MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

NUSAMANUK

Nama Lain :
Propinsi : JAWA BARAT
Kabupaten : KABUPATEN TASIKMALAYA
Kecamatan : CIKALONG
Koordinat :

7°49' 12,980" LS - 108° 19' 21,623" BT


Gambaran Umum

 

Pulau Manuk atau setelah verifikasi toponim pulau bernama Pulau Nusamanuk merupakan salah satu pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Australia. Oleh masyarakat setempat pulau ini disebut Nusa Manuk (bahasa Sunda: nusa artinya daratan yang dikelilingi air, manuk artinya burung). Sehingga pada saat verifikasi penamaan pulau disepakati pulau ini bernama Pulau Nusamanuk. Pemberian nama Pulau Nusamanuk atau Pulau Manuk disebabkan oleh karena pada waktu-waktu tertentu, terutama pagi dan sore/malam pulau ini dihuni oleh berbagai macam jenis burung. Letak pulau tersebut berdekatan dengan Pantai Karang Tawulan dengan jarak ± 750 m dan mempunyai luas kurang lebih 0,1 km2.

Secara administratif, Pulau Manuk atau Pulau Nusamanuk termasuk ke wilayah Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan letak geografis, Pulau Manuk terletak di Samudera Hindia dengan posisi 07º49’11” LS - 108 º 019’18” BT,

Pulau Manuk akan terlihat bilamana kita melewati jalan lintas Selatan Kabupaten Tasikmalaya. Pulau ini terletak berdekatan dengan pantai Karang Tawulan yang berjarak 750 meter dan dalam keadaan surut terendah pulau ini bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Pantai Karang Tawulan karena airnya dangkal, hanya sebatas lutut orang dewasa. Namun dalam kondisi laut pasang untuk mencapai pulau ini harus menggunakan perahu. Dalam kondisi laut tenang atau tidak bergelombang, pulau ini dapat diakses dengan menggunakan perahu nelayan dari Pantai Karang Tawulan Desa Cimanuk, Kecamatan Cikalong selama 10 menit.


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

 

Pulau Manuk hanya ditempati oleh pegawai suar navigasi Kementerian Perhubungan.  Kegiatan yang dilakukan di pulau ini antara lain kegiatan mencari ikan, udang lobster, yang dilakukan oleh penduduk Desa Cimanuk yaitu penduduk desa terdekat dengan Pulau Manuk. Kegiatan penangkapan ikan dilakukan di sekitar pulau yaitu sekitar 500 m dari pantai. Keterbatasan pengetahuan masyarakat menyebabkan mereka melakukan penangkapan terhadap lobster yang masih muda dan berukuran kecil, serta lobster yang sedang bertelur.


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

 

Flora

Pulau Manuk hanya ditumbuhi sedikit tanaman. Hal ini karena ukuran pulau yang relatif kecil dengan tekstur dasar pulau yang tersusun dari batuan yang ditutupi tanah dan batu-batu yang hancur. Sebagian besar lahan berupa rumput, tanaman  perdu dan tumbuh beberapa batang pohon ketapang, pandan laut dan pace.

Perikanan

Perairan pulau ini memiliki kekayaan hayati yang melimpah, antara lain berbagai jenis ikan karang, ikan pelagis seperti kembung, tenggiri, tongkol, tuna dan udang karang (lobster). Penduduk setempat menangkap lobster dengan cara tradisional, yaitu langsung menggunakan tangan atau dengan jaring krendet (perangkap sederhana yang terbuat dari lingkaran besi beton dipasang jaring serta dilengkapi dengan tali melintang untuk menempatkan umpan agar menarik kehadiran lobster).

Terumbu karang dan biota 

Pulau Manuk memiliki jenis tutupan karang yang didominasi karang mati (dead coral). Kelimpahan biota yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang didominasi oleh kelompok ikan karang, ikan-ikan pelagis dan lobster. Selain berbagai jenis ikan, ditemukan juga sea weed dalam jumlah kecil.

Potensi Pariwisata

Pulau ini sangat strategis untuk obyek wisata karena berdekatan dengan lokasi wisata bahari Pantai Karang Tawulan yang senantiasa ramai dikunjungi wisatawan lokal.  Dalam keadaan surut terendah pulau ini bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Pantai Karang Tawulan sehingga pulau ini bisa dinikmati dari dekat oleh wisatawan.


