MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

DOLANGAN

Nama Lain :
Propinsi : SULAWESI TENGAH
Kabupaten : KABUPATEN TOLI-TOLI
Kecamatan : TOLI-TOLI UTARA
Koordinat :

Gambaran Umum

 

Pulau Dolangan atau disebut juga Pulau Panjang adalah salah satu pulau terluar yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah. Pulau yang ditetapkan sebagai wilayah suaka marga satwa tidak berpenghuni. Di pulau yang memiliki luas 1.2 Km2 ini terdapat Titik Dasar Nomor TD.044A dan Titik Referensi Nomor TR.044. Panorama di beberapa bagian pulau cukup eksotik, karena adanya pasir putih yang terhampar luas. Pulau Dolangan termasuk ke dalam wilayah administrasi Desa Sentigi, Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah

Pulau Dolangan atau oleh masyarakat setempat dinamakan dengan pulau Panjang merupakan pulau kecil dan terletak di Laut Sulawesi, tepatnya pada titik koordinat 01o 22' 40"  LU dan 120o 53' 04" BT. Pulau Dolangan terletak di sebelah Utara daratan utama Sulawesi dan berada di perairan Laut Sulawesi dengan batas wilayah sebelah Utara dengan Laut Sulawesi / Batas Wilayah Negara Filipina, sebelah Timur dengan Laut Sulawesi dan perairan Desa, Laulalang Kec. Tolitoli Utara, sebelah Selatan berbatasan dengan daratan utama Sulawesi (Desa Sentigi, Kec. Tolitoli Utara, Kabupaten Tolotoli), dan sebelah Barat dengan Pulau Salando dan Laut Sulawesi.

Untuk menjangkau Pulau Dolangan, perjalanan dapat dimulai dari kota Palu sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.  Dari Palu perjalanan dilanjutkan menuju Kabupaten Tolitoli dengan menggunakan jalur darat atau udara. Jarak tempuh melalui jalur darat adalah 430 km dengan waktu perjalanan sekitar 12 jam menggunakan mobil travel atau carteran. Sedangkan jalur udara di tempuh dengan menggunakan pesawat perintis (Merpati Nusantara Air Lines) dengan jadual penerbangan pada tiap hari Selasa dan hari Kamis.

Dari ibukota Kabupaten Tolitoli, perjalanan dilanjutkan menuju Desa  Sentigi yang merupakan desa terdekat untuk menjangkau pulau ini.  Perjalanan menuju desa ini dapat ditempuh melalui jalur darat selama 2 jam perjalanan.  Selanjutnya dari desa Sentigi, perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut, dengan menggunakan perahu nelayan. Apabila menggunakan perahu berkapasitas mesin 25 PK,  waktu tempuhnya sekitar 20 menit. 


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

 

Di perairan Pulau Dolangan, terumbu karang tumbuh membentuk karang tepi (fringing reef).  Pertumbuhan karang di pulau ini sangat bagus hingga mencapai persen cover 70%. Rataan terumbu karang pada reef flate zone cukup luas dengan jarak dari garis pantai hingga mencapai + 400 meter.  Pada zona reef slope yang berada pada sisi Barat–Utara–Timur pulau yang berbatasan langsung dengan laut lepas memiliki profile yang sangat curam dengan kemiringan diatas 60o dengan kedalaman antara 7 – 70 meter. Perkembangan terumbu karang di pulau Dolangan dapat dilihat dari pengaruh oseanografi yang lebih kuat dimana terumbu karang terkonsentrasi di hampir seluruh sisi perairan pulau, kecuali pada sisi selatan pulau.  Pada sisi Selatan pulau ini, didominasi oleh hamparan padang lamun. 

Eksistensi terumbu karang di perairan Pulau Dolangan telah berasosiasi dengan banyak organisme penting dan bernilai ekonomis tinggi.  Berbagai jenis organisme karang yang bernilai ekonomis baik untuk dikonsumsi seperti berbagai jenis kima (Tridacna spp), kerang Kepala Kambing, Kerang japing  dan teripang (Holothurian) masih dijumpai walaupun jumlah dan kelimpahannya relatif kecil.  Tridacna sebagai biota laut dilindungi memang sudah langka terutama jenis-jenis yang berukuran besar seperi kima raksasa (Tridacna gigas), kima air (T. derasa), kima cina (Hippopus porcellanus), dan kima sisik (T. Scuamosa).   Jenis-jenis karang ekonomis untuk biota hiasan aquarium (aquarium ornamen) yang banyak diekspor masih cukup melimpah antara lain Lobophyllia, Goniopora, Pectinia, Euphyllia, Plerogyra dan Physogyra

