MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

Sapeken

Nama Lain :
Propinsi : JAWA TIMUR
Kabupaten : KABUPATEN SUMENEP
Kecamatan : Sapeken
Koordinat :

Gambaran Umum

Pulau Sapeken merupakan salah satu pulau yang padat penduduk. Nama Pulau Sapeken sendiri berdasarkan keterangan masyarakat berarti sepekan atau satu pekan. Sepekan tersebut awalnya sebutan terhadap pulau yang dulunya pernah disinggahi oleh pelaut-pelaut untuk berteduh atau beristirahat saat melaut yang kebetulan berada di pulau tersebut selama sepekan, sehingga lama-kelamaan ucapannya  menjadi Sapeken.

Secara administrasi, Pulau Sapeken terletak di Desa Sapeken, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Sebagai ibukota kecamatan, pulau ini memiliki luas yang relatif kecil yaitu 0,638612 km2 (Peraturan Bupati Sumenep nomor 11 tahun 2006).

Topografi Pulau Sapeken termasuk daerah landai dengan tingkat kemiringan tanah kurang dari 30%. Area pulau ini juga masuk daam kategori dataran rendah karena berada pada ketinggian dibawah 500 meter dari permukaan laut.

 


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Pulau Sapeken terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Sapeken I dengan jumlah RT 15, Dusun Sapeken II dengan jumlah RT 18, dan Dusun Sapeken III dengan jumlah RT 10, sehingga total RT sebanyak 43 RT.

Jumlah penduduk Pulau Sapeken adalah 2.605 jiwa dari 868 KK untuk Dusun Sapeken I, 3.501 jiwa dari 1.167 KK untuk Dusun Sapeken II dan 2.336 jiwa dari 779 KK untuk Dusun Sapeken III (Potensi Desa Sapeken 2011). Jadi total jumlah penduduk pulau adalah 8.442 jiwa. Kepadatan penduduk mencapai 13.219,294 jiwa/km2 dengan rata-rata 3 orang dalam 1 KK.

Penduduk mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil yang beragama Katolik yaitu 8 jiwa yang masuk dalam 3 KK. Jadi jika dikomposisikan maka penduduk yang memeluk agama Islam adalah 99,9052% dan yang memeluk agama Katolik adalah 0,0948%.

Secara geografis dan administrasi, Pulau Sapeken berbatasan atau dekat dengan Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi dan Pulau Bali, sehingga ada keterkaitan suku, adat dan budaya yang ada dengan ketiga pulau tersebut. Hal ini dapat terlihat dengan adanya jenis suku bangsa yang ada di Sapeken, diantaranya Suku Madura, Suku Bajo, Suku Mandar, Suku Bugis dan Suku Bali.

Masyarakat Pulau Sapeken sebagian besar berprofesi sebagai nelayan tangkap, dengan alat tangkap yang digunakan adalah jaring dan pancing. Jenis ikan yang ditangkap untuk alat tangkap jaring umumnya adalah ikan layang dan tongkol kecil, sedangkan untuk alat tangkap pancing adalah ikan kerapu. Hasil tangkapan nelayan umumnya dijual ke Bali melalui pengepul yang ada dan dalam keadaan hidup karena nilai jual ikan yang sudah mati akan jatuh.

Beberapa lembaga non pemerintah diantaranya adalah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), NU, Muhammadiyah, Persis Bandung, kelompok tani nelayan, himpunan penduduk pemakai air minum (HIPPAM), Lembaga Advokasi dan Penegakan Hukum Untuk Masyarakat (LAPHUM), front penyelamat lingkungan, kelompok pengawas perikanan, dll. Lembaga-lembaga ini bekerja berdasarkan inisiatif masyarakat. Selain itu juga terdapat lembaga keuangan yaitu 2 buah koperasi simpan pinjam.


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

Jenis lamun yang ditemukan di Pulau Sapeken berjumlah 7 buah yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Thallassia hemprichi serta Syringodium isoetifulium. Komunitas lamun selalu tumbuh berdampingan dengan biota asosiasinya tidak terkecuali komunitas lamun di Pulau Sapeken. Setidaknya terdapat Sembilan jenis biota asosiasi lamun yang terdapat di Pulau Sapeken, yaitu Gastropoda, Bivalvia, Kepiting, Bulu Babi, Holothuria sp atau teripang, Makroalga, Spons, juvenile ikan serta terumbu karang yang mayoritas masih mempunyai ukuran koloni relatif kecil.

Keberadaan mangrove di Pulau Sapeken sangat sedikit, yaitu hanya berada di sisi tenggara pulau saja.  Hanya ada tiga jenis mangrove yang ada di pulau ini, yaitu Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, serta Sonneratia alba. Komunitas mangrove ini didominasi oleh mangrove jenis  Rhizopora mucronata yang memiliki warna lebih hijau dibanding Rhizopora apiculata yang memiliki warna hijau kekuningan. Sama halnya dengan mangrove jenis Rhizopora apiculata, mangrove jenis Sonneratia alba pun menjadi minoritas di komunitas mangrove ini.

Pulau Sapeken yang dipadati penduduk memiliki 5 jenis vegetasi pantai, yaitu mengkudu, Terminalia catappa, Ipomea prescapre, Hibiscus tileceaus serta Cocos nucifera atau kelapa. Sebagian sisi pantai didominasi oleh tumbuhan darat seperti petai cina. mengkudu, kangkung laut atau Ipomea prescapre serta kelapa atau Cocos nucifera biasa dimanfaatkan warga sebagai makanan atau obat.