Sumberdaya Non Hayati

 

Antara Pantai Karang Tawulan dan Pulau Manuk terdapat potensi pasir besi yang siap untuk dieksploitasi secara besar-besaran. Saat ini sudah ada penambangan pasir besi namun terkendala karena masyarakat di sekitar pantai tidak setuju akan kehadiran truk-truk besar yang dikhawatirkan akan merusak sarana jalan dan lingkungan.


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya


Lingkungan

 

Pulau Manuk terdiri dari onggokan karang yang memiliki topografi berbukit dengan ketinggian yang rendah. Bentuk lahan pulau ini berupa bukit karang terkikis berat. Kondisi pantainya terjal berbatu sehingga sangat sulit didarati karena hantaman ombak dan kekuatan arus di sekelilingnya. Letaknya yang berada di Samudera Hindia dengan gelombang pantai selatan yang relatif besar menyebabkan pulau ini terkikis dan rawan abrasi. Elevasi ketinggian Pulau Manuk antara 0-20 m di atas permukaan laut (dpl).

Secara litologi, Pulau Manuk pada umumnya sama dengan pulau-pulau kecil lainnya, yaitu tersusun dari tufa andesit dan batuan sedimen hasil letusan gunung berapi. Secara umum, bagian batuan pulau berwarna kehitaman dengan bentuk tidak rata.

Iklim Pulau Manuk termasuk iklim tropis. Data iklim  menunjukkan curah hujan di Kabupaten Tasikmalaya rata-rata 923,4 mm/tahun dengan rata-rata per bulan sebesar 278.55 mm. Temperatur harian di sekitar Pulau Manuk sekitar 21,5º C - 31º C. Kecepatan angin sangat tergantung pada kondisi oseanografis pantai Selatan Tasikmalaya.

Pulau Manuk merupakan pulau terluar yang berada di bagian Selatan Pantai Karang Tawulan, Kecamatan Cikalong. Kondisi perairan pulau ini jernih dengan gelombang di sekitar perairan ini umumnya bertipe plunging, berombak besar sebagaimana karakteristik perairan pantai Selatan Jawa.  Material dasar laut di sekitarnya berupa pasir putih pecahan karang yang menunjukkan bahwa energi gelombang di perairan ini cukup besar. Arus di perairan pulau ini tidak menentu walaupun cenderung berasal dari arah Barat dan Timur karena posisinya terletak di pantai Selatan Jawa, tetapi kecepatan arus yang lebih jelas adalah terjadinya arus pasang surut. Tinggi gelombang rata-rata di daerah ini adalah 1,5 meter dan maksimum mencapai 4 meter.


Sarana dan Prasarana


Peluang Investasi


Potensi dan Arahan Pengembangan

Pengembangan kawasan untuk pualu kecil terluar yang tidak berpenduduk antara lain melalui kegiatan konservasi, wisata bahari atau pengembangan labolatorium alam dan penelitian dan pengembangan sumberdaya kelautan. Upaya tersebut perlu didukung dengan membangun sarana dan prasarana seperti bangunan pemecah gelombang, pelindung pantai dari abrasi, tempat peristirahatan bagi wisatawan atau rumah dari bahan lokal atau berciri lokal yang ada dikawasan tersebut.

Diperlukan survei hidro-oseanografi untuk mendapatkan data terbaru guna mengembangkan kawasan di sekitar pulau dan pemeliharaan titik referensi yang ada. Selain itu kejelasan otoritas pengelolaan dan pemeliharaan serta pengawasan fungsi pulau segera dilakukan. Selain itu, karena terbatasnya pengetahuan masyarakat, tidak jarang mereka melakukan penangkapan terhadap lobster yang masih muda dan berukuran kecil maupun lobster yang sedang bertelur. Untuk itu perlu ada usaha penyadaran dan pemberian informasi pada nelayan agar ketersediaan seumberdaya lobster di perairan sekitar pulau Manuk in dapat dipertahankan atau dilestarikan.


Kendala Pengembangan


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com