Vegetasi darat dan pantai yang terdapat di Pulau Dolangan umumnya mempunyai jenis yang sama dengan daratan utama.  Pulau ini memiliki beberapa vegetasi darat yang tumbuh rapat pada hampir seluruh daratan pulau.  Vegetasi darat di pulau didominasi oleh tumbuhan Sentigi yang tumbuh pada sela-sela batuan gamping terumbu.  Selain itu beberapa jenis vegetasi darat lainnya yang terdapat di pulau ini adalah, ketapang (Terminalia catappa L), Beringin (Ficus superba Miq), Rumput Angin (Spinifex littoreus), Pandan Laut (Pandanus tectorius Park), Pandan Surabaya (Pandanus amaryllifolius L), Waru laut (Hibiscus tiliaceus L), Cemara laut (Casuarina equisetifolia Jungh), pace (Morinda citrifolia L), Sidaguri (Sida retusa L) dan beberapa jenis vegetasi lainnya.

Di perairan sekitar Pulau Dolangan terdapat beberapa jenis lamun yang tersebar pada sisi Barat dan Selatan pulau, yaitu : Thallasia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan Cymodocea rotundata.  Dari kelima jenis lamun yang terdapat di sekitar perairan pulau Dolangan, jenis lamun Cymodocea rodundata merupakan jenis lamun yang dominan.

Ikan karang (ikan-ikan yang berasosiasi dengan karang) yang menghuni perairan sekitar perairan Pulau Dolangan pada umumnya terdiri dari ikan karang yang dapat dikategorikan sebagai species indikator, target dan primer.  Di lokasi ini terdapat 35 jenis ikan karang. Beberapa jenis ikan karang target ekonomis seperti ikan pisang-pisang (Caesionidae), ikan beronang (Siganidae), dan ikan kakap (Lutjanidae). Jenis ikan hias yakni dari betok laut (Pomacentridae) merupakan kelompok ikan yang sering mendominasi ikan-ikan terumbu karang dan tergolong dalam kelompok ikan mayor.  Sedangkan ikan-ikan indicator dari kelompok ikan kepe-kepe famili (Chaetodontidae) juga ditemukan dalam kelimpahan yang relatif kecil.   

Beberapa ikan karang konsumsi yang banyak dijumpai adalah dari jenis ikan kerapu ( Chomileptes altivelis, Ephinephelus fuscoguttatus), ikan kakap (baroci) (Luiyanus decussatus), ikan baronang (Siganus coralinus, S. dolainus), ikan ekor kuning (Caesio kuning), ikan tanda-tanda (Luiyanus Fulvilamma), ikan pari bintik biru (Halichoeris centriquadrus), ikan gitaran (Rhynchobatus djiddesis), ikan pari (Rhinotera javanica) dan beberapa jenis ikan konsumsi lainnya.

Ekosistem karang dan lamun di peraian sekitar Pulau Dolangan merupakan ekosistem yang kompleks dimana banyak organisme laut yang berasosiasi intensif dengan ekosistem utama pulau ini.  Di perairan sekitar Pulau Dolangan terdapat banyak jenis reptil laut  seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas). 

Biota laut lainnya yang terdapat di Pulau Dolangan adalah seperti moluska, echinodermata, krustasea dan polychaeta.  Dari golongan moluska yang terpenting adalah kambing kambing (Cassis cornuta) dan kima (Tridacna spp).  Terdapat 4 (empat) jenis kima yaitu di perairan sekitar pulau ini, yaitu : kima besar (Tridacna maxima), kima sisik (Tridacna squamosa), kima lubang (Tridacna crocea) dan kima pasir (Hippopus hippopus).  Dari keempat jenis koma ini, yang paling mudah didapatkan diperairan pulau Dolangan adalah kima pasir ((Hippopus hippopus)

Beberapa jenis echinodermata yang dijumpai adalah seperti jenis bulu babi (Diadema setosom dan Echinuthrix calamaris), jenis teripang (Holothuria scabra, H, arta dan Bohadschia argus), jenis binatang laut (Linckia laevigata, Culcita novaguineae dan Ophiotrichides nereidina), jenis bintang ular (Ophitrichoides nereidina) dan jenis bintang biru (Linekia laevigata).  Jenis krustasea yaitu jenis lobster (Panulirius sp), kepiting batu (Graphus temichristatus dan Dardamus guitatus, Ocyphode marcphitalmus) dan kepiting cina (Scylia serrata).   Beberapa jenis cacing laut (Polychaeta spp, Spirobranchus spp) juga terdapat dilokasi ini.

