MENU

Lihat Informasi:

KOMENTAR

Salemo

Nama Lain :
Propinsi : SULAWESI SELATAN
Kabupaten : KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN
Kecamatan :
Koordinat : 4° 41' 21.000

Gambaran Umum

Secara geografis Pulau Salemo berada pada posisi 04042'28.8” LS dan 119026'56.4 BT, dengan batas-batas administrasi ; Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Makassar; Sebelah Timur berbatasan dengan Pesisir Pangkep; Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Mattiro Kanja; dan Sebelah Barat berbatasan dengan Mattiro WaliE.

Dalam wilayah daratan seluas 10 Km2, pulau Salemo terdapat 2 (dua) RT yang dihuni oleh 723 KK atau 2.806 jiwa yang terdiri dari 1.366 laki-laki dan 1.440 perempuan. Bahasa pengantar sehari-hari yang digunakan oleh warga adalah bahasa Bugis dan Makassar karena hampir seluruh penduduk merupakan etnis Bugis dan Makassar.

 

Desa  Mattiro  Bombang  merupakan  salah  satu  desa  di  Kecamatan Liukang  Tuppakbiring  yang  terletak  di  kawasan  kepulauan  Pangkep.  Desa Mattiro  Bombang  terdiri  dari  empat  pulau  yang  berpenghuni  dan  beberapa gusung karang. Keempat pulau tersebut adalah Pulau Salemo, Pulau Sagara, Pulau Sabangko, dan   Pulau Sakuala. Secara Adminsitratif, Desa Mattiro Bombang berbatasan dengan Desa Pancana Kabupaten Barru (sebelah utara), Desa Mattiro Kanja (sebelah selatan), Desa Mattiro Walie (sebelah barat), Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang (sebelah timur).   Sebagai wilayah kepulauan. Desa Mattiro Bombang bertopografi datar dan landai dengan rata- rata ketinggian mencapai kurang dari 50 meter dengan luas wilayah 22 km2. Secara geografis, Desa Mattiro Bombang juga merupakan salah satu desa yang terdekat dengan daratan Kabupaten Pangkep.

 

Klimatologi

Iklim yang terdapat di Pulau  ini seperti umumnya daerah kepulauan beriklim tropis, dimana bulan kering 2 – 3 bulan,  Curah hujan rata-rata 2.500-3.000 mm/tahun. Tipe ini merupakan tipe iklim agak basah.

Temperatur udara di pulau ini berada pada kisaran 21o - 31o atau rata-rata suhu udara 26,4 oC. Keadaan angin berada pada kecepatan sedang, dengan kelembaban udara tinggi.

 

Oseanografi

Suhu permukaan diperairan pulau Salemo berkisar antara 27,015-30,076 oC, sedangkan salinitas perairan disekitar pulau  berkisar antara 32,02 - 35,30 ‰. Sedangkan kecepatan arus permukaan  pada perairan   berkisar antara 0,02 – 0,28 m/detik

 

Hidrologi

Air permukaan yang ada di pulau Salemo berupa mata air. Aliran air permukaan yang terdapat dipulau tidak ditemukan. Tidak seperti pulau-pulau sebelahnya, pulaiu ini diperuntukkan untuk pemukiman dan tidak terdapat tambak di pulau ini.

 

Keadaan Fisik Pulau

Topografi dan Geomorfologi

Dilihat dari topografi maka pulau Salemo memiliki topografi yang landai yaitu berkisar antara 0 – 2 % dengan ketinggian diatas muka laut 0 – 25 m. Bentangan batuan penyusun terdiri dari Gamping, lava/breksi dan endapan alluvium. Jenis peruntukkan lahan di pulau ini adalah untuk pemukiman, dan kebun.  

 


Kependudukan, Sosial Budaya dan Kelembagaan

Wilayah Pulau Salemo merupakan daerah yang sudah cukup padat,.Rumah-rumah penduduk hampir menyebar rata diseluruh pulau. Mata pencaharian masyarakat bervariasi mulai dari sebagai nelayan pancing, nelayan jaring, guru, tukang bengkel, pembuat perahu dan pegawai. Nelayan yang berdiam di pulau ini adalah nelayan penangkap udang dan kepiting. Para nelayan penangkap kepiting dan udang umumnya mencari di lokasi disekitar pulau. Hutan bakau yang banyak terdapat di pulau-pulau tersebut memang menjadi habitat kepiting dan udang.