 


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya

Produksi perikanan tangkap di Pulau Sapeken merupakan salah satu yang terbesar, terutama untuk jenis ikan layang. Alat tangkap yang digunakan adalah jaring dan pancing. Jenis ikan yang ditangkap meliputi ikan-ikan karang (kakap dan kerapu), ikan layang dan tongkol. Sarana dan prasarana yang mendukung perikanan tangkap adalah pabrik es, karamba jaring apung (KJA) yang menampung ikan-ikan hidup, agen solar dan tempat-tempat penjualan perlengkapan alat tangkap. Budidaya laut yang ada hanya KJA ikan tetapi hanya untuk penampungan ikan dari hasil tangkapan nelayan dan hanya sedikit untuk pembesaran ikan saja. Tidak ada budidaya yang intensif yang dilakukan oleh masyarakat, terutama yang dimulai dari bibit atau kegiatan pembibitan.


Lingkungan


Sarana dan Prasarana

Di Pulau Sapeken sudah mendapatkan penerangan listrik selama 24 jam sejak pertengahan tahun 2011 menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel yang dikelola oleh PT. PLN (persero) APJ Pamekasan, UPJ Sumenep, sub Sapeken. Sistem pembayaran listrik 100% masyarakatnya sudah menggunakan sistem pulsa. Sistem pembayaran ini selain mempermudah masyarakat juga dirasa lebih hemat.

Alat transportasi yang digunakan masyarakat antara lain gerobak, becak, odong-odong (kendaraan bermotor dengan bak dibelakangnya) dan sepeda motor. Sarana ini digunakan oleh masyarakat setiap harinya baik untuk mobilisasi maupun mengangkut barang-barang dari satu tempat ke tempat lain, terutama pasar. Jalan di Pulau Sapeken dapat dikatakan dalam kondisi sangat baik. Sepanjang jalan penghubung seluruhnya merupakan jalan paving dengan lebar jalan rata-rata 2,5 - 3 m. Kualitas jalan ini juga telah disesuaikan kemampuannya dengan jenis-jenis alat transportasi yang ada di Pulau Sapeken.

Sarana air bersih masyarakat bersumber dari air tanah yaitu sumur yang dimiliki secara bersama-sama dan dari PDAM yang dikelola oleh HIPPAM. Air yang dikelola oleh HIPPAM dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa atau jirigen-jirigen yang dibawa sendiri oleh masyarakat yang diisi dari sumur-sumur yang ada.

Di Pulau Sapeken terdapat satu unit Puskesmas dalam kondisi cukup baik, terbaik diantara kecamatan-kecamatan yang ada di Kepulauan Kangean, tetapi tenaga kesehatan yang ada masih dianggap kurang karena hanya memiliki 2 dokter umum, 6 bidan dan 14 perawat (Kecamatan Sapeken Dalam Angka 2010). Harapan dari pemerintah kecamatan sebenarnya adalah meningkatkan status puskesmas Sapeken menjadi rumah sakit mini, tetapi syarat-syaratnya kurang memenuhi baik di perlengkapan maupun SDM yang dimiliki.

Sarana prasarana pendidikan tergolong lengkap mulai dari PAUD, TK SD, SMP dan SMA, walaupun pada beberapa sarana prasarana dalam kondisi kurang baik/rusak. Di Pulau Sapeken terdapat 6 unit TK/RA, 4 unit SD, 3 unit MI, 4 unit MD, 1 unit SMP, 3 unit MTs, 1 SMA dan 2 unit MA.

Sebagai pulau yang mayoritas beragama Islam, sarana prasarana peribadatan yang ada hanya masjid dan musholla. Terdapat 10 unit tempat peribatan, terdiri dari 6 unit masjid dan 4 unit musholla.

Sarana prasarana pendukung kepemerintahan sudah cukup mendukung. Hal ini karena Pulau Sapeken merupakan ibukota kecamatan. Hampir semua UPT ada dan berkantor di pulau ini. Fasilitas kepemerintahan dari kantor desa, UPT dinas-dinas dan kecamatan dalam kondisi baik dan cukup lengkap sehingga sangat mendukung aktivitas yang dilakukan.

Sanitasi lingkungan masih kurang baik. Tidak terdapat pembuangan akhir khusus yang dikelola. Sampah umumnya dibuang langsung ke laut, hanya sedikit yang dikubur dan dibakar, tetapi juga tidak pada tempat yang khusus sampah, hanya di halaman-halaman rumah penduduk, begitu juga dengan pembuangan air.


Peluang Investasi

Beberapa potensi yang dimiliki Pulau Sapeken adalah 1) potensi perikanan, baik perikanan tangkap dan perikanan budidaya laut, dan 2) potensi wisata, meliputi wisata pulau kecil, selam, snorkeling, olahraga pantai dan wisata pancing. Dari potensi tersebut maka arahan pengembangan pulau diarahkan untuk kegiatan perikanan dan wisata pesisir dengan meningkatkan sarana prasarana yang ada, melakukan promosi dan melakukan perluasan pasar.


Potensi dan Arahan Pengembangan


Kendala Pengembangan


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com