Penetapan Pulau Dolangan sebagai wilayah suaka margasatwa, dilatar belakangi oleh keberadaan Burung Maleo (Macrocephalon maleo) dan habitatnya di pulau ini.  Beberapa jenis burung laut seperti raja udang, elang laut, gagak, bangau, dan lainnya banyak di temui di pulau ini.  Sedangkan  untuk hewan mamalia besar, terdapat hewan rusa sulawesi.  Berbagai jenis reptil seperti biawak dan ular sawah kerap kali ditemukan oleh masyarakat yang berkunjung di pulau ini.  Hal ini menandakan eksistensi hewan ini di Pulau Dolangan. 


Sumberdaya Non Hayati


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya


Lingkungan

 

Secara umum, Pulau Dolangan memiliki topografi yang datar/rata. Berdasarkan jenis pantai, unit-unit geomorfologi, serta litologi penyusunnya, karakteristik pantai pulau Dolangan terdiri dari 1 (satu) tipe pantai, yaitu tipe pantai karang/koral. Satuan morfologi pulau Dolangan berupa dataran dengan ketinggian 3-4 meter dari permukaan laut (dpl), serta memiliki tingkat kemiringan < 10o

Pulau Dolangan dengan pantai berkoral dicirikan oleh hadirnya batuan gamping terumbu sebagai batas pesisir yang dibatasi oleh batuan terumbu yang curam (wave cut cliff).   Di beberapa tempat di pulau ini, seperti di sisi bagian Timur hingga Tenggara, dijumpai paras pantai yang terbentuk dari gamping terumbu yang memiliki kemiringan yang relatif landai berupa teras coral.  Bentukan pantai yang landai tersebut diinterpretasikan sebagai hasil dari pengikisan air laut (wave flat form). 

Di sisi Tenggara pulau ini, bentuk wave cut flat form ini memanjang ke arah daratan utama.  Saat air berada pada keadaan surut, teras coral ini rata-rata memiliki lebar paras 1.5 – 15 meter dan yang paling luas yaitu terdapat pada sisi Tenggara pulau, hingga mencapai lebar 300 meter, bahkan pada saat surut terendah bisa mencapai daratan utama. Kondisi ini memungkinkan pulau ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari kampung dusun Tara, Desa Sentigi.

Batuan gamping terumbu (QI) di Pulau Dolangan menjadikan pulau ini berwarna segar putih kekuningan, warna lapuk kuning kecoklatan.  Batuan ini memiliki kekerasan sedang hingga sangat keras.  Selain itu batuan ini banyak mengandung foram besar sebagai pembentuk batuannya. Menurut klasifikasi oleh Shepard (1973), tipe pantai pulau Dolangan dapat dikategorikan kedalam kategori pantai sekunder hasil dari bentukan aktivitas hewan laut yang disebut reef terrace.

Secara umum, iklim di Pulau Dolangan relatif sama dengan Kabupaten Tolitoli.  Iklim di wilayah ini termasuk beriklim tropis, dengan temperatur udara rata-rata 29 °C.  Suhu terendah tercatat 25 °C, dan biasanya terjadi pada bulan Januari – Maret, yang tergolong bulan-bulan basah.  Suhu tertinggi terjadi pada bulan September – Desember, dimana suhu bisa mencapai 30 °C. 

Tingkat curah hujan tahunan di wilayah ini sekitar 2302 mm/tahun.  Distribusi suhu udara maksimum harian 32,0 °C terjadi pada bulan Agustus, kisaran udara tahunan antara 21 – 33,8 °C dengan nilai rataan 29 °C.  Suhu minimum terendah terjadi pada bulan Juli.