Nelayan mulai memasang jaring pada jam 15.00 hingga jam 06.00 Wita.    Walaupun demikian, terkadang mereka hanya bisa memperoleh hasil maksimal 2 kg kepiting. Di saat musim Barat    hasil yang diperoleh bisa mencapai 1 - 20 kg sedangkan di saat musim Timur hanya mencapai 1 – 2 kg. Di bulan Mei - Agustus, hasil yang diperoleh mulai menurun bahkan terkadang hanya 1 – 2 ekor.   Kegiatan menangkap kepiting dilakukan sepanjang tahun. Waktu istirahat setelah menangkap kepiting biasanya digunakan untuk memperbaiki  jaring  yang  rusak. Selain menangkap   kepi ting , penduduk  juga memancing  ikan, namun mereka cenderung menangkap kepiting karena untuk memancing ikan membutuhkan biaya yang lebih banyak. Hasil laut umumnya dijual kepada para pedagang pengumpul yang berada di pulau

Sosial-Budaya, Ekonomi, dan Kelembagaan

Hasil dari wawancara dengan penduduk mengenai sosial masyarakat di Pulau Salemo yaitu : Sumberdaya  rajungan  sangat  dinikmati  oleh  banyak  orang  sehingga  para nelayan sangat  berantusias untuk  mencari rajungan  di sekitar  pulau  mereka agar kebutuhan sehari-hari para nelayan ini terpenuhi.

Selain  nelayan,    ibu-ibu  dan  anak-anak  juga  ikut  berpartisipasi dalam menutupi kebutuhan sehari-hari mereka dengan bekerja disebuah industri pengolahan rajungan. Di Agama yang dianut penduduk pulau ini 100% islam, sehingga perayaan hari besar islam di pulau ini dirayakan dengan meriah seperti Maulid Nabi Muhammad SAW ataupun peringatan-peringatan hari besar lainnya.

Penduduk Pulau ini umumnya berasal dari suku Bugis dan Makassar dan sebagian kecilnya dari etnis lain yang masuk ke pulau ini karena adanya proses perkawinan. Komposisi ini kemudian berpengaruh dalam pola interaksi penduduk keseharian yang pada umumnya menggunakan bahasa Bugis sebagai sarana komunikasi. 


Ekosistem dan Sumberdaya Hayati

a. Terumbu Karang

Keakaragaman Hayati Terumbu Karang

                Terumbu karang mempunyai kemampuan bertahan terhadap kondisi perairan yang cukup ekstrim pada beberapa jenis karang. Hal ini terlihat pada kondisi susbtrat terumbu karang di perairan Pulau Salemo. Penutupan karang keras hidup (KKH) secara umum di perairan sekitar Pulau Salemo cukup baik walau pada kondisi perairan dengan kekeruhan yang cukup tinggi. Kekeruhan perairan terutama akibat pengaruh dari dua pulau yang berdekatan dengan pulau ini yaitu Pulau Sabangko dan Pulau Sagara yang merupakan pulau dengan lahan yang telah berubah menjadi tambak. Akibat kekeruhan perairan, jarak pandang menjadi sangat terbatas dan keberadaan terumbu karang yang ditemukan tidak lebih dari kedalaman 4 meter karena selebihnya merupakan substrat pasir lumpur.

 

Tabel 2. Koordinat lokasi pengamatan kondisi substrat dasar di Pulau Salemo

Lokasi

Geodetik

UTM 48 S

Lintang (LS)

Bujur (BT)

Easting

Northing

Selatan Pulau Salemo

4° 41’ 27.4”

119° 27’ 54.2”

773470.046

9481016.54

Utara laut Pulau Salemo

4° 40’ 57.8”

119° 27’ 56.9”

773556.502

9481925.95

 

Selatan Pulau Salemo

                Sebaran terumbu karang pada bagian selatan ditemukan hanya sampai kedalaman 3 meter. Jarak pandang di dalam kolom perairan sangat terbatas berkisar hanya 1 meter. Kondisi arus cukup tenang pada saat pengamatan dilakukan. Sebaran KKH yang ditemukan cukup banyak diantara karang mati yang tertutup sedimentasi. Pada daerah ini sedikit sekali terlihat makro alga yang tumbuh.

