MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

Kera

Nama Lain :
Propinsi : NUSA TENGGARA TIMUR
Kabupaten : KABUPATEN KUPANG
Kecamatan : Sulamu
Koordinat :

100 5' 22" LS dan 1230 33' 24" BT


Gambaran Umum

Secara geografis pulau ini berada pada posisi 10° 05’ 22’’ LS dan 123° 33’ 24’’. Pulau ini secara administratif berada di wilayah Desa Uiasa, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau dengan luas 48,17 ha ini seharusnya merupakan pulau yang tidak berpenduduk karena terletak pada Wilayah Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 18/KPTS-II/1993 tanggal 28 Januari 1993, Pemanfaatannya sebagai daerah wisata berbasis konservasi berdekatan dengan Pulau Tikus dan Pulau Burung. Namun saat ini Pulau tersebut merupakan pulau yang berpenduduk karena telah ditempati oleh warga pendatang musiman sejak tahun 1911 dengan bangunan rumah semi permanen dan permanen.

Dilihat dari aspek fisik, Pulau Kera berbentuk Bulat dengan sisi sebelah utara  lebih luas dari sisi sebelah selatan. Wilayah perairan pulau belum banyak dimanfaatkan karena merupakan daerah TWAL, sedangkan wilayah daratan pulau bagian selatan saja yang ditempati oleh pemukiman penduduk. Dengan topografi yang berbentuk datar (ketinggian + 0 – 3 m dpal) dan tipe pantai berpasir putih.

Untuk mencapai Pulau Kera, Banyak alternatif tempat berangkat yang dapat diakses, yakni melalui Pelabuhan Tenau, PPI Oesapa, Sulamu, atau Pelabuhan Oeba. Pulau Kera dapat diakses dengan meggunakan kapal sewaan karena tidak ada transportasi reguler menuju Pulau Tersebut. Akses dari Pelabuhan Tenau menuju Pulau Kera dapat ditempuh dengan perjalanan selama 1-1,5 Jam, dari PPI Oesapa-Pulau Kera selama setengah jam dan Dari Sulamu/Oeba dapat ditempuh selama 1 jam. Perjalanan menuju Pulau Kera hendaknya dilakukan pada pagi hari dan kembali sebelum sore atau matahari terbenam. Kapal yang digunakan merupakan kapal berukuran sedang, karena jika terlalu besar akan menyulitkan kapal untuk sandar.


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Pulau Kera merupakan bagian dari Desa Uiasa, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Perlu waktu sekitar 1 jam menggunakan perahu motor dari Kupang untuk sampai ke Pulau Kera. Pulau Kera kini ditempati kurang lebih oleh 82 Kepala Keluarga berdasarkan penuturan warga setempat, tidak terdapat data pasti mengenai jumlah penduduk karena belum pernah dilakukan sensus penduduk terkait status kawasan pulau. Sejarah dari Pulau Kera, yakni dengan melalukan wawancara mendalam (in-depth interview) pada orang-orang tua yang kini berdiam di Pulau Kera. Salah satunya adalah H. Amu dan Naseng Rabbani salah seorang tetua yang disegani oleh masyarakat Pulau Kera. Berdasarkan penuturan  Naseng Rabbani Nenek moyang penduduk Pulau Kera berasal dari suku Bajo Sulawesi Tenggara, yang pada awalnya datang ke Kupang Nusa Tenggara Timur atas undangan Raja Kupang Nesneno untuk mengajari masyarakat berlaut. Awalnya masyarakat Pulau Kera datang sebagai penduduk musiman saja, tetapi hingga saat ini penduduk Pulau Kera sudah menetap di Pulau dengan membangun rumah semi permanen dan permanen. Masyarakat setempat juga sudah merasa memiliki dan nyaman tinggal di Pulau Kera karena pendahulu-pendahulu nya sudah tinggal sejak jaman penjajahan Belanda dan mati di Pulau Kera.  Masyarakat setempat tidak diakui sebagai warga Pulau Kera karena Pulau tersebut memang tidak diperuntukkan sebagai pemukiman karena berada di wilayah TWAL. Masyarakat mendapatkan izin dari seorang petinggi di Kupang dan memiliki keterkaitan dengan bos (tauke) yang memberikan modal usaha penangkapan ikan sehingga tidak bisa begitu saja pindah dari Pulau Kera.

Masyarakat Pulau Kera memilih tinggal di Pulau Kera walaupun minim fasilitas dikarenakan lokasi pulau dekat dengan lokasi penangkapan ikan sebagai satu-satunya mata pencaharian, keterikatan hutang dengan pemberi modal (Bos/Tauke), pulau dekat dengan Kota Kupang sehingga memudahkan untuk membeli kebutuhan sehari-hari, Kondisi sosial masyarakat setempat yang damai dan bebas konflik, dan kemudahan telekomunikasi.

Pulau Kera kini ditempati kurang lebih oleh 82 Kepala Keluarga berdasarkan penuturan warga setempat, tidak terdapat data pasti mengenai jumlah penduduk karena belum pernah dilakukan sensus penduduk terkait status kawasan pulau.

Menurut Pemerintah Kabupaten Kupang, status Pulau Kera adalah pulau yang tidak berpenghuni dan karena itu wajar kalau mereka tidak mendapat perhatian serius maupun bantuan sarana dan prasarana dari Pemerintah Kabupaten Kupang maupun Pemerintah Kecamatan Sulamu. Salah satunya dikarenakan status kependudukan yang masih belum jelas, hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya kartu tanda pengenal (KTP) yang sah. Masyarakat Pulau Kera hanya diakui keberadaannya ketika akan ada Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) setempat karena diperlukan suaranya.

Tidak terdapat struktur kelembagaan atau pemerintahan seperti RT atau RW di dalam masyarakat pulau walaupun wilayahnya masuk ke dalam Desa Uiasa namun keberadaan penduduk tidak diakui oleh Kecamatan Semau. Sebagian besar penduduk Pulau Kera merupakan keluarga nelayan tradisional bersuku Bajo dari Sulawesi Tenggara, beberapa keluarga berasal dari Flores, Rote, Semau, dan Alor. Sebagian besar beragama Islam dan hanya 4 Kepala Keluarga yang beragama Kristen.

Masyarakat Pulau Kera seluruhnya adalah nelayan. Ikan hasil tangkapan disetorkan untuk dijual di pengumpul milik pemodal, jika hasil tangkapan berlebih maka digunakan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga atau dijual kembali di Sulamu. Nelayan biasanya menggunakan alat tangkap jaring dengan daerah tangkapan sekitar Pulau Rote, Pulau Flores, Pulau Semau dan Pulau Alor. Modal melaut seperti kapal, alat tangkap, dan bensin disediakan oleh bos (Tauke) yang menjadi pemodal, hubungan kerjasama yang terjadi adalah bagi hasil.


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

Terumbu Karang

Pulau Kera memiliki potensi terumbu karang yang besar. Letak posisi dalam sebuah teluk kupang, mengindikasikan tekanan alam terhadap terumbu karang akan berkurang. Namun sayang, kondisi terumbu karang di Pulau kera saat ini telah mengalami ancaman dari kegiatan anthropogenic yakni aktivitas manusia yang ada di pulau tersebut.

Aktivitas masyarakat yang merugikan ekosistem terumbu karang yakni (1) pengambilan batu karang; (2) jangkar kapal dan penggunaan alat peledak sebagai alat tangkap. Hasil pengamatan di dua titik lokasi Pulau kera, menunjukkan pulau tersebut dalam status buruk. Kondisi terumbu karang di Pulau Kera perlu saat ini, perlu melakukan perbaikkan ekosistem kembali.

Bagian Selatan

Terumbu karang karang di Pulau Kera berada pada di kedalaman 6 meter – 10 meter. Kondisi terumbu karang di Pulau Kera bersifat spot atau mengelompok-kelompok, sedangkan tutupan dasar perairan didominasi oleh pasir. Hasil pengamatan tahun 2012, bahwa terumbu karang dibagian selatan Pulau Kera yakni terdiri dari komponen 23.38% karang hidup, 11.68% karang mati, 1.92% alga, 29.02% biotik, 34% abiotik.

Jenis terumbu karang yang mendominasi pada bagian selatan yakni jenis karang masive dan bercabang. Selain itu bada bagian selatan di dominasi oleh jenis karang lunak. Jika dilihat komposisi penyusun biotik adalah algae 1,92%% dan karang lunak 29.02%. Gambar dibawah ini, bahwa komposisi pasir di bagian selatan Pulau Kera lebih mendominasi. Karang yang bersifat berkumpul dan mengelompok maka dari itu pada saat pengamatan posisi transek lebih dominan pasir.

Pada bagian Selatan Pulau Kera, dilihat beberapa indikasi ancaman terhadap terumbu karang. Identifikasi pada saat dilapangan ada beberapa ancaman terumbu karang yakni algae, penyakit karang, predator, dan kompetisi ruang. Dokumentasi yang diperoleh dilapangan, yakni jenis predator dari Drupllea sp yang telah menggangu jaringan dari karang tabulate.

Bagian Utara

Selain itu pengamatan juga dilakukan di bagian utara dari Pulau Kera. Pada bagian ini bentuk dasar perairan slope, dimana terumbu karang berada di bagian tebing. Substrat dasar yang mendominasi di lokasi ini yaitu pasir dengan rubble (patahan karang). Persen tutupan terumbu karang dibagian Utara Pulau Kera yakni 13,68% karang hidup, 16% karang mati, 23,82% biotik dan 46,26 % abiotik.

Kondisi penutupan substrat dasar dengan dominasi pasir dan patahan karang terlihat sangat banyak pada lokasi pengamatan. Penyebaran karang hidup yang terlihat menyebar dengan jumlah yang tidak begitu banyak dibandingkan dengan karang lunak. Penutupan karang lunak mencapai 22,94% yang termasuk kategori biotik lainnya dibandingkan dengan penutupan karang hidup hanya sebesar 13,68%.

Penutupan karang hidup yang kecil dipengaruhi oleh sedimentasi dan aktifitas pengeboman ikan oleh nelayan setempat maupun dari luar (nelayan pendatang). Aktifitas perikanan yang merusak kerap menjadikan wilayah perairan dengan keberadaan terumbu karang mengalami penurunan penutupan dan komposisi jenis pada umumnya. Sehingga jenis substrat yang menutupi dasar perairan tersebut akan berganti menjadi substrat yang lebih cepat tumbuh dan tahan terhadap tekanan lingkungan seperti alga, spons dan karang lunak. Kompetisi ruang pun akan mengurangi wilayah pertumbuhan dari karang hidup lainnya dan berakibat sedikit sekali ditemukannya jenis karang hidup sebagai penyusun utama ekosistem terumbu karang.

Ikan Karang

Pengamatan Komunitas ikan karang dilakukan di Pulau Kera dengan menggunakan metode visual sensus yang diadopsi dari literatur english et. Al. (2001). Pengamatan tersebut dilakukan di dua titik pengamatan yaitu di sebelah selatan dan utara pulau. Kondisi perairan di Pulau Kera memiliki kecerahan 100% dimana jarak pandang di dalam air sejauh 6 meter.  Pulau Kera memiliki kondisi kontur dasar perairan yang landai dengan hamparan lamun yang luas di sebelah timur.

Komunitas ikan karang di Pulau Kera di sebelah Utara memiliki indeks keanekaragaman yang sedang dimana nilai yang diperoleh untuk indeks keseragaman berada pada kisaran 1 < H’≤ 3. Hal tersebut menunjukan untuk sebelah utara pulau Kera memiliki penyebaran jenis ikan yang sedang dengan keanekaragaman yang sedang. Indeks keseragaman menggambarkan sebaran jenis ikan antar taksa. Semakin tinggi nilai yang ditunjukan nilai indeks keseragaman maka kestabilan komunitas akan semakin tinggi. Sebelah Utara Pulau Kera memiliki indeks keseragaman yang tergolong tinggi sehingga dapat dikatakan komunitas ikan karang disebelah Utara Pulau Kera tergolong stabil. Indeks dominansi dihitung berdasarkan jumlah individu dari setiap jenis ikan yang ditemukan. Nilai indeks dominansi untuk komunitas ikan di sebelah utara menunjukan nilai yang rendah, hal tersebut menunjukan bahwa perairan di sebelah utara tidak didominansi oleh jenis ikan tertentu.

Kondisi yang berbeda ditemukan di sebelah selatan dimana penyebaran jenis ikan tergolong tinggi dengan keanekaragaman jenis yang tinggi. Hal tersebut diikuti dengan rendahnya nilai indeks dominansi. Jika nilai indeks dominansi (C) mendekati nol, maka hal ini menunjukkan pada perairan tersebut tidak ada biota yang mendominasi dan biasanya diikuti oleh nilai keseragaman (E) yang tinggi. Dengan melihat nilai indeks keseragaman pada tabel diatas menunjukan komunitas ikan di sebelah Selatan memiliki kestabilan komunitas yang tergolong tinggi. Secara keseluruhan, komunitas ikan karang di Pulau Kera memiliki keanekaragaman yang sedang sampai tinggi dengan komunitas yang stabil atau tidak terdapat tekanan terhadap komunitas.

Utara

Beberapa jenis ikan indikator juga ditemukan di perairan sebelah utara pulau kera. Jenis yang paling banyak ditemukan adalah jenis Chaetodon klenii dengan kelimpahan 240 ind/ha disusul dengan jenis Chelmon rostratus dengan kelimpahan 160 ind/ha dan Chaetodon melanotus dan Forcipiger flavissimus dengan kelimpahan masing-masing sebanyak 80 ind/ha. Jenis-jenis ikan tersebut merupakan jenis ikan yang dapat dijadikan sebagai bio-indikator karena pola makan dari jenis ikan ini adalah coralivora.

Kelimpahan famili terbesar lainnya berasal dari famili Acanthuridae dimana jenis ikan yang berasal dari famili ini pada umumnya merupakan jenis ikan tangkapan para nelayan atau memiliki nilai ekonomis. Jenis ikan yang ditemukan untuk famili Acanthuridae adalah Acanthurus pyroferus dengan kelimpahan 200 ind/ha dan jenis Zebrasoma scopas sebanyak 320 ind/ha.

Selatan

Famili Pomacentridae merupakan famili yang masih mendominansi kelimpahannya dibandingkan dengan kelimpahan famili lainnya. Kelimpahan famili Pomacentridae pada umumnya mendominansi disuatu perairan disebabkan pola ikan jenis ini sering mencari makanan di daerah terumbu karang dan tidak memiliki daerah ruaya yang luas. Pomacentrus moluccensis merupakan jenis yang paling banyak ditemukan dengan kelimpahan (1320 ind/ha), disusul dengan jenis Chromis amboinensis dengan kelimpahan 1160 ind/ha dan jenis Chromis weberi sebanyak 1120 ind/ha. Famili Apogonidae merupakan jenis famili lainnya yang sering kali dijumpai memiliki kelimpahan tinggi. Famili Apogonidae yang teramati di selatan Pulau Kera sebanyak 1520 ind/ha dan hanya berasal dari satu jenis yaitu Apogon cyanosoma.

Jenis ikan yang ditemui untuk kelompok ikan indikator adalah Chaetodon lunulatus dengan kelimpahan sebanyak 240 ind/ha, Chaetodon vagabundu dan Chaetodon klenii memiliki kelimpahan masing-masing sebanyak 160 ing/ha dan ikan jenis Chaetodon baronesa memiliki kelimpahan sebanyak 120 ind/ha. Ikan famili Chaetodontidae merupakan ikan yang memiliki tipe pemangsaan berupa coralivora, dimana ikan-ikan jenis ini memakan polip karang.

Ikan Caesionidae (biasa dikenal dengan ekor kuning) juga turut dijumpai di perairan sebelah selatan pulau Kera. Jenis ikan ini sering dijadikan tangkapan oleh para nelayan karena memiliki nilai ekonomis di pasaran. Jenis ikan yang ditemukan adalah Caesio cunning dengan kelimpahan 480 ind/ha dan Caesio teres dengan kelimpahan sebanyak 440 ind/ha. Jenis ikan yang sering menjadi tangkapan nelayan adalah jenis ikan yang berasal dari famili Acanthuridae (400 ind/ha). Di perairan sebelah Selatan ini ditemukan pula biota berbahaya, yaitu ikan jenis Pterois antennata atau dikenal dengan sebutan ikan lepu ayam. Ikan ini memiliki racun yang terdapat di sirip punggungnya, apabila terkena sengatannya akan mengakibatkan kelumpuhan hingga kematian apabila tidak langsung ditangani secara serius.

Secara keseluruhan ikan karang di Pulau Kera di dominansi oleh famili Pomacentridae, Acanthuridae, Labridae, Chaetodontidae dan Caesionidae. Jenis ikan kerapu juga ditemukan di perairan pulau Kera ini. Jenis kerapau yang ditemukan adalah Ephinephelus fasciatus dengan panjang ±34 cm. Dalam tesisnya, rolanda (2010) menyatakan pulau Kera memiliki potensi Ikan  Kerapu  (Epinephelus  sp.),  Kakap  Putih  (Lates sp.),  Ekor  Kuning  (Caesio sp.),  ikan  hias,  ikan Napoleon, dan Lobster.

Kelompok ikan target di perairan Pulau Kera terdiri dari 11 jenis ikan karang. Biomassa terbesar dimiliki oleh ikan jenis kakak tua atau memiliki nama ilmiah Chlorurus sordidus (115.630 kg/ha). Jenis ikan lain yang memliki biomassa terbesar adalah jenis ikan Acanthurus pyroferus (106.262 kg/ha), disusul dengan ikan bibir tebal atau Plectorhinchus vittatus dengan biomassa sebesar 103.900 kg/ha. Ikan baronang atau Siganus vulpinus juga ditemukan dengan biomassa 115.630 kg/ha dan ikan ekor kuning (Caesio teres) dengan biomassa 98.234 kg/ha.

Padang Lamun

Hamparan pasir putihnya yang sangat luas membuat beraneka jenis lamun senang hidup di perairan pulau ini.  Gelombangnya yang besar pun tidak menjadi alasan untuk melimpahnya berbagai jenis lamun.  Ada 7 jenis lamun yang dijumpai, yaitu Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii .  Menurut penelitian yang dilakukan oleh Foenay (2011), jenis lamun yang mendominasi di kawasan TWAL (Taman Wisata Alam Laut) Teluk Kupang (dimana Pulau Kera termasuk dalam kawasan tersebut) ialah jenis Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides.

Keberadaan padang lamun tersebut mulai dari perairan pantai yang dangkal hingga kedalaman ±10 meter.  Berbagai jenis lamun hidup berdampingan membentuk padang lamun yang heterogen.

Di bagian selatan pulau ini dapat dijumpai 5 jenis, hanya jenis Cymodocea serrulata dan Syringodium isoetifolium yang tak terlihat.  Substratnya yang berupa pasir putih dan kadang diselingi oleh patahan-patahan karang menjadi tempat tumbuhnya lamun-lamun ini.  Namun, tepat di dekat adanya padang lamun, terdapat hamparan Padina sp. Dengan patahan-patahan karang yang lebih banyak, menjadi salah satu pesaing bagi lamun.  Hal ini terlihat dengan keberadaan lamun yang tidak merata di semua sisi, terutama di zona hamparan Padina sp. Yang berlimpah, lamun pun nampak jarang terlihat.

Sedangkan di bagian timur, juga ditemukan 5 jenis lamun, kecuali jenis Cymodocea rotundata dan Enhalus acoroides.  Padang lamun tersebut membentuk hamparan yang sangat luas laksana lapangan sepak bola dalam laut dengan kedalaman mencapai 6-10 meter.

Adapun kondisi padang lamun yang berada dekat dengan daratan, saat air pasang dengan kondisi yang berarus kencang membuatnya cukup sulit untuk diamati.  Saat air surut merupakan saat terbaik untuk mengamati padang lamun di pulau ini.  Sebaran lamun yang dekat dengan daratan pun nampak terlihat seperti padang rumput yang luas.

Kerapatan jenis lamun yang ditemukan sangat beragam, mulai dari 13-57 individu/m2 di bagian selatan dan di bagian timur bernilai 24-62 individu/m2. Jenis Cymodocea rotundata merupakan jenis lamun yang paling banyak ditemukan di bagian selatan dan Halophila ovalis sangat berlimpah di bagian timur.  Sedangkan kerapatan lamun terendah dimiliki oleh jenis Halophila ovalis di bagian selatan dan Halodule uninervis di bagian timur.

Kondisi substrat di bagian selatan yang berupa pasir putih yang diselingi oleh patahan karang dan arusnya yang kencang membuat jenis Halophila ini tertutupi oleh pasir, sehingga pertumbuhannya pun menjadi terbatas. Ukuran lamun-lamun yang dijumpai pun nampak lebih kecil dari biasanya. Sedangkan pasir putih yang menjadi substrat di bagian timur pulau ini, membuat jenis Halophila ovalis sangat berlimpah, dengan berbagai jenis lainnya yang hidup saling berdampingan. Jenis Thalassia hemprichii dan Cymodocea serrulata memiliki kerapatan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 47 individu/m2 dan 34 individu/m2.

Persen penutupan jenis lamun di pulau ini cukup bervariasi, dimana penutupan tertinggi dimiliki oleh jenis Enhalus acoroides yang diikuti oleh Cymodocea rotundata pada bagian selatan dan jenis Cymodocea serrulata yang diikuti oleh Thalassia hemprichii.  Meskipun jenis tersebut tidak unggul dan hal jumlah, dikarenakan ukurannya yang lebih besar, membuatnya lebih unggul dalam hal persentase tutupan.

Selain biota-biota tersebut, dapat dijumpai juga penyu hijau yang senantiasa memakan tumbuhan lamun, terutama jenis lamun Halodule uninervis dan Halophila ovalis.  Hal ini sesuai dengan arti dari Pulau Kera itu sendiri yang berarti Penyu atau Kea (bukan monyet). Pantai di pulau  ini pun menjadi salah satu tempat penyu-penyu bertelur.

Vegetasi Pantai

Pulau Kera yang memiliki hamparan pasir yang sangat luas ini hanya dihiasi oleh sedikit jenis tumbuhan, dan tidak ditemukan keberadaan mangrove yang dapat menjadi penjaga pulau ini.  Berdasarkan masyarakat yang ada di sekitar pulau tersebut, mengatakan bahwa pulau ini memang tidak memiliki vegetasi mangrove dikarenakan substratnya yang kurang sesuai.  Jangankan mangrove, bercocok tanam pun hanya jenis-jenis tertentu saja yang dapat bertahan, yaitu pohon turi, kelapa, pinus, petai, jagung dan pepaya.  Berbagai jenis tanaman yang telah dicoba, pada akhirnya mati kering karena terik dan gersangnya pulau ini. Rerumputan pun nampak kering dan berwarna kecoklatan seolah-olah menandakan kegersangan yang telah terjadi.

Adapun vegetasi pantai yang dapat dijumpai di pulau ini ada 6 jenis, yaitu Ipomoea pes-caprae atau kangkung laut, Calotropis gigantea atau widuri, Cocos sp. (kelapa), Passiflora foetida atau kaceprek, Calophyllum inophyllum atau nyamplung, dan Ricinus communis atau jarak.


Sumberdaya Non Hayati

Tidak terdapat data mengenai sumberdaya non hayati pesisir di Pulau Kera hingga saat ini.


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya

Aktivitas pengelolaan sumberdaya yang ada di sekitar perairan Pulau Kera adalah perikanan tangkap dengan menggunakan alat tangkap tradisional seperti jaring dan pancing. Ikan tangkapan yang biasa ditangkap yaitu Ikan Raja (ikan tenggiri), Ikan Tuna dan Cumi-cumi. Harga jual untuk hasil tangkapan bergantung pada harga yang berlaku di Kota Kupang yaitu Rp. 22.000/kg untuk ikan tuna, Cumi Rp. 25.000/kg (Pulau Kera) Rp. 40.000/kg (Kupang). Selain dijual, hasil tangkapan digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Tidak terdapat kegiatan pengolahan hasil perikanan dan kegiatan wisata yang dilakukan di pulau ini.


Lingkungan

Konsentrasi nitrat di Perairan Pulau Kera menurut hasil analisa diketahui, kurang dari 0.001mg/L (Tabel 3), nilai tersebut sangat kurang dari baku mutu yang ditetapkan oleh Kementrian Lingkingan Hidup, yaitu 0.008mg/L. Bentuk ion nitrat dan mmonium mempunyai peranan penting sebagai sumber nitrogen bagi plankton yang merupakan organisme awal dalam rantai makanan di laut. Rendahnya konsentrasi nitrat pada lokasi ini tidak dapat langsung digunakan untuk mengasumsikan keberadaan fitoplankton sebagai indikasi kesuburan perairan.

Total suspenden solid (TSS) merupakan salah satu parameter kualitas perairan yang juga dapat mengindikasikan kecerahan dari kolom perairan,  pada lokasi dengan konsentrasi TSS tinggi, tingkat kecerahan pada kolom perairan memiliki kecenderungan rendah.  Hal tersebut dikarenakan keberadaan partikel padat yang menghambat penetrasi cahaya matahari untuk masuk kedalam kolom air.  Nilai TSS pada Perairan Pulau Kera tergolong rendah, yaitu 3mg/L, nilai ini berada diluar kisaran baku mutu yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.


Sarana dan Prasarana

Pulau Kera memiliki sarana prasarana yang tergolong sangat minim, bahkan sarana dasar penunjang kehidupan seperti sumber air tawar, listrik, dan transportasi tidak dimiliki oleh Pulau Kera karena tidak adanya bantuan pemerintah yang masuk ke pulau ini walaupun dekat dengan ibukota provinsi yakni Kupang. Sarana yang sudah ada rata-rata dibangun dengan dana swadaya masyarakat dan sumbangan dari LSM/Lembaga Keagamaan.

Tidak terdapat sarana transportasi, yang ada hanya jalan setapak yang menghubungkan kampung dengan sumur dan bagian tengah pulau. Pulau Kera belum dialiri listrik sebagai sarana penerangan, terdapat 1 (satu) rumah dan masjid yang memiliki genset sebagai sumber listrik namun jarang digunakan karena terkendala biaya pembelian solar sebagai bahan bakar. Penerangan tiap rumah masih menggunakan lampu petromaks.

Pulau Kera tidak memiliki sumber air tawar di daratan, terdapat tiga sumur dengan sumber air payau yang sehari-hari biasanya digunakan untuk mandi dan mencuci. 2 sumur merupakan sumur yang baru dibuat oleh penduduk dan 1 sumur lagi adalah sumur tua yang ada sejak pendahulu masyarakat Pulau Kera pertama kali datang pada tahun 1911. Untuk mendapatkan air bersih untuk keperluan memasak dan minum, penduduk harus membeli air ke Kota Kupang dengan harga Rp. 2000 untuk 20 liter air bersih (setara dengan 1 Jerigen).

Pulau Kera tidak memiliki sarana kesehatan, jika ada penduduk yang sakit maka mereka akan menyeberang ke puskesmas di Sulamu untuk berobat dan jika sakit yang diderita cukup parah maka penduduk akan dilarikan ke rumah sakit di Kota Kupang. Penduduk yang akan melahirkan ditangani oleh dukun beranak setempat, apabila tidak dapat ditangani dukun maka pasien akan dibawa ke Sulamu. Masyarakat setempat tidak memiliki Jamkesmas dikarenakan tidak memiliki kartu identitas dan status kependudukan yang belum jelas.

Pulau Kera tidak memiliki sarana pendidikan ataupun sekolah, pernah ada Madrasah Hifidiyah, satu-satunya Madrasah di Pulau Kera yang kondisi fisiknya sungguh sangat memprihatinkan dan tidak layak untuk sebuah Madrasah, dibangun secara swadaya oleh masyarakat Pulau Kera dan baru beroperasi pada Tahun 2007. Madrasah Hifidiyah yang tak bernama ini dibina oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kupang.

Terdapat satu buah bangunan masjid di Pulau Kera yang merupakan bantuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nusa Tenggara Timur yang diresmikan penggunaannya pada Tahun 2000 dengan kegiatan rutinnya adalah mengaji setiap sore hari menjelang matahari terbenam.

Pulau Kera tidak memiliki sarana sanitasi atau pengolahan sampah dan limbah, sampah dibuang langsung di pinggir pantai, laut dan sekitar pemukiman, sedangkan limbah rumah tangga langsung dibuang menuju laut. Terdapat satu buah MCK yang dibangun dengan dana swadaya masyarakat, namun hingga saat ini pembangunan MCK terhambat karena kekurangan dana dan tidak adanya saluran air.


Peluang Investasi

Kawasan Teluk Kupang berpotensi besar untuk pengembangan pariwisata alam (ecotourism) meliputi: scuba diving, snorkling, berenang, berjemur dan juga olah raga pancing. Pemandangan bawah laut merupakan objek utama ekosterisme di kawasan Teluk Kupang karena keanekaragaman karang dan jenis ikannya. Kawasan Teluk Kupang mempunyai peluang untuk dikembangkan mengingat kedudukan kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi NTT, dan sekaligus masih merupakan ibu kota Kabupaten Kupang.


Potensi dan Arahan Pengembangan


Kendala Pengembangan


Referensi

Hasil Survey Identifikasi Potensi PPK



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com