Pasang surut di perairan Pulau Dolangan adalah tipe pasang surut campuran harian ganda (mixed prevailing semi diurnal).  Dalam satu hari terjadi 2 kali air pasang dan 2 kali air surut.  Tunggang pasang surut (tidal range)di perairan pulau Dolangan adalah mencapai maksimum 2,3 m.  Pasang surut dengan type sedemikian memiliki periode gelombang pasut sekitar 12 jam.  Arus di perairan Pulau Dolangan bergerak maksimum pada saat air bergerak surut dengan kecepatan rata-rata adalah mencapai 0,78 meter/detik dan arah arus dominan ke arah Barat Daya dengan kisaran sudut N 180o E – N 250o E.  Sedangkan kecepatan arus minimum terjadi pada saat air mencapai pasang maksimum dengan kecepatan 10 cm/dtk.  Secara umum, pergerakan massa air laut di sekitar peraiaran Pulau Dolangan pada nilai rata-rata 0,692 meter/detik.


Sarana dan Prasarana

 

Pulau Dolangan merupakan pulau kecil yang tidak berpenduduk.  Pulau ini tidak memiliki sarana dan infrastruktur dasar.  Akan tetapi terdapat 2 buah bangunan buatan manusia yang terdapat pada sisi Utara dan Selatan perairan pulau ini.  Bangunan lampu navigasi pelayaran untuk kebutuhan pelayaran di bangun di perairan sisi Utara pulau, sedangkan di sisi Selatan pulau terdapat bangunan antena relay gelombang radio yang di miliki oleh KSDA Departemen Kehutanan.


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan

 

Pengembangan Kawasan Konservasi Laut Daerah

Pengembangan Pulau Dolangan sebagai pulau kecil terluar, antara lain melalui   rekonstruksi dan pemeliharaan Titik Referensi (TR) dan Titik Dasar (TD). Selanjutnya adalah pemeliharaan dan pengawasan keamanan yang dilakukan bersama antara aparat yang berwenang. 

Berbagai keanekaragaman yang terdapat di Pulau Dolangan dan perairan di sekitarnya merupakan potensi yang semestinya dikelola dengan baik.  Ekosistem pantai berbatu, ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun, ekosistem rataan pasir putih (gusung) dengan segala biota yang berasosiasi didalamnya merupakan potensi yang mesti dijaga kelestariannya.

Keberadaan beberapa biota yang dilindungi di sekitar Pulau Dolangan seperti keberadaan berbagai jenis Kima, terumbu karang dengan kondis cukup baik hingga baik, dan berbagai jenis ikan karang merupakan potensi sumberdaya perikanan yang sangat penting untuk dijaga kelestariannya.

Potensi sumberdaya perikanan sedianya dikelola dengan baik untuk menjamin kesejahteraan ekonomi masyarakat disekitarnya dan juga sejalan dengan itu dikelola untuk menjamin keberlanjutannya (sustainabilitas).


Kendala Pengembangan

 

Ketersedian Air Bersih

Air tawar merupakan masalah pokok bagi pengembangan Pulau Dolangan kedepan.  Pulau Dolangan yang merupakan pulau sangat kecil dan tersusun dari batuan gamping terumbu tidak memiliki ketersediaan sumber air tawar. 

Pengambilan Karang

Pengambilan karang untuk kebutuhan bahan bangunan pernah marak dilakukan oleh penduduk yang bermukim disekitar Pulau Dolangan. Hingga kini, penambangan karang masih kerap dilakukan oleh masyarakat dalam frekuensi dan kuntitas yang semakin menurun.  Rata-rata dalam sebulan terjadi 1 kali aktifitas penambangan karang di sekitar perairan pulau ini.

Pengambilan Fauna yang Dilindungi

Di perairan Pulau Dolangan dan sekitarnya terdapat beberapa jenis biota laut yang dilindungi.  Yang utama adalah burung Maleo (Macrocephalon maleo) yang merupakan hewan endemik yang terdapat di pulau Sulawesi.  Selain itu terdapat banyak biota laut yang dilindungi seperti Kima (Tridacna spp) dan Kerang kambing-kambing (Cassis cornuta).  Khususnya untuk kedua biota laut ini, eksploitasinya masih kerap kali terjadi dalam frekuensi yang cukup meresahkan.  Dalam sebulan terjadi 3 kali aktifitas pengambilan biota ini oleh masyarakat sekitar.

Lemahnya Pengawasan Pulau Sebagai Suaka Margasatwa

Lemahnya pengawasan.  Penetapan pulau ini sebagai kawasan suaka margasatwa menjadikan pulau ini seharusnya terproteksi dari berbagai macam bentuk eksploitasi dan pemanfaatan sumberdaya lainnya.   Akan tetapi lemahnya pengawasan menjadikan beberapa kegiatan eksploitasi biota laut yang dilindungi kerap terjadi.


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com