s -- Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan --
Menyusuri Potensi Pulau Bajo
23-07-2013 , Oleh : Angga Pino, Pembaca : 848 Orang
Tak ada yang menyangkal bahwa NTT, khususnya kabupaten Manggarai Barat memiliki banyak pulau yang layak menjadi objek wisata nan indah berkelas dunia. Setiap tahunnya wisatawan lokal maupun turis asing datang untuk berlibur. Fenomena ini kian memuncak ketiga Pulau Komodo dinominasi  kan menjadi The New Seven Wonder.
 
Namun tahukah anda bahwa dari sekian banyak pulau di Manggarai Barat, tak jauh dari  Labuan Bajo terdapat sebuah pulau bersejarah? Di Pulau inilah pertama kalinya para punggawa Bajo, penemu Labuan Bajo bermukim. Dan karena itulah pulau ini dinamakan pulau Bajo. Pulau seluas 73, 49 Ha ini hanya berjarak 200 meter dengan pulau induk (flores) sehingga dapat ditempuh dengan menggunakan perahu kecil selama kurang lebih 10 menit dari Labuan Bajo.
 
Pulau Bajo dilihat dari Bukit di Labuan Bajo
 
Sejarah Pulau 
Bermula pada tahun 1940-an ketika orang-orang dari Goa, Makasar, merantau dan mencari tempat menetap. Pulau Bajo adalah tempat orang-orang bajo tersebut bermukim sedangkan tempat berlabuh kapal-kapal mereka di seberang pemukiman itu kini disebut “Labuan Bajo”. 
 
Dituturkan seorang generasi ke-6 punggawa pulau, bahwa dahulu kala pemukiman di Pulau Bajo yang ditempati nenek moyangnya cukup teratur, terdapat rumah-rumah yang dibangun dari kayu dan jalan dari batu yang disusun debagai penghubung. Sumber air didapat dengan menggali sumur, walaupun air yang didapat adalah air payau. Nenek moyang mereka hidup dengan bercocok tanam dan mencari ikan sebagai nelayan, juga membuat tambak ikan  sebagai tambahan mata pencaharian.
 
Generasi terakhir (ke-5) tinggal di Pulau Bajo sekitar tahun 1941-42 pada jaman penjajahan Jepang di Indonesia. Saat itu terdapat cita-cita penduduk untuk menyekolahkan keturunannya sehingga kemudian satu-persatu mereka pindah ke daratan Flores, Labuan Bajo. 
 
Keindahan Pemandangan di Pesisir Utara Pulau & Area Tambak di Tengah Pulau
 
Menyusuri pulau ini di bagian timur yang berhadapan dengan Labuan Bajo kita langsung disuguhi oleh pemandangan cantik lalu-lintas kapal dari dan menuju Labuan Bajo, udara pantai yang segar menerpa, namun berbalut kesunyian. Ya, Pulau Bajo saat ini hanya dihuni 6 KK nelayan pendatang yang bermukim di bagian utara dan timur pulau, sehingga terasa sangat sunyi. Di bagian ini pula-lah pada sebidang tanah berukuran kurang lebih 50 m2 bersemayam makam punggawa bajo beserta keturunannya, teduh dibawah rimbunnya pepohonan. Sayangnya pemandangan sisi pulau yang memiliki dataran terluas di pulau ini tercemari oleh adanya beberapa bangkai kapal serta sampah-sampah yang sengaja dibuang oleh orang-orang dari luar pulau.
 
Ditengah-tengah pulau terdapat salah satu peninggalan nenek moyang punggawa Bajo, yaitu 3 bidang tambak yang tenang dan teduh. Bagaimana tidak, sekeliling tambak berdiri tegak bukit-bukit berselimutkan ilalang kering, sedang pohon-pohon disisinya menghampar seperti bergoyang menyapa siapa saja yang melintas. Sebegitu tenangnya seakan waktu berhenti berputar, sungguh menenangkan.
 
Bergerak kearah utara yang berbatasan dengan Laut Flores yang saat itu tenang, mata kita dimanjakan oleh pemandangan pesisir pantai yang indah, pasir putih berbatu halus menghampar sebagai tempat berpijak, dan tak jauh dari bibir pantai terdapat 4 rumah panggung penduduk nelayan pendatang dari berbagai etnis yang hidup berdampingan dengan rukun. Musim barat di bulan Desember – Februari adalah saat-saat yang perlu mereka waspadai, sapuan ombak Laut Flores dapat berubah menjadi ancaman yang dapat meluluh-lantakkan rumah mereka. Tak seperti bagian timur pulau yang cukup luas untuk dijelajahi, bagian utara hanya menyisakan sedikit dataran saja untuk dipijak. 
 
Sedangkan bagian barat dan selatan pulau terdiri dari tebing batuan keras menuju daratan dengan sedikit kelompok vegetasi pohon mangrove sehingga sulit untuk ditelusuri.
 
Saat ini Pulau Bajo dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan kapal-kapal nelayan dan kapal wisata karena perairannya yang tenang dapat melindungi kapal dari gelombang dan letaknya yang sangat dekat dengan pusat kota Labuan Bajo. 
 
Penyusuran kondisi eksisting pulau ini mengungkap fakta bahwa sesungguhnya pulau Bajo menyimpan potensi lebih dari sekedar tempat bersandar atau jalur pelayaran stategis berbagai kapal jika dapat dikelola dengan baik.  Beberapa bagian yang dapat dimanfaatkan adalah area tambak di bagian tengah dataran di sisi timur serta pesisir utara pulau. Sedangkan bagian barat dan selatan memerlukan penanganan lebih lanjut untuk pengembangannya mengingat kontur batuan yang keras dan bertebing curam.
 
Bagian utara sangat berpotensi dikembangkan untuk tujuan wisata pantai karena pemandangannya yang indah. Hanya saja memerlukan penanganan khusus mengingat lebar datarannya yang terbatas dan rentan terhadap abrasi. Bagian timur memiliki dataran terluas dibanding sisi lain pulau dapat dikembangkan sebagai daerah wisata pantai atau wisata historis dengan melakukan pemugaran makam para punggawa bajo. Pembangunan dermaga, TPI, atau pemukiman nelayan juga dimungkinkan dengan memperhatikan berbagai aspek serta sarana pendukungnya seperti kebutuhan air bersih dan listrik.
 
Pemanfaatan pulau Bajo harus memperhatikan karakteristik lahan yang ada, melalui rencana tapak/detail pulau yang matang dan penanganan lebih lanjut yang menjamin keselamatan pelayaran serta yang tak kalah penting ialah berbasis kerakyatan. -vd

 

Info Direktorat PPK

MoU