Persentase penutupan karang keras hidup (KKH) memiliki tutupan yang cukup tinggi pada lokasi pengamatan ini. Penutupan KKH mencapai 62,14% dengan kriteria baik. Bentuk pertumbuhan karang cukup beragam yang ditemukan, antara lain karang bercabang, submasif dan masif yang terlihat cukup dominan. Karang mati merupakan karang yang telah tertutup oleh sedimentasi dan cukup tinggi nilai persentase penutupannya mencapai 33,34%. Sedangkan penutupan substrat biotik cukup sedikit ditemukan sebesar 4,34% dan alga tidak berkembang banyak dengan penutupan sebesar 0,18%.

 

Utara Pulau Salemo

                Perairan bagian utara Pulau Salemo memiliki sebaran terumbu karang sampai kedalaman 4 meter, namun jarak pandang yang pendek mempersulit pengamatan. Transek pengamatan dilakukan pada kedalaman 2 meter. Karang keras hidup (KKH) yang ditemukan cukup banyak dan umumnya koloni merupakan karang-karang yang memiliki daya tahan terhadap perairan dengan kekeruhan yang tinggi. Kondisi arus dan angin cukup tenang pada saat pengamatan dilakukan. Karang mati yang tertutup sedimentasi pun cukup banyak terlihat di lokasi pengamatan ini.

 

Dengan kondisi perairan yang cukup keruh, pengamatan susbtrat dasar menunjukkan nilai penutupan KKH yang cukup baik. Persentase penutupan KKH mencapai 58,75% dengan kriteria baik. Koloni karang cukup banyak dan umumnya memiliki bentuk pertumbuhan yang hampir seragam dengan bagian selatan yaitu karang masif, submasif, bercabang dan mengerak. Penutupan karang mati memiliki persentase sebesar 38,67% dan karang mati umumnya disebabkan oleh sedimentasi yang terjadi di perairan Pulau Salemo. Sedangkan penutupan alga dan biotik pada lokasi pengamatan tidak begitu tinggi, penutupan alga sebesar 1,05% dan biotik sebesar 1,53%.

 

Tingkat Kerusakan dan Penyebab Utama

                Ekosistem dan kondisi perairan yang sehat dapat mendukung perkembangan biota dan organisme yang ada di dalam satu kesatuannya. Perubahan dan kerusakan berdampak negatif dan dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari ekosistem tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi ekosistem serta perairannya yang menurut pengamatan di lokasi pengamatan antara lain dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

 

Tabel 3. Faktor kerusakan daerah pesisir Pulau Seliu dari alam dan anthropogenik

Kategori

Kerusakan

Selatan

Utara

Keterangan

Anthropogenik

Limbah domestik

V

V

Pemukiman menjadi penyumbang limbah domestik ke perairan dan ekosistem di sekitarnya

 

Pengambilan karang

V

V

Pengambilan karang sebagai bahan bangunan dan tanggul dapat mengurangi jumlah sebaran karang

Faktor alam

Sedimentasi

V

V

Proses pengendapan partikel yang ada di dalam perairan dan menutupi permukaan substrat terutama pada karang

 

Suspensi terlarut

V

V

Merupakan partikel-partikel yang berada dalam perairan dan dapat menyebabkan pengendapan/ sedimentasi

 

Alga

V

V

Alga akan menutupi permukaan koloni karang menyebabkan kematian polip karang serta kompetisi ruang hidup bagi karang

 

Lamun

V

V

Menandakan kondungan nutrien yang cukup tinggi dan kompetisi ruang hidup bagi karang

 

Permasalahan Utama Pengelolaan Kawasan Terumbu Karang

                Pemukiman penduduk di Pulau Salemo cukup padat. Hal ini terlihat dari penggunaan lahan daratan pulau yang hampir seluruhnya di penuhi dengan bangunan pemukiman penduduk. Keberadaan terumbu karang masih cukup baik pada perairan pulau ini. Namun, kekeruhan perairan dan sedimentasi dari pengaruh pulau lain yaitu Pulau Sagara dan Pulau Sabangko yang merupakan area tambak cukup signifikan. Limbah-limbah domestik dari pemukiman menjadi hal yang utama terhadap kerusakan lingkungan dan ekosistem di perairan.

 

Status Kawasan

Wilayah Pulau Salemo tidak termasuk dalam status kawasan apapun.

