ditemukan sepanjang pulau Lakor dengan agihan terluas di kawasan Serwaru. Saaru terdapat di bagian selatan pulau Leti.

Oceanografi

Mengacu pada Peta Pulau–Pulau Seramata dan Pulau–Pulau Tanimbar No.48 Skala 1: 500.000 yang dikeluarkan oleh DISHIDROS tahun 2003 tentang bathymetri perairan Pulau Leti, ditemukan bahwa kedalaman perairan pesisir relatif dangkal dengan rataan terumbu yang luas kecuali pada beberapa wilayah perairan pesisir seperti pantai selatan dan timur laut Pulau Leti. Kedalaman perairan lepas pantai berkisar antara 825-2.286 meter.

Kelandaian perairan yang dihitung terhadap kontur kedalaman referensi 200 meter mengin-dikasikan bahwa kelandaian perairan Pulau Leti berkisar antara 10-20% atau dikategorikan sebagai tipe perairan landai sampai sedang.

Iklim

Iklim dipengaruhi oleh laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia juga dibayangi oleh Pulau Irian bagian Timur dan Benua Australia bagian Selatan sehingga sewaktu-waktu mengalami perubahan, tergantung pada musim.

Curah hujan secara umum di P. Leti kurang dari 1000 mm per tahun. Sedangkan suhu rata-rata adalah 27.6 ºC dengan suhu minimum absolute rata-rata 21,8 ºC dan suhu maksimum absolute rata-rata 33.0ºC. Rata-rata kelembaban udara relative 80,2%; dengan penyinaran matahari rata-rata 71,0%; dan tekanan udara rata-rata 1.011,8 milibar.

Berdasarkan klasifikasi agroklimate menurut OLDEMAN, IRSAL dan MULADI (1981), Maluku Tenggara Barat terbagi dalam dua zone agroklimat dimana Pulau P. Leti termasuk dalam kategori Zone E3: bulan basah lebih dari 3 bulan dan kering 4 – 6 bulan.

Kualitas Perairan

Pasang surut dan Arus

Pasang surut di perairan Pulau Leti memiliki tipe yang sama dengan daerah lainnya di Maluku, yaitu digolongkan sebagai pasang campuran mirip harian ganda (predominantly semi diurnal tide) . Ciri utama tipe pasang surut ini adalah terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dimana pasang pertama selalu lebih besar dari pasang kedua.

Tunggang air (tidal range) maksimum perairan ini umumnya berkisar antara 2 – 3 meter . Tunggang air ini dapat menyebabkan bagian perairan yang lebih dangkal akan muncul kepermukaan seperti perairan pesisir pantai timur Laitutun, pantai utara Serwaru, Tembra dan Nuwewan. Kejadian “Meti Kei” selama bulan Oktober memberikan dampak kekeringan yang luar biasa di daerah tersebut sehingga berakibat fatal bagi organisme termasuk terumbu karang yang tidak mampu beradaptasi terhadap keadaan yang ekstrim tersebut.

Arus atau perpindahan massa air di perairan Pulau ini merupakan kombinasi arus angin dan arus pasang surut. Kecepatan arus angin pada bulan Oktober di perairan ini bergerak dari arah timur laut dan timur dan mengalami peredaman kecepatan di utara kepulauan dengan kecepatan dapat mencapai 1 m.s-1. Kecepatan arus pasut yang terekam berkisar antara 0,09 – 0,29 m.s-1 dengan nilai rerata kecepatan 0,19 ms-1. Kecepatan arus minimum dijumpai pada perairan Serwaru dan mencapai maksimum pada perairan Nuwewan saat air bergerak surut. Arus pasut dengan intensitas kuat dapat terjadi pada perairan Selat Moa yang terletak antara Pulau Leti dengan Pulau Moa.

Gelombang

Energi angin sebagai pembangkit gelombang utama di laut pada musim timur di estimasi mampu menghasilkan tinggi gelombang signifikan maksimum setinggi 4 meter dengan periode 7,8 detik di perairan Pulau Leti. Berdasarkan letak posisi pulau terhadap arah datangnya angin tenggara maka bagian perairan pantai selatan dan timur pulau serta Selat Moa akan mengalami tekanan gelombang yang kuat, sementara kawasan perairan bagian utara relatif tenang dari gempuran gelombang.

Kualitas Air

Suhu permukan laut perairan Pulau Leti berkisar antara 26,78 – 26,90 °C dengan nilai rerata 26,84 °C. Suhu minimum di perairan ini dijumpai pada perairan sekitar Nuwewan sedangkan suhu maksimum terkonsentrasi di perairan sekitar Selwaru. Suhu kawasan perairan yang hangat ini diduga dipengaruhi oleh massa air Laut Timor yang hangat dan mendominasi perairan.

Kadar salinitas permukaan perairan relatif tinggi dengan nilai sebesar 35 ppt ditemukan baik pada perairan pesisir Serwaru maupun Nuwewan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa massa air yang mendominasi perairan ini adalah massa air oseanik yang berkadar garam tinggi. Pengenceran air laut oleh massa air tawar yang masuk melalui sungai dan bermuara di perairan ini sangat kecil pengaruhnya terhadap kadar salinitas perairan.

Tingkat kecerahan perairan Pulau Leti dikategorikan atas tingkat kecerahan tinggi. Kecerah-an perairan bervariasi antara 15 - 17 meter dengan nilai rerata 16 meter. Kecerahan minimum berada pada perairan pesisir Nuwewan sedangkan kecerahan maksimum dijumpai pada perairan Serwaru. Tingginya tingkat kecerahan ini dimungkinkan oleh rendahnya kandungan padatan tersuspensi, sehingga penetrasi cahaya bisa jauh masuk ke dalam kolom air dan mengakibatkan proses fotosintesis tumbuhan akuatik dapat berlangsung dengan baik. Kandungan padatan tersuspensi (TSS) di perairan berkisar antara 0,45 – 0,63 mg/l dengan nilai rerata sebesar 0,54 mg/l. Nilai minimum TSS dijumpai pada perairan pantai Nuwewan sedangkan konsentrasi TSS maksimum berada pada perairan Serwaru.

Tingkat kesadahan air laut atau pH perairan Pulau Leti dikategorikan tinggi berkisar antara 8,48 – 8,51 dengan nilai rerata 8,50. Nilai pH minimum dijumpai pada perairan pantai Nuwewan sementara nilai pH maksimum ditemukan pada perairan pantai Serwaru. Kondisi ini menunjukkan bahwa perairan ini bersifat basa dan cenderung di dominasi oleh massa air oseanik. Pengenceran air laut oleh massa air tawar asal daratan sangat kecil pengaruhnya. Nilai pH pada bulan Oktober masih berada diatas kisaran nilai pH perairan pada umumnya.

Konsentrasi oksigen terlarut di permukaan perairan Pulau berkisar antara 14–14,25 mg/l dengan nilai rerata 14,13 mg/l. Konsentrasi DO minimum dijumpai pada perairan Serwaru sementara konsentrasi maksimum dijumpai pada perairan pantai Nuwewan. Nilai-nilai kadar DO ini masih berada pada kisaran nilai yang dibolehkan maupun diinginkan untuk kegiatan konservasi dan budidaya biota laut menurut KepMen KLH No.02/1988.

Dari analisis unsur hara yang dilakukan, yaitu analisis fosfat, nitrit dan nitrat, ditemukan konsentrasi fosfat pada lapisan permukaan perairan berkisar antara 0,68 – 0,72 mg/l dengan nilai rerata 0,70 mg/l. Distribusi kadar minimum fosfat dijumpai pada perairan pesisir Nuwewan sedangkan kadar maksimum terkonsentrasi di perairan Serwaru.  Konsentrasi nitrit di lapisan permukaan perairan memiliki kadar yang cukup tinggi dan ditemukan memiliki nilai konsentrasi yang sama baik di perairan Serwaru maupun Nuwewan. Sama halnya dengan nitrit, konsentrasi nitrat di permukaan perairan cenderung tinggi dengan nilai berkisar antara 1,0 – 1,5 mg/l dengan nilai rerata 1,25 mg/l. Konsentrasi minimum senyawa ini ditemukan pada perairan pesisir Serwaru sementara konsentrasi maksimum berada di perairan Nuwewan. Tingginya konsentrasi unsur hara fosfat, nitrit dan nitrat di perairan ini diduga berasal dari sumbangan zat hara melalui seresah bakau dari ekosistem bakau yang hidup dipesisir pantai Serwaru dan Nuwewan serta sumbangan massa air Laut Banda yang kaya akan zat hara dari sisa hasil taikan selama bulan Juli-Agustus di perairan ini.

Di perairan Pulau Leti keberadaan unsur Cr dan Cu cukup signifikan dalam kolom air laut permukaan perairan. Kandungan Cr di perairan berkisar antara 0,01-0,03 mg/l dengan nilai rerata 0,02 mg/l. Konsentrasi minimum unsur ini dijumpai pada perairan Serwaru sedangkan konsentrasi maksimum berada pada perairan Nuwewan. Kadar Cu di perairan berkisar antara 0,31-0,50 mg/l dengan nilai rerata 0,41 mg/l dengan pola distribusi yang cenderung sama dengan Cr.Kehadiran unsur Cr dan Cu dalam kolom air permukaan laut pada perairan Pulau Leti diduga kuat keberadaannya sangat berhubungan dengan batuan dasar yang menyusun pulau tersebut

Analisis kandungan Klorofil-a di perairan, dengan menggunakan sensor satelit MODIS liputan tanggal 06 November 2006 yang diperoleh melalui situs http://www.edu.colorado/, memperlihatkan bahwa klorofil-a fitoplankton di perairan Pulau Leti memiliki kandungan yang lebih tinggi dari perairan Pulau Moa Lakor yang berdekatan dengan nilai berkisar antara 0,38–0,6 mg/m3. Pola distribusi klorofil-a di perairan ini memperlihatkan bahwa kandungan maksimum menyebar di perairan bagian barat Pulau Leti sementara konsentrasi klorofil-a mengalami penurunan di perairan pantai utara dengan konsentrasi berkisar antara 0,4–0,49 mg/m3. Konsentrasi yang rendah dengan nilai berkisar antara 0,2–0,28 g/m3 menyebar pada perairan pantai selatan. 


Sarana dan Prasarana


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan


Kendala Pengembangan


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com