 

Biota Asosiasi yang Ditemukan di Pulau Salemo

Organisme lain yang berasosiasi dengan karang ditemukan tidak banyak, namun uniknya ditemukan nudibranch dari jenis Phyllydia dalam kondisi perairan yang keruh.

b. Ikan Terumbu

Nilai H’ yang tersaji dalam Tabel 4 menunjukkan hubungan antara keanekaragaman jenis ikan terumbu dengan tekanan lingkungan. Semakin besar nilai H’ yang diperoleh maka keanekaragaman jenis semakin tinggi serta terjadi kesetimbangan antara kelimpahan jenis dengan tekanan lingkungan. Komunitas ikan terumbu di Pulau Salemo memiliki kriteria keanekaragaman jenis ikan terumbu yang rendah sehingga dapat dikatakan komunitas ikan terumbu di Pulau Salemo berada pada kategori tertekan.

 

Tabel 4. Indeks keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (E’) dan Indeks Dominansi (C’) di pulau Salemo

Lokasi

H’

E’

C’

Utara P. Salemo

1.396603

0.544496

0.427368

Selatan P. Salemo

1.447461

0.603638

0.302664

 

Dominansi suatu jenis ikan terumbu di suatu perairan akan terlihat pada nilai indeks C’ pada Tabel 4. Apabila suatu komunitas di dominansi oleh salah satu jenis nilai indeks C’ akan semakin mendekati angka 1. Hal tersebut akan mengakibatkan kestabilan komunitas di perairan tersebut akan semakin berkurang. Kondisi komunitas ikan terumbu di Pulau Salemo termasuk tergolong dalam kondisi yang tidak didominansi oleh jenis ikan terumbu tertentu.

Utara Pulau Salemo

                Sisi sebelah utara pulau Salemo banyak dijumpai ikan-ikan yang berasal dari jenis famili Pomacentridae (Gambar 15). Sebagian jenis ikan terumbu famili Pomacentridae banyak tersebar diseluruh perairan Indonesia dan mampu mentolelir kondisi perairan dengan tingkat sedimentasi yang tinggi. Pada umumnya ikan ini berukuran kecil dan memiliki pola warna cerah pada tubuhnya. Jenis ikan yang banyak ditemukan di perairan sisi Utara adalah Neopomacentrus bankieri dengan kepadatan yang tercatat sebesar 3240 ind/ha.

                Jenis selanjutnya yang banyak ditemukan adalah ikan yang berasal dari famili Nemipteridae. Ikan jenis ini memangsa invertebrata yang berada di dasar perairan dengan menggunakan indra pengelihatannya. Oleh karena itu, ikan ini memiliki mata yang relatif besar dan sering terlihat melayang di atas substrat untuk mencari mangsanya yang bergerak.

Pada sisi Utara Pulau Salemo ditemukan ikan yang berasal dari famili Chaetodontidae dimana ikan ini merupakan ikan yang dapat dijadikan sebagai bio-indikator kesehatan ekosistem terumbu karang. Selain ikan indikator, ikan ekonomis juga ditemukan pada perairan sebelah utara pulau Salemo. Jenis ikan yang ditemukan adalah Siganus virgatus dengan biomassa yang terhitung sebesar 0,48 kg/ha.

Selatan Pulau Salemo

                Dari hasil Pengamatan ikan terumbu di sisi Selatan pulau Salemo, famili Pomacentridae merupakan salah satu dari enam famili yang paling banyak dijumpai pada saat pengamatan dilakukan (Gambar 16). Jenis ikan ini merupakan jenis ikan yang cenderung berkelompok dalam mencari makan dan tinggal pada daerah terumbu karang dengan tipe pertumbuhan bercabang.

            Kepadatan ikan terumbu terbesar kedua berasal dari famili Apogonidae dengan jenis yang ditemukan adalah Apogon chrysopomus sebanyak 2880 ind/ha. Famili Apogon merupakan jenis ikan yang aktif mencari makan di malam hari, sehingga pada siang hari ikan ini banyak ditemukan di bagian terumbu karang yang terhalang sinar matahari. Seringkali ikan ini terlihat berkelompok dalam jumlah relatif banyak pada saat mencari makan disekitar daerah terumbu karang.

Jenis ikan Chaetodon octofasciatus yang merupakan jenis biota indikator kesehatan terumbu karang juga ditemukan di perairan Selatan Pulau Salemo. Ikan ini memiliki bentuk tubuh yang menyerupai “spade” dengan warna dasar kuning cerah dan terdapat polah garis vertical sebanyak 8 buah di tubuhnya. Ikan yang berasal dari famili Chaetodontidae dapat dijadikan sebagai biota indikator karena jenis ikan tersebut hanya memangsa hewan karang yang masih sehat.

 

Ekosistem Lamun

                Komunitas lamun di Pulau Salemo tumbuh di sekeliling pesisir pantai dengan substrat dasar perairannya yang didominasi oleh pasir.Pengamatan lamun dilakukan di empat titik stasiun pengamatan yang tersebar di sisi selatan, timur, utara, dan barat  Salemo. Berdasarkan hasil pengamatan, Pulau Salemo hanya memiliki tiga dari tiga belas jenis lamun yang ada di Perairan Indonesia yang ditunjukkan oleh Tabel 5.

Tabel 5. Perbandingan Jenis Lamun di Indonesia dan Pulau Salemo

Jenis Lamun

Perairan Indonesia

Pulau Salemo

Cymodocea rotundata

*

*

Cymodocea serrulata

*

-

Enhalus acoroides

*

*

Halodule pinifolia

*

-

Halodule uninervis

*

-

Halophila decipiens

*

-

Halophila minor

*

-

Halophila ovalis

*

-

Halophila spinulosa

*

-

Halophila sulawesii

*

-

Syringodium isoetifolium

*

-

Thalassia hemprichii

*

*

Thalassodendron ciliatum

*

-

Ket: (*) = ada, (-) = tidak ada, Sumber : Kuriandewa et al. (2003) dan Kuo (2007)

 

Pada Tabel 5 terlihat bahwa Pulau Salemo hanya memiliki tiga jenis lamun yang tumbuh di perairan pesisirnya yaituCymodocea rotundata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii. Diantara ketiga jenis lamun ini, Enhalus acoroidesmendominasi dari segi distribusinya karena ditemukan di tiga stasiun pengamatan. Sedangkan, kedua jenis lamun lainnya masing-masing hanya ditemukan di satu stasiun pengamatan saja (Tabel 6).

 

 

Tabel 6. Distribusi jenis lamun di Pulau Salemo

Jenis Lamun

Stasiun Pengamatan

Selatan

Timur

Utara

Barat

Cymodocea rotundata

-

-

-

*

Enhalus acoroides

*

*

-

*

Thalassia hemprichii

-

-

*

-

Ket: (*) = ada, (-) = tidak ada

 

Titik stasiun pengamatan lamun yang pertama berada di sisi selatan Pulau Salemo dekat dengan dermaga. Walaupun didominasi oleh substrat pasir, visibilitas perairan di stasiun ini cukup rendah karena perairannya yang keruh. Pada titik pengamatan ini hanya ditemukan satu jenis lamun saja yaitu Enhalus acoroides.

 


Sumberdaya Non Hayati

Dari hasil survey dan wawancara dengan masyarakat, dipulau ini tidak terdapat sumberdaya non hayati pesisir


Aktivitas Pengelolaan Sumberdaya

Kondisi pertanian dan perkebunan di Pulau Salemo berdasarkan hasil survey dilapangan yang dominan berupa pisang dan kelapa. Buah kelapa dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk dijadikan kopra dan kebutuhan sehari-hari. Selain itu juga ada kebun penduduk yang memanfaatkan pekarangan atau tegalan disekitar pemukiman, berupa ubi kayu, jagung,kacang-kacangan dan nangka untuk dikonsumsi sendiri oleh penduduk pulau.  

Perikanan Tangkap

Pulau Salemo merupakan wilayah yang memiliki  potensi ekologis seperti ekosistem hutan mangrove dan sebagainya. Pulau ini termasuk daerah perlindungan laut (DPL) bersama dengan 2 pulau lainnya yaitu Salemo dan Sagara. Pulau ini juga memiliki beberapa komoditas penting seperti kepiting rajungan, udang, teripang, ikan-ikan ekonomis penting.  Namun demikian ada dugaan bahwa kepiting rajungan sebagai salah satu komoditas penting telah mengalami over eksploitation.

Jumlah nelayan penangkap rajungan di Pulau Salemo sekitar 300 orang. Aktivitas penangkapan kepiting rajungan di pulau ini menggunakan jaring dan bubu, karena sebagian besar nelayan yang beroperasi merasa bahwa penggunaan kedua alat tangkap tersebut tidak memerlukan  biaya  yang  banyak  dalam  usahanya  selama  ini  dan  dua  alat tangkap tersebut merupakan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Selain rajungan hasil tangkapan perikanan lainnya yaitu Kerapu, Bandeng dan udang. Sedangkan alat tangkap yang digunakan yaitu jaring dan pancing.

Perikanan Budidaya

Selain perikanan tangkap, di pulau ini tidak terdapat perikanan budidaya karena memang pulau ini diperuntukkan untuk pemukiman.   

Pengolahan Hasil Perikanan

Aktifitas pengolahan hasil perikanan di pulau Salemo yaitu terdapat  dua perusahaan yang mengolah rajungan dan satu pengelolah ikan teri.

Pariwisata

Jenis wisata yang telah dikembangkan di Pulau ini belum ada karena pulau ini tidak menjadi tujuan wisata.  


Lingkungan

Permasalahan lingkungan di pulau ini adalah banyaknya sampah domestik karena padatnya penduduk di pulau ini. Sampah ini banyak dibuang ke laut. Selain plastik, tumpahan minyak dan air ballast perahu nelayan ikut mencemari perairan pulau ini. Untuk mengatasi masalah pencemaran ini maka penduduk Pulau Salemo perlu dibina bagaimana caranya mengelola sampah yang ramah lingkungan, mengingat Pulau Salemo merupakan pulau kecil yang padat penduduk.

Hasil identifikasi potensi bencana yang berpeluang terjadi terhadap Pulau Salemo adalah sebagai berikut  :

·           Kenaikan paras air laut (kenaikan MSL)

Kenaikan paras air laut merupakan dampak dari pencairan bongkahan es di daerah kutub akibat global warming. Tinggi rata-rata topografi Pulau berkisar antara 0-3 meter diatas permukaan laut.  Hal ini berarti bahwa adanya kenaikan air laut yang belaku secara global ikut menjadi ancaman nyata terhadap Pulau

·           Global warming atau kenaikan suhu merupakan bencana yang mengancam kehidupan laut khusunya terhadap kerusakan ekosistem terumbu karang karena ekosistem ini sangat rentan terhadap perubahan suhu.

·           Abrasi pantai merupakan ancaman terhadap pantai di Pulau Pantai karena substranya umumnya di dominasi oleh substrat pasir. 

·           Gelombang tinggi; gelombang tinggi merupakan fenomena yang dapat terjadi jika terjadi kecepatan angin yang besar dan fetch yang besar pada suatu daerah/pulau.  Pulau Sabangko berpeluang mendapatkan gelombang yang cukup tinggi karena posisi geografis pulau ini terletak di Selat Makassar.

 

 


Sarana dan Prasarana

a.   Sarana Pendidikan

Pulau Salemo yang merupakan pusat pemerintahan Desa Mattiro Baji memiliki sarana pendidikan yang cukup memadai bila dibandingkan dengan pulau-pulau sebelahnya. Sarana pendidikan yang terdapat dipulau ini terdiri dari 1 (satu) SD, 1 (satu) unit SMP dan 1 (satu) unit SMA.

b.  Sarana Kesehatan

Untuk sarana kesehatan, di pulau ini tidak terdapat puskesmas pembantu yang terdiri dari 1(satu) orang bidan, 1 (satu) orang Mantri dan 3 (tiga) orang perawat. Puskesman Pembantu (Pustu) yang terdapat dipulau ini juga melayani penduduk yang menghuni pulau Sbangko dan Sagara

c.   Sarana Ibadah

Agama yang dianut oleh penduduk di Pulau Salemo adalah Islam. Di pulau ini  terdapat 1 (satu) unit mesjid yang terdapat ditengah-tengah perkampungan.

d.  Sarana Transportasi

Kondisi jalan di Pulau Salemo merupakan jalan setapak dengan kondisi jalan sudah dicor. Transportasi antar  pulau  memanfaatkan kapal kayu atau ketinting  yang terdapat di pulau, Selain itu di pulau ini sudah terdapat Dermaga dari kayu dengan kondisi yang kurang terawatt. Adapun Dermada di Pulau ini dapat di lihat dalam dokumentasi yang tardapat pada Gambar 33. berikut.

e.   Sarana Air Bersih dan Sanitasi Lingkungan

Kebutuhan air bersih untuk Mandi dan cuci di Pulau ini diperoleh melalui sumur yang kualitas airnya payau, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air minum, penduduk Pulau Salemo menggunakan air hujan dan air gallon yang di beli dari daratan .Kondisi sanitasi lingkungan disekitar Pulau ini masih perlu ditingkatkan lagi seperti menjaga kebersihan pulau. Fasilitas MCK atau WC dipulau ini sudah cukup memadai karena hampir setiap rumah sudah memiliki MCK.

f.    Sarana Penerangan

Sarana penerangan di Pulau ini adalah listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang beroperasi sekitar lima jam pada malam hari yaitu pada jam 18.00 sampai dengan jam 23.00, dengan iuran sebesar Rp. 90.000 per rumah yang alirkan ke 20 rumah. Selain itu di pulau ini juga terdapat PLTS, tetapi belum beroperasional.

g.  Sarana Pendukung Kepemerintahan

Sarana Pendukung Kepemerintahan di Pulau ini untuk mewadahi kepentingan-kepentingan yang ada di masyarakat khususnya yang berhubungan dengan bangunan kepemerintahan sudah tersedia. Di pulau ini terdapat 1 (satu) unit kantor Desa yaitu Desa Mattiro Baji dan 2 (dua) RT.

h.  Alat Komunikasi dan Pendukung Lainnya

Alat komunikasi yang dapat digunakan di Pulau Salemo adalah jaringan telepon seluler. Sarana jenis komunikasi ini sudah cukup efektif dalam melakukan komunikasi secara umum. Sedangkan untuk menangkap siaran televisi penduduk pulau menggunakan antena parabola atau TV kabel untuk menangkap channel televisi.  Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selain dari daratan, di pulau ini juga terdapat warung-warung yang menyediakan kebutuhan pokok


Peluang Investasi

Peluang investasi yang bisa dikembangkan dipulau ini antara lain :

a.      Budidaya Rumput Laut

b.      Budidaya Kepiting rajungan,

c.      Industri perebusan Kepiting rajungan


Potensi dan Arahan Pengembangan

Potensi Perikanan Tangkap

Pengembangan perikanan tangkap selain rajungan di Pulau ini sangat potensial dilakukan namun harus dilakukan dengan memperhitungkan keberlanjutan sumberdaya ikan melalui upaya-upaya penanggkapan ikan yang ramah lingkungan.  Apabila upaya pernangkapan tidak dikembangkan ke sektor perikanan tangkap selain rajungan, maka secara biologis berbahaya terhadap populasi dan akan menimbulkan kerugian ekonomi. Untuk itu pengaturan dan pengendalian upaya penangkapan sesuai dengan standar upaya optimum perlu dilakukan untuk menjaga keseimbangan biologis dan mencegah terjadinya kerugian usaha nelaya kepiting rajungan

 


Kendala Pengembangan

Kendala pengembangan pulau ini antara lain adalah :

        1.        Ketersediaan sarana dan prasarana yang sangat minim.

2.      Permasalahan sumberdaya listrik yang belum bisa menyala selama 24 jam, masyarakat meminta adanya bantuan tenaga listrik yang bisa menyala 24 jam. Sebab listrik merupakan kebutuhan utama masyarakat khususnya untuk perkantoran, sekolah dan home industri.

3.      Sarana transportasi antar pulau yang masih sangat terbatas yaitu belum ada kapal regular yang berangkat sekali dalam sehari saja menuju daratan Pangkep.

4.      Aksesibilitas dan jaringan jalan di pulau yaitu kondisi jalan setapak.

5.      Masih sulitnya jaringan telekomunikasi yang ada di Pulau.

6.      Kesulitan mengenai dana juga menjadi kendala terpenting untuk melakukan budidaya atau keramba ikan.

7.      Kendala lainnya seperti sarana air bersih dan kontur daerah yang berbukit dan berbatu. Selain itu  terjadinya abrasi dipantai juga menjadi permasalahan tersendiri dalam pengembangan pulau.

 

 


Referensi



Karena keterbatasan SDM dalam penginputan dan pengolahan data, kami mohon maaf atas ketidak lengkapan beberapa data pulau yang kami tampilkan, harap dimaklumi. Berikan keritik dan saran pada kolom komentar agar kita dapat bersama menyajikan sebuah data yang cukup sempurna untuk halayak ramai yang berguna demi kesejahterahan, kelestarian dan keindahan pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia.
*Jika sekiranya anda memiliki data yang cukup banyak, silakan mengirimkan file melalui email kami di identifikasippk@